Konten Media Partner

Viral Pak Ribut Jelaskan Kaum Sodom ke Murid, Ini Kata Psikolog

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tangkapan layar saat Pak Ribut berbincang dengan muridnya terkait kaum Sodom.
zoom-in-whitePerbesar
Tangkapan layar saat Pak Ribut berbincang dengan muridnya terkait kaum Sodom.

Seorang guru di Lumajang yang akrab dipanggil Pak Ribut menjadi viral di media sosial. Hal itu lantaran Pak Ribut dalam sebuah unggahan di media sosial sempat menyinggung soal seksualitas yang dianggap belum pantas dilontarkan kepada anak di bawah umur.

Dalam unggahan video tersebut Pak Ribut juga berinteraksi dengan muridnya terkait kaum Sodom, yakni kaum yang menyukai sesama jenis. Pak Ribut terlihat membahas soal gay dan lesbian dengan muridnya.

Dr. Ike Herdiana, M.Psi.,Psikolog sekaligus Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya angkat bicara terkait pendidikan seksual kepada anak di bawah umur (Sekolah Dasar).

"Anak usia SD sudah boleh dong diberi edukasi tentang seksual. Pengertian seksual disini tidak harus sama dengan seksualitas yang dipahami orang dewasa. Seksualitas tidak selalu terkait dengan perilaku seksual/hubungan seksual," tegas Ike, saat dihubungi Basra, Jumat (25/3) malam.

Lebih lanjut dituturkan Ike, bagi anak-anak penting untuk memahami tentang gender, apa perbedaan laki-laki dan perempuan, bagaimana meningkatkan awareness tentang tubuh mereka, menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh, berhati-hati terhadap hal-hal yang mengganggu keamanan tubuh mereka, tidak boleh telanjang sembarangan, menjaga diri saat sedang ada di toilet umum, dan lain sebagainya. Sehingga penting sekali bagi anak-anak diedukasi terkait seksualitas.

"Salah satunya agar mereka memahami tubuh mereka dan mampu menjaganya dengan baik. Sehingga salah satunya nantinya akan terhindar dari pelecehan seksual," imbuhnya.

Namun Ike tak menampik jika edukasi seksual kepada anak di bawah umur masih dianggap hal yang tabu. Hal ini karena masyarakat Indonesia yang memegang erat budaya ketimuran. Sehingga harus lebih berhati-hati bicara tentang seksualitas apalagi kepada anak-anak.

Di sisi lain, lanjut Ike, keingintahuan anak-anak terhadap isu seksualitas juga bisa saja tinggi. Misalnya, anak-anak sering mencetuskan pertanyaan tiba-tiba seperti 'Bagaimana cara bikin adik?' atau 'Bagaimana bayi keluar dari perut ibu?'.

"Tentu saja keingintahuan itu kan membutuhkan respon yang positif dan tepat bagi anak-anak. Sebagai orang tua, kita dapat memberikan penjelasan sesuai dengan usia/perkembangan anak dan bahasa yang sederhana juga mudah dipahami oleh anak," jelasnya.

Menurut Ike, pada anak-anak yang usianya sama saja belum tentu mereka memiliki kecepatan dan ketepatan memahami yang sama. Jadi harus betul-betul melihat kesiapan dan kemampuan anak mencerna juga. Menjawab apa adanya saja, namun ingat bahasanya harus yang anak pahami.

"Misalnya dengan menjawab 'Adik bayi berada dalam rahim mama selama 9 bulan dari kecil sekali sampai agak besar dan siap dilahirkan' dan pasti akan dilanjutkan anak dengan pertanyaan 'Keluarnya dari mana?"

Bagi anak-anak yang sudah SD, lanjut Ike, boleh menjawab adik bayi lahir dari organ yang namanya vagina sambil menunjuk pada organ tersebut. Kemudian memberikan informasi lainnya yang related, misalnya organ tersebut hanya dimiliki oleh perempuan dan hanya perempuan yang sudah dewasa dan menikah yang bisa memiliki adik bayi.

"Nanti ujung-ujungnya orang tua bisa bilang 'Oleh sebab itu penting bagi kita semua menjaga kebersihan diri, vagina, dan bagian tubuh lainnya supaya sehat'," tandasnya.

Menurut Ike, anak SD bisa diajak bicara tentang seksualitas, namun harus juga melihat kesiapan anak, kemampuan anak memahami dan keingintahuan anak batasnya sampai mana.

Dikatakan Ike, informasi seksualitas anak SD jaman sekarang lebih pada bagaimana caranya menjaga diri, menjaga tubuh, menghormati hak tubuh orang lain, hati-hati dengan keadaan telanjang. Bahkan secara kontekstual boleh mengajarkan bagaimana menggunakan media sosial yang baik agar terhindar dari pelecehan seksual, ketidaktahuan dampak membagi foto atau gambar-gambar.

"Setelah itu anak-anak mulai kita persiapkan untuk menghadapi masa pubertas yang biasanya ditandai dengan menstruasi pada perempuan, mimpi basah pada laki-laki. Yang penting ajak anak bicara dengan nyaman, aman dan santai. Minta anak terbuka jika ada hal-hal yang ingin ditanyakan seputar hal tersebut. Katakan bahwa hal tersebut bisa dibicarakan dengan ibu atau ayah terlebih dahulu, jangan mencarinya sendiri di tempat lain (internet atau pada orang dewasa lain yang tidak ada hubungan keluarga)," paparnya.

Terkait pembahasan kaum Sodom yang diperbincangkan Pak Ribut dengan muridnya, Ike menegaskan jika edukasi seks harus menyesuaikan dengan kondisi anak, kesiapan anak maupun perkembangan kognitif/pemahaman anak.

"Juga tahapan perkembangan anak berdasarkan usia. Kalau untuk anak SD saya menyarankan informasi-informasi seperti yang saya sampaikan di atas. Bagaimana anak menjaga diri, meningkatkan awareness atas tubuh mereka, menghormati hak tubuh orang lain. Itu sebagai dasar," pungkasnya.