Konten Media Partner

Tren Fotografi Lari, Senang Punya Konten Pribadi, Tapi Privasi di Tempat Umum?

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tren Fotografi Lari, Senang Punya Konten Pribadi, Tapi Privasi di Tempat Umum?
zoom-in-whitePerbesar

Gelaran kompetisi lari memang sedang banyak-banyaknya di Indonesia. Tak bisa dipungkiri bila kegiatan fun run juga membawa berkah untuk kalangan pengabdi momen alias fotografer.

Dalam tiap fun run hampir mudah ditemui sejumlah fotografer ikut berjaga di lintasan lari demi bisa mendokumentasikan ekspresi pelari dari segala angle.

Tommy, salah satu pelari asal Lamongan, Jawa Timur, yang berdomisili di Surabaya mengaku senang bisa mendapati fotonya di platform fototografi lari seperti Fotoyu.

“Ini sangat menarik dan saya punya dokumentasi foto lari dengan kualitas bagus dan harga terjangkau. Saya setiap lari melewati rute-rute ikonik Surabaya pasti ada beberapa fotografer yang rela bangun pagi untuk mengambil foto dikawasan tersebut, usai lari muncul pemberitahuan dari aplikasi kalau ada foto masuk bagi pelari yang sudah melakukan pendaftaran di aplikasi, salah satunya dengan scan wajah,” ujarnya.

Kegiatan ini sangat disambut baik oleh fotografer Surabaya, salah satunya Sahirol Layeli, yang sudah menekuni ini sejak awal tahun 2024 total 42 acara Fun Run ia ikuti saat digelar di Surabaya. Ia mengaku mendapat tambahan penghasilan yang besar setiap minggunya dengan menjual foto-foto pelari tersebut, bahkan sampai menjadi pelanggan tetap hingga kini.

“Foto saya pernah dibeli sama Walikota Surabaya, Eri Cahyadi bersama istrinya saat mengikuti acara lari beberapa minggu lalu, saya juga baru mengetahui kalau pak Wali punya akun Fotoyu, karena setiap foto akan mendeteksi wajah pelari dan kaget fotoku dibeli seharga 50.000 untuk satu foto. Ini yang membuat semangat saya terus menyala untuk setiap pagi nongkrong di spot favorit pelari saat ada Fun Run atau hari-hari biasa,” ujarnya sembari edit beberapa foto pelari untuk segera dikirim.

Selain itu, Sahirol juga menambahkan terkait pro dan kontra kegiatan fotografi lari ini ternyata masih terdapat beberapa orang yang enggan untuk difoto di beberapa tempat umum. Menurutnya, perihal ini juga perlu dipertimbangkan bagi fotografer untuk menghargai privasi dari pelari tersebut jika tidak berkenan jangan memaksa.

“Saya sering motret di lapangan Bogowonto Surabaya, beberapa waktu lalu sempat ada larangan dari pihak pengelola karena aktivitas foto tersebut dikhawatirkan menganggu privasi pelari. Semenjak tidak ada fotografer disitu jadi menurun jumlah pelarinya dan setelah diperbolehkan kembali peminatnya bertambah dan semakin ramai. Selain itu, kita perlu menghormati mereka (pelari) saat berlari dan memberikan sapaan yang ramah,” imbuhnya.

Harga foto yang ditawarkan juga bervariasi dan tidak ada batasan dari pihak aplikasi, mulai Rp 10.000 hingga Rp 120.000 tergantung dari jenis kegiatannya dan permintaan khusus dari pelari untuk editing. Harga tinggi biasanya untuk acara lari dengan skala internasional yang sudah mempunyai nama besar dan para pelari tersebut dipastikan memburu fotonya.

Perihal tersebut diutarakan Setiawan, penggiat Fotoyu dari Surabaya yang kerap mendapatkan pesanan khusus dari pelari untuk mendokumentasikan kegiatannya tersebut.

“Ada beberapa event lari besar di Surabaya Ketika sudah upload di fotoyu ada pesan masuk pribadi untuk mengubah atau membuat foto tersebut menjadi lebih bagus, mereka cocok dengan harganya ya kita maksimalkan. Bahkan, terdapat juga pelari yang pesan khusus untuk menghilangkan orang-orang disekitarnya agar terlihat sendirian,”ujarnya.

Di sisi lain, Setiawan juga menambahkan bagaimana foto tersebut dapat menarik perhatian pembeli, salah satunya dengan titik lokasi yang berbeda dengan fotografer lainnya saat hunting foto. Ini menjadi prioritas bagi pelari jika ingin mendapatkan angle yang berbeda dari fotografer untuk membeli fotonya.

“Di bawah tepi jalan sudah banyak fotografer, untuk itu saya lebih memilih dari atas jembatan biar berbeda dan mendapatkan hasil foto dengan latar belakang aspal yang bersih, ternyata setelah beberapa kali saya melakukannya fotonya disukai dan dibeli oleh beberapa pelari,” ujarnya saat memotret dari Jembatan Penyebrangan Orang Gubernur Suryo Surabaya.

Tata Kota Surabaya yang rapi dan modern menjadikan lokasi tersebut tempat ikonik bagi pelari, seperti Citraland, Tunjungan Loop, Car Free Day (CFD) dan beberapa tempat lainnya. Perihal ini, menjadikan foto yang dihasilkan oleh para fotografer tersebut Eye Cathcing ditambahkan gerakan pelari yang ekspresif. (Dipta Wahyu)