Konten Media Partner

Tren Adopsi Boneka Arwah, Psikologi: Harus Rasional

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Pixabay.

Akhir-akhir ini, tren adopsi spirit doll atau boneka arwah menjadi perbincangan hangat di masyarakat.

Pasalnya, banyak selebritis Tanah Air yang mengadopsi spirit doll dan menjadikannya seperti makhluk hidup, hingga merawat para boneka arwah layaknya seorang bayi.

Misalnya saja seperti desainer kondang Ivan Gunawan dengan spirit doll-nya yang bernama Eqqel, hingga Celline Evangelista dengan boneka bayi laki-laki bernam Joseph.

Melihat fenomena tersebut, Prof. Dr. Nurul Hartini, S.Psi., M.Kes., Psikolog, menyebut bahwa tindakan tersebut telah mengarah kepada perilaku yang tidak wajar.

“Ketika seseorang menganggap boneka tersebut hidup dan percaya bahwa mereka akan bertumbuh besar, maka hal itu telah keluar dari batas akal sehat. Perilaku tersebut menjadi keanehan tersendiri yang disebabkan oleh berbagai faktor,” kata Prof. Nurul, Jumat (7/1).

Salah satu faktor yang mungkin ada yakni bisa jadi mereka hanya mencari sensasi agar popularitasnya naik. Meskipun demikian, segala sesuatu tetap ada batasnya agar tidak merugikan kesehatan mental.

“Karena apabila perilaku tersebut dibiarkan terjadi secara terus-menerus, maka akan berdampak terhadap kondisi kesehatan mental seseorang. Jika ketidakwajaran itu tidak segera dihentikan, maka berisiko pada keadaan psikopatologinya (ketidakstabilan fungsi kejiwaan yang meliputi indera, kognisi, dan emosi). Segala kondisi berisiko harus ditangani sedini mungkin agar tidak semakin sulit untuk mengembalikan kepada kondisi yang rasional dan realistis,” jelas Dosen FPsi Unair ini.

Pixabay

Menurutnya, bagi sebagian orang, boneka dapat menjadi strategi pemulihan mental (coping stress). Misalnya ketika seseorang pernah kehilangan anaknya, maka boneka dapat menjadi terapi psikologis bagi mereka.

"Karena secara psikologis juga, boneka bisa menjadi sarana penyegaran pikiran bagi individu selama tidak berlebihan dan harus tetap di bawah pendampingan dari psikolog atau psikiater,” ungkap Prof. Nurul.

Akan tetapi terlepas dari manfaat tersebut, sejatinya boneka hanyalah benda mati. Mereka hanya menjadi perangkat yang tidak memiliki hal-hal khusus, kecuali hanya pengaruh dari perlakuan sang pemilik.

Prof. Nurul pun menghimbau agar kita mencari tahu alasan ketika kita memperlakukan boneka secara spesial. Apabila mengarahkan kepada perilaku negatif yang melampaui batas kewajaran, maka harus segera dihentikan agar tidak terjebak pada situasi yang kurang sehat, baik secara psikologis maupun mental.

Sebagai orang yang mungkin dekat dengan individu yang berperilaku di luar batas tersebut, tkita memiliki kewajiban untuk membantu mereka.

Prof. Nurul menyarankan agar terlebih dahulu kita menanyakan penyebab mereka untuk bertindak demikian. “Selagi jawabannya masih rasional, ya tidak apa-apa,” lanjutnya.

Lain halnya ketika ketidakwajaran semakin jelas terlihat, yakni benar-benar menganggap boneka tersebut hidup, maka kita dapat memberi nasihat bahwa perilaku mereka mulai mengkhawatirkan.

Jika masih tidak ada perubahan, maka kita dapat membantu mengarahkan mereka untuk datang ke psikolog atau psikiater.

“Kuncinya adalah rasional, realistis, dan proporsional. Selama tiga hal itu terpenuhi, maka kita senantiasa objektif dalam memikirkan, merasakan, dan melakukan segala hal,” pungkasnya.