Siswi SD Dipalak Jadi Buta, Komnas PA Surabaya: Cek Perilaku Ortu Terduga Pelaku

Konten Media Partner
18 September 2023 7:15 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ketua Komnas PA Kota Surabaya Syaiful Bahri saat melakukan sosialisasi stop kekerasan di sekolah, di salah satu sekolah di Surabaya. Foto: Masruroh/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Komnas PA Kota Surabaya Syaiful Bahri saat melakukan sosialisasi stop kekerasan di sekolah, di salah satu sekolah di Surabaya. Foto: Masruroh/Basra
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Tindak kekerasan yang menimpa seorang siswi SD di Gresik hingga menyebabkan buta permanen menjadi bukti bahwa saat ini tindakan bullying di sekolah sudah cukup memprihatinkan. Sekretaris Umum Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) Provinsi Jawa Timur, Syaiful Bahri, tak menampik jika tren bullying di sekolah cukup meningkat.
ADVERTISEMENT
"Iya, trennya memang naik," tegas Syaiful saat dihubungi Basra, Minggu (17/9) malam.
Syaiful mengungkapkan lingkungan rumah yang tidak kondusif bisa menjadi salah satu penyebab seorang anak menjadi pelaku bullying.
"Untuk kasus yang di Gresik ini harus ditelusuri latar belakang keluarga dari terduga pelaku. Karena seorang anak itu biasanya mengamati dan mencontoh perilaku orang tua di rumah. Mengapa dia bisa berbuat seperti itu? Apakah memang dia merasa tidak nyaman di rumah atau bagaimana?" jelas Syaiful.
Syaiful menegaskan awal anak bahagia tercipta dari lingkungan rumah. Dengan demikian orang tua harus betul-betul memahami anak.
"Kenali dan pahami anak, itu yang harus dilakukan orang tua. Anak itu mengamati dan mencontoh perilaku yang dilihatnya. Apalagi sekarang akses internet untuk anak-anak cukup mudah. Kuatirnya anak-anak itu sering melihat aksi-aksi kekerasan melalui internet," terang pria yang juga Ketua Komnas PA Kota Surabaya ini.
ADVERTISEMENT
Syaiful menuturkan, untuk meminimalisir terjadinya bullying di sekolah, pihaknya cukup gencar melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah dengan menggandeng sejumlah instansi terkait.
"Perlu satu gerakan bersama untuk memutus mata rantai kekerasan terhadap anak untuk membuat generasi Indonesia cemerlang, seperti slogan di Hari Anak Nasional 2023, yakni Anak Terlindungi Indonesia Maju," tukasnya.
"Saya memohon dan berdoa semoga kejadian di Gresik ini menjadi yang terakhir kali, tidak terulang lagi di masa yang akan datang," pungkasnya.