The Architecture of Love, Ajarkan Bangkit dari Keterpurukan Akibat Kehilangan

Konten Media Partner
1 Mei 2024 16:13 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Para pemeran film The Architecture of Love saat jumpa pers di Surabaya, Selasa (30/4) sore. Foto: Masruroh/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Para pemeran film The Architecture of Love saat jumpa pers di Surabaya, Selasa (30/4) sore. Foto: Masruroh/Basra
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Kehilangan bisa dialami siapa saja dalam hidupnya. Berjuang untuk bisa kembali bangkit setelah kehilangan menjadi hal yang tak mudah. Pesan moral ini terselip dalam film bergenre romansa karya anak bangsa, The Architecture of Love.
ADVERTISEMENT
Pemeran utama dalam film ini, Nicholas Saputra, mengungkapkan kehilangan hingga berakibat pada kesehatan mental memang jadi tema yang paling kuat dalam film yang tengah tayang di bioskop tersebut.
Sementara itu, Putri Marino menuturkan jika kehilangan menjadi sesuatu yang tidak mengenakkan dalam hidup.
"Kehilangan itu gak enak. Siapa sih yang mau kehilangan sesuatu hal yang sangat berharga di kehidupan kita," ujar Putri Marino yang berperan sebagai
Raia.
Putri Marino mengatakan, setiap orang untuk mengatasi kehilangan atau trauma dalam hidupnya, butuh waktu yang berbeda. Ada yang bisa cepat, namun ada pula yang butuh waktu bertahun-tahun untuk mengatasinya.
"Kalian sendiri yang tahu, kalian yang tahu bagaimana menghadapi kehilangan itu. Kalian yang tahu diri kalian seperti apa. Semua akan baik-baik saja pada ujungnya, akhirnya. Jadi nikmati prosesnya," tandasnya.
ADVERTISEMENT
Film The Architecture of Love diangkat dari novel best seller dengan judul yang sama karya Ika Natassa.
Film ini berkisah tentang Raia (Putri Marino) seorang penulis buku ternama. Namun, ia memilih melarikan diri ke New York dan menginap di apartemen sahabatnya, Erin. Raia yang baru bercerai dari sang suami, Alam (Arifin Putra), memutuskan pindah ke New York. Rasa sakit akibat perceraian membuat Raia kehilangan inspirasi untuk menulis.
Suatu hari, Raia tidak sengaja bertemu dengan River (Nicholas Saputra), seorang arsitek asal Jakarta yang ternyata juga kabur ke New York untuk menghindari masa lalu menyakitkan. River memilih hijrah ke New York setelah kecelakaan maut yang dialaminya hingga menewaskan sang istri.
River banyak mengajarkan hal-hal baru kepada Raia, termasuk cara melihat New York dari sudut pandang berbeda.
ADVERTISEMENT
Mereka menjadi dekat dan menjalin pertemanan. Namun, kedekatan mereka bagai pedang bermata dua. Di satu sisi, mereka bisa saling menyembuhkan, tapi di sisi lain, mereka juga bisa saling mengorek trauma.