Seniman Ludruk Legendaris Surabaya Cak Sapari Tutup Usia
·waktu baca 2 menit

Surabaya kehilangan salah satu seniman ludruknya yang melegenda, Cak Sapari. Rekan panggung Cak Kartolo ini meninggal Kamis (15/9) pagi.
Kabar duka tersebut dibenarkan istri Cak Kartolo, Kastini. Menurut perempuan yang kerap disapa Ning Tini ini, Cak Sapari sebelumnya mengidap diabetes. Sebelum meninggal dunia, almarhum sempat keluar masuk rumah sakit.
"Sempat dirawat di RSUD Soewandhie, terakhir sebelum meninggal sempat dirawat di RSUD Dr Soetomo lalu minta pulang. Cak Sapari meninggal di rumah," ujar Ning Tini saat dihubungi Basra, Kamis (15/9).
Diungkapkan perempuan yang juga seniman ludruk ini jika jenazah Cak Sapari dimakamkan di pemakaman Dukuh Kupang, sesuai amanat almarhum.
"Minta dimakamkan di sebelah makam ibunya di pemakaman Dukuh Kupang. Itu permintaan Cak Sapari yang disampaikan ke anak-anaknya," jelas Ning Tini.
Selain sebagai rekan kerja, bagi Ning Tini, Cak Sapari sudah seperti keluarga. Bersama Cak Kartolo, Ning Tini dan Cak Sapari kerap tampil satu panggung sejak tahun 1980an.
"Sudah seperti keluarga sendiri ya. Kita ada kaset pertama tahun 1980an bersama Cak Kartolo. Kita sudah tidak pernah satu panggung lagi itu baru-baru ini saja, sebelum pandemi itu. Sebelumnya selalu bareng," tuturnya.
Menurut Ning Tini, mendiang Cak Sapari merupakan sosok yang ramah dan selalu guyon (melucu) saat bersama siapa pun.
"Apalagi kalau sudah ketemu teman-temannya, pasti guyonan orangnya. Pas dirawat di rumah sakit itu saja minta pulang kok, mau nyangkruk sama teman-teman katanya," tukasnya.
