Menertawakan Nasib, Merayakan Hidup yang Biasa Saja: Membaca Parable

Mahasiswa Ilmu Komunikasi-Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Bilqis Azzahra Princessiana Rachmat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Judul buku: Parable
Penulis: Brian Khrisna
Penerbit: Mediakita
Tahun terbit: 2021
Tebal: sekitar 688 halaman
Genre: Fiksi remaja, komedi, slice of life, romance
Eh, kamu pernah nggak sih bosan sama novel remaja yang tokoh cowoknya selalu ganteng, kaya, jago berantem, terus ditaksir semua cewek? Aku pernah, dan di saat lagi bosan-bosannya itu aku ketemu Parable karya Brian Khrisna.
Awalnya aku sempat ciut duluan, soalnya tebalnya hampir 700 halaman. Tapi begitu mulai baca, aku langsung sadar kalau tokoh utamanya beda dari yang biasa. Namanya Sadewa Sagara, tapi semua orang manggil dia Dewa. Dia anak SMA di Bandung yang hidupnya pas-pasan banget. Keluarganya miskin, nilainya selalu di urutan bawah, nggak bisa berantem, nggak bisa main musik, dan udah sering banget ditolak cewek. Pokoknya jauh dari "tokoh utama idaman". Tapi justru itu yang bikin aku suka. Dewa itu kayak anak SMA yang mungkin duduk di bangku sebelahmu dulu, biasa banget, tapi gampang bikin kita peduli.
Yang paling aku suka itu cara ceritanya dibawakan. Bahasanya santai, kayak ngobrol sama teman, jadi aku nggak merasa lagi baca buku tebal. Humornya juga pas. Beberapa kali aku ketawa sendiri gara-gara tingkah Dewa dan teman-temannya, kayak Edo dan Chia. Tapi di sela-sela ketawa itu ada bagian yang tiba-tiba bikin dada agak sesak. Ternyata di balik kelucuannya, ada hidup yang berat dan pesan yang dalam. Buatku, inti ceritanya itu tentang bagaimana kita bisa menertawakan nasib, dan tetap jalan terus meski kartu yang kita pegang jelek. Pesannya juga nggak disampaikan dengan ceramah, tapi lewat cerita, jadi lebih nempel.
Tapi ya, namanya juga buku, nggak semuanya sempurna. Karena ceritanya panjang, ada beberapa bagian yang menurutku agak bertele-tele, terutama waktu adegan digambarkan terlalu detail. Aku juga ngerasa perasaan Dewa di dalam hati bisa digali lebih dalam lagi, supaya lebih kerasa. Satu lagi, ada beberapa kata kasar di dalamnya, jadi kalau kamu kurang nyaman sama itu, siap-siap aja. Tapi semua itu nggak bikin aku berhenti baca, karena aku terlalu penasaran sama nasib Dewa.
Jadi kesimpulannya, buatku Parable itu lucu, hangat, dan jujur banget soal hidup orang biasa. Kalau kamu lagi cari bacaan yang ringan tapi tetap ninggalin kesan, coba deh baca. Novel ini ngingetin aku kalau hidup yang berantakan pun masih pantas ditertawakan dan dijalani.
Aku kasih 9/10. Satu poin aku kurangi cuma karena beberapa bagiannya kepanjangan dan sisi batin Dewa kurang tergali.
