Menularkan Pemahaman Mitigasi Bencana Gempa Bumi Sejak Dini

Staf Humas PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Bima Aditiawan Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Azkia Shofwa Al Maala (16 tahun) bercerita dengan mata berbinar kejadian hampir dua dekade yang lalu. Wlalu dirinya belum lahir saat itu, orang tuanya sering mengulangi cerita tentang gempa bumi besar yang melanda kampung halamannya.
“Saya diceritakan ayah, kalau nenek dan kakek saya meninggal karena tertimpa reruntuhan rumahnya. Paman saya pun juga mengalami patah tulang saat kejadian tersebut. Walau saya belum lahir, namun cerita tersebut membekas bagi saya,” jelasnya siswi Kelas X SMA I Jetis Bantul tersebut.
Baginya, gempa bumi merupakan aktivitas alam yang selalu membuatnya terkejut dan panik. Hal ini dirasakannya kembali saat Yogyakarta dan sekitarnya diguncang gempa bumi tektonik pada Selasa, 27 Januari 2026, pukul 13.15 WIB.
Berdasarkan informasi resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa bumi tersebut memiliki parameter terbaru dengan magnitudo M4,5 dengan episenter yang terletak pada koordinat 7,87 Lintang Selatan dan 110,49 Bujur Timur, atau tepatnya berada di darat pada jarak sekitar 16 kilometer arah timur Kabupaten Bantul.
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi ini tergolong sebagai gempa bumi dangkal yang dipicu oleh aktivitas Sesar Opak.
“Saat kejadian gempa itu, aku bersama-sama teman masih lari panik sambil keluar kelas. Aku belum tahu tentang tahapan menyelamatkan diri saat terjadi gempa bumi,” lanjutnya.
Hal yang sama dilakukan Alma Talen Purbaningtyas, siswa kelas XI B SMA I Jetis Bantul. Dirinya mengaku panik dan langsung berlari keluar ruang kelas saat terjadi gempa bumi 27 Januari 2026 ini.
“Saya dan teman-teman langsung lari keluar kelas. Kami hanya ingin segera keluar ruangan dan belum mengerti kalau perilaku itu bisa membuat risiko lebih besar,” jelasnya.
Kedua siswi ini merupakan peserta InJourney Community Care pelatihan tanggap bencana gempa bumi yang melibatkan 200 siswa-siswi di SMA Negeri 1 Pundong dan SMA Negeri 1 Jetis, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Peserta mengikuti serangkaian materi intensif yang mencakup spektrum mitigasi yang meliputi pemahaman risiko mengenai potensi bencana gempa bumi, teknik penyelamatan, evakuasi hingga simulasi penanganan darurat. Peserta juga diajarkan untuk merespon bencana dengan tenang, mencari perlindungan serta simulasi jalur evakuasi menuju titik kumpul (assembly point) tanpa kepanikan.
Koordinator Sekretariat Bersama Satuan Pendidikan Aman Bencana (Sekber SPAB) DIY Budi Santoso mengatakan ada 14 potensi bencana di Yogyakarta. Sementara kajian risiko bencana di Kabupaten Bantul sendiri memetakan 11 potensi bencana, seperti gempa, tsunami, cuaca ekstrim, banjir, kebakaran, tanah longsor, kekeringan, abrasi dan gelombang ekstrim, wabah penyakit, kegagalan teknologi.
“Indikator SPAB yang utama adalah terkumpulnya informasi ancaman, potensi kerentanan dan tindakan penyelamatan untuk mengurangi risiko bencana. Dukungan berbagai pihak diperlukan untuk menumbuhkan kesadaran dan keterampilan penanganan bencana di seluruh lapisan masyarakat,” lanjutnya.
Kepala Bidang SMA Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga DI Yogyakarta Tukiman mengapresiasi kegiatan ini sebagai bagian mengenalkan kembali potensi rawan bencana di daerah Yogyakarta.
“Potensi bencana di jogja cukup kompleks. Kita bersyukur hari ini bisa belajar bersama, mengenali agar tidak terlalu panik menghadapi bencana. Kalian juga diharapkan bisa sebagai pioner kepada teman-teman satu kelas maupun di kampung bagaimana mitigasi bencana yang baik,” jelasnya.
Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo mengapresiasi langkah IDM dalam membangun memori kolektif bencana pada masyarakat Yogyakarta sejak usia dini.
Langkah kolaboratif dalam pengurangan risiko bencana (PRB) ini selaras dengan pelaksanaan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) dan Indeks Kapasitas Daerah (IKD) sebagai instrumen utama pengukuran kinerja pengurangan risiko bencana nasional.
"IRBI dan IKD merupakan indikator strategis dalam mewujudkan ketangguhan nasional terhadap bencana. Diperlukan sinergi agar data, kebijakan dan aksi di lapangan bisa memperkuat sistem ketahanan bencana nasional,” jelasnya.
InJourney Community Care pelatihan tanggap bencana gempa bumi ini menargetkan 1.000 peserta dari 10 sekolah di wilayah Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman, Bantul dan Kota Yogyakarta. Program ini diharapkan tercapai sebelum puncak peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta pada Mei 2026 mendatang.
Operation Group Head InJourney Destination Management Leonardus Adityo Nugroho mengatakan bahwa pelatihan ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman, kesadaran dan keterampilan dasar pelajar, terutama dalam menghadapi situasi darurat bencana.
"Komitmen kami untuk memperkuat dan meningkatkan kesadaran rekan-rekan terutama di daerah rawan bencana agar terus siaga dan siap menghadapi bencana. Kolaborasi ini adalah Langkah awal untuk memperkuat kerja sama untuk semakin memperkuat manfaat bagi masyarakat DIY,” jelasnya.
Melalui sinergi antara dunia usaha, pemerintah daerah, dan satuan pendidikan ini, peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta tidak hanya menjadi momen reflektif serta ebangkitan untuk membangun Yogyakarta yang lebih tangguh dan siap menghadapi risiko bencana di masa depan.
