Konten Media Partner

Waspada Kutil Kelamin, Tumor Jinak yang Sering Kambuh di Area Kelamin

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi kutil. Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kutil. Pixabay

Infeksi virus human papillomavirus (HPV), tidak hanya menyebabkan kanker serviks saja. Namun, juga dapat menyebabkan masalah kesehatan lain di daerah sensitif. Salah satunya yakni kutil kelamin atau kondiloma akuminata.

Dr. dr. Afif Nurul Hidayati, SpKK (K), FINSDV, FAADV mengatakan, kutil kelamin adalah kondisi munculnya benjolan kecil disekitar area kelamin dan dubur.

Ia mengungkapkan, jika penyakit ini disebabkan oleh virus HPV, terutama virus HPV 6 dan 11. Penyakit ini bisa dialami oleh siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan.

"Kutil kelamin ini merupakan infeksi menular seksual, jadi hanya bisa terinfeksi melalui hubungan seksual. Tapi penyebabnya sendiri oleh virus HPV," kata Dr. Afif pada Basra, Jumat (19/11).

Dr. Afif menuturkan, jika kutil kelamin ini merupakan tumor jinak. Meskipun benjolan dapat dihilangkan, benjolan tersebut juga sering kambuh atau muncul kembali.

"Meskipun sudah hilang bisa timbul lagi. Ini yang sering membuat frustasi penderita kutil kelamin, ya sering kambuh itu," tuturnya.

Dr. dr. Afif Nurul Hidayati, SpKK (K), FINSDV, FAADV.

Terkait gejala dari kutil kelamin, dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin di RS Unair ini menjelaskan, bagi perempuan biasanya akan mengalami keputihan, sementara pada laki-laki keluar cairan putih dari kelamin yang tidak normal.

"Lalu da luka di sekitar kelamin dan anus. Ada benjolan atau bintil-bintil juga. Bisa juga di saluran kencing. Bagi wanita bisa sampai ke leher rahim," ucapnya.

Untuk mengatasi hal itu, Dr. Afif mengatakan perlu dilakukan pemeriksaan klinis apakah itu kutil kelamin atau tidak.

Selain itu, bentuk pencegahan lain yang bisa dilakukan yakni melakukan vaksinasi HPV baik bagi laki-laki maupun perempuan. Karena dengan vaksinasi tersebut dapat mencegah penularan.

"98 persen tidak tertular (kalau vaksin dan belum terinfeksi). Kemudian yang sudah terkena dan akhirnya vaksin kemungkinan untuk kambuh turun jadi 70 persen dibandingkan yang tidak vaksin. Cuma harus diingat, vaksin disini bukan untk mengobati tapi untuk mencegah infeksi yang sudah ada. Supaya tidak sering kambuh dan tidak terinfeksi lagi," pungkasnya.