Konten Media Partner

Tokoh Ludruk Surabaya Bikin Film Kartolo Numpak Terang Bulan

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Legenda hidup seniman ludruk kota Surabaya, Kartolo (pakai batik). Foto: Masruroh/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Legenda hidup seniman ludruk kota Surabaya, Kartolo (pakai batik). Foto: Masruroh/Basra

Film bergenre komedi karya arek-arek Suroboyo, Kartolo Numpak Terang Bulan, segera tayang di jaringan bioskop nasional mulai 14 Maret mendatang. Selain merupakan karya arek-arek Suroboyo, film yang dibintangi legenda hidup ludruk Surabaya ini juga berlatar kota Surabaya.

Menurut M. Ainun Ridho, produser sekaligus sang sutradara film Kartolo Numpak Terang Bulan, Cak Kartolo adalah ikon komedian ludruk paling tersohor di Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya.

"Daya juang dan konsistensinya menjaga kesenian ludruk dan menghibur masyarakat luas, layak mendapatkan penghormatan setinggi-tingginya," terangnya usai Gala Premiere, Jumat (8/3) malam.

Ditemui usai Gala Premiere, Cak Kartolo mengaku bangga menjadi bagian dari proses produksi film tersebut. Ia berharap, film-film yang mengangkat lokalitas seperti ini terus di produksi.

"Kalau bisa terus diproduksi film Surabaya asli seperti ini supaya anak-anak Surabaya bisa menggaung," tandasnya.

Sinopsis Kartolo Numpak Terang Bulan

Di pelosok Kota Surabaya hiduplah seorang pria bernama Cak Kartolo, duda tua yang membuka kost untuk mahasiswa. Ada empat mahasiswa yang menghuni kost tersebut. Mereka adalah Simon dari Papua, Yusuf dari Makassar, Mat dari Tulungagung, dan Boncel dari Malang.

Tetangganya, Ning Tini memiliki status janda beranak satu, Jon. Di depan rumah ada warkop Cak Sapari dan istrinya, mbak Dewi. Ada pula hansip Bendoyo yang kurang pendengarannya.

Suatu hari Cak Kartolo jatuh sakit. Kemudian datanglah putrinya, Sari, yang tinggal bersama mantan istri Cak Kartolo di Jakarta. Kecantikan Sari membuat empat anak kos bersaing untuk mendapatkannya.

Jon, yang merupakan teman masa kecil Sari, bahkan dilarang datang lagi. Bagaimana akhir persaingan mereka? Sembuhkah Cak Kartolo dari sakitnya dan bisa berdamai dengan Sari?