Konten Media Partner

Termometer Berbasis Suara, Bantu Siswa Tuna Netra Lakukan Praktik Ukur Suhu

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Termometer berbasis suara yang khusus dirancang untuk membantu pelaksanaan praktikum siswa tuna netra.
zoom-in-whitePerbesar
Termometer berbasis suara yang khusus dirancang untuk membantu pelaksanaan praktikum siswa tuna netra.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil merancang sebuah termometer berbasis suara sebagai sarana praktikum siswa tuna netra dalam mengukur temperatur ketika pembelajaran.

Azzah Dyah Pramata ST MT MEng PhD, salah satu anggota tim menjelaskan, termometer yang digagas oleh timnya ini dapat memunculkan suara secara otomatis sesuai temperatur hasil pengujian ketika digunakan.

Sehingga orang yang melakukan pengujian cukup mendengarkan suara dari termometer tersebut.

"Bagi siswa yang mengalami keterbatasan, termometer ini akan sangat membantu mereka dalam melakukan pengukuran temperatur. Sehingga semua siswa bisa mendapatkan akses yang sama dalam pembelajaran,” ungkap dosen dari Departemen Teknik Material dan Metalurgi ini, Rabu (23/12).

Terkait cara kerjanya, Azzah menjelaskan, sensor pada termometer akan mendeteksi besar temperatur dalam jangkauan 0-100 derajat celcius.

Azzah Dyah Pramata mempraktikan cara menggunakan termometer berbasis suara.

Selanjutnya, perangkat arduino akan memberikan perintah untuk mengaktifkan suara sesuai dengan besaran temperatur yang dideteksi.

Sementara terkait desain pada termometer, Azzah menyebut jika banyak aspek yang harus diperhatikan. Diantaranya dari segi keamana dan sisi ergonominya.

"Karena penggunanya tidak bisa melihat, jadi setiap tombol yang ada dibuat sesederhana mungkin dan berbeda bentuknya. Sehingga hal tersebut akan memudahkan mereka dalam membedakan fungsinya ketika diraba-raba," ucapnya.

Kini, inovasi tersebut telah dilakukan uji coba di Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa A (SMPLB-A) Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta (YPAB) Surabaya.

Azzah pun berharap adanya termometer tersebut dapat menunjang kurikulum pendidikan bagi tuna netra.

"Pasalnya, siswa tuna netra selama ini masih menggunakan termometer raksa yang harus dibantu dengan orang lain untuk melihat hasil pengukurannya. Dengan termometer ini, anak-anak bisa melakukan pengukurannya sendiri,” pungkasnya.