Konten Media Partner

Valerie, Pengacara yang Juga Atlet Karate: Emosi Jadi Lebih Terkendali

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Valerie Angelina, pengacara muda di Surabaya yang juga atlet karate. Dengan karate, Valerie mengaku bisa lebih mengendalikan emosi. Foto: Masruroh/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Valerie Angelina, pengacara muda di Surabaya yang juga atlet karate. Dengan karate, Valerie mengaku bisa lebih mengendalikan emosi. Foto: Masruroh/Basra

Terlahir dari keluarga karateka menjadikan Valerie Angelina (22) akrab dengan seni bela diri asal Jepang tersebut. Pengacara muda di Surabaya ini mengenal karate sejak duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Dengan menjadi atlet karate dia juga bisa belajar mengendalikan emosi.

"Awalnya pasti agak ngeri ya, anak kecil dengar kata karate pasti udah keder (takut). Tapi karena papa pelatih karate, mama juga, jadilah saya juga bersinggungan dengan dunia ini. Mau tidak mau akhirnya kenal juga dengan yang namanya karate," ujar Valerie kepada Basra, Selasa (3/11).

Terjun menjadi atlet karate menjadikan Valerie tak lagi memandang angker seni bela diri ini. Bahkan Valerie mengakui jika karate merupakan seni bela diri yang menyenangkan. Apalagi ketika Valerie berhasil memenangkan kompetisi karate, rasa bangga pun membuncah dalam dirinya.

Ketika berlatih karate, Valerie tak memungkiri jika tak luput dari cedera. Namun sejauh ini Valerie bersyukur cedera yang dialami tidak parah.

"Kita kan body contact jadi kalau kena serangan ya pasti, tapi kita kan juga diajari cara menimalisir serangan lawan. Jadi cedera enggak parah-parah banget," ujar sulung dari dua bersaudara ini.

Valerie Angelina, belajar karate sejak masih Taman Kanak-kanak. Foto: Dok. Pribadi

Terkait penghargaan yang pernah disabetnya, Valerie telah merengkuhnya dari kompetisi dasar hingga tingkat se Jawa Timur Bali. Salah satunya Juara 1 Kejurda Antar Dojo se Jawa Timur di tahun 2015. Valeri sendiri aktif mengikuti kompetisi karate sejak duduk di bangku SMP.

Selain kemampuan menjaga diri, melalui karate Valerie juga diajarkan kedisiplinan dan mengelola emosi. Pada suatu pertandingan bela diri karate, kata Valerie, seorang atlet harus berjuang sendiri dalam meredakan maupun membangkitkan emosinya, serta mengendalikannya dengan baik pada saat bertanding.

"Banyak kegagalan yang dialami oleh seorang atlet yang disebabkan atlet tersebut tidak dapat memanfaatkan dan mengontrol perubahan emosi yang terjadi pada dirinya," tukas pemegang sabuk hitam ini.

Ajaran untuk mengendalikan emosi yang didapat selama menekuni karate, diakui Valerie sangat bermanfaat ketika dirinya memasuki dunia kerja.

"Dunia kerja tidak sama dengan saat kita masih kuliah. Kalau emosi kita tidak benar-benar siap, kita bisa stres saat pertama kali memasuki dunia kerja. Emosi saya bisa terkendali karena sudah ada pengajaran dari karate," jelas Valerie.

Dengan menjadi atlet karate, Valerie juga ingin menunjukkan jika perempuan itu tidak lemah. Hanya karena memiliki sifat lembut maka banyak yang menilai perempuan lemah dan sering jadi korban bullying.

"Dengan ilmu bela diri, kita sebagai perempuan dapat menjaga diri, salah satunya dari sasaran bullying," tegas Valerie.