Terobsesi Kurus, 42 Persen Remaja Putri di 10 Kabupaten Jatim Alami Anemia

Kondisi anemia atau kekurangan kadar hemoglobin di dalam darah masih jadi salah satu masalah kesehatan yang perlu diperhatikan para remaja putri. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur, 42 persen remaja putri di 10 kabupaten di Jatim mengalami anemia.
"Hal itu menunjukkan anemia menjadi masalah serius bagi remaja putri dan harus diwaspadai," ujar Edy Suroso, Seksi Kesehatan KGM (Keluarga dan Gizi Masyarakat) Dinkes Jatim, kepada Basra, Senin (2/3).
Edy menuturkan, remaja putri sekarang ini lebih mengikuti prinsip 'kutilang' (kurus tinggi dan langsing) tanpa memperhatikan asupan gizi yang penting bagi tubuhnya. Kondisi ini kian diperparah dengan maraknya makanan kekinian yang kerap mengabaikan kandungan gizi secara tepat.
"Pola hidup yang katanya kekinian justru menjauhkan anak-anak dari asupan gizi yang penting bagi tubuh, misalnya kurang makan sayur dan buah," tegas pria berkacamata ini.
Edy menjelaskan, remaja putri lebih berisiko mengalami anemia dibanding remaja laki-laki. Hal ini karena asupan zat besi tidak hanya digunakan untuk mendukung pertumbuhan, tetapi juga digunakan untuk mengganti zat besinya yang hilang melalui darah yang keluar setiap remaja putri mengalami menstruasi setiap bulan.
Anemia pada remaja berdampak buruk terhadap penurunan imunitas, konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran remaja dan produktivitas.
"Anemia yang dialami remaja putri juga akan berdampak lebih serius, mengingat mereka adalah para calon ibu yang akan hamil dan melahirkan seorang bayi, sehingga memperbesar risiko kematian ibu melahirkan, bayi lahir prematur dan berat bayi lahir rendah," jelas Edy.
Ciri-ciri anemia yang paling umum, dan hampir pasti dialami oleh setiap orang yang memiliki anemia termasuk ciri-ciri anemia pada remaja, diantaranya kelelahan, kulit pucat, mudah pusing, dan sakit kepala.
Menangani kasus anemia yang masih tinggi di kalangan remaja putri, kata Edy, pemerintah sejatinya telah melakukan beberapa langkah, salah satunya pemberian tablet tambah darah melalui sekolah.
Namun cara tersebut dikatakan Edy masih belum efektif menekan tingginya angka anemia di kalangan remaja putri.
"Tablet tambah darah yang dibagikan di sekolah seharusnya langsung diminum, tapi kan kenyataan di lapangan tidak seperti itu. Banyak anak-anak remaja yang malah dibawa pulang, sampai rumah lupa mengonsumsinya," ujar Edy.
Pemerintah pun rutin menggelar seminar kesehatan dengan menyasar anak-anak muda. Ini dilakukan untuk menggugah kesadaran mereka tentang pentingnya asupan gizi yang benar bagi tubuh.
Anemia sendiri dapat dihindari dengan konsumsi makanan tinggi zat besi, asam folat, vitamin A, vitamin C, dan zink.
"Kacang merah, kerang, dan bayam merupakan contoh makanan yang bagus dikonsumsi untuk mencegah anemia," pungkas Edy.
