Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.99.0
Konten dari Pengguna
Reformasi Kurikulum: Langkah Maju atau Beban Baru bagi Dunia Pendidikan?
27 Februari 2025 16:22 WIB
·
waktu baca 4 menitTulisan dari Bima eka tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Sistem pendidikan Indonesia terus mengalami perubahan, dan kali ini, reformasi kurikulum kembali menjadi perbincangan hangat. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengusung pembaruan kurikulum dengan harapan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang lebih adaptif dan relevan dengan tantangan zaman. Kurikulum baru ini diklaim akan mengurangi beban administratif guru serta mendorong siswa untuk lebih aktif dalam proses belajar. Namun, di balik ambisi besar tersebut, muncul beragam respons dari para guru, siswa, hingga pemerhati pendidikan.
ADVERTISEMENT
Jejak Pergantian Kurikulum: Inovasi atau Siklus Berulang?
Indonesia bukan pertama kali melakukan reformasi kurikulum. Dalam beberapa dekade terakhir, sistem pendidikan kita telah melalui berbagai perubahan besar, mulai dari Kurikulum 1994, KBK, KTSP 2006, Kurikulum 2013, hingga Kurikulum Merdeka yang mulai diperkenalkan pada 2022. Setiap perubahan selalu membawa harapan baru, tetapi juga meninggalkan tantangan yang tak kalah besar.
Salah satu tantangan utama adalah kesiapan tenaga pendidik dalam memahami dan mengimplementasikan kebijakan baru. Banyak guru masih menghadapi kesulitan dalam menyesuaikan metode pengajaran dengan sistem yang berubah-ubah, terutama jika pelatihan dan bimbingan yang diberikan tidak optimal. Tanpa persiapan yang matang, reformasi ini justru bisa menjadi beban tambahan bagi guru, bukan solusi bagi pendidikan.
ADVERTISEMENT
Siswa: Kebebasan atau Kebingungan?
Dari sisi siswa, kebijakan ini juga memunculkan berbagai respons. Kurikulum Merdeka menawarkan pendekatan yang lebih fleksibel, di mana siswa dapat memilih jalur pembelajaran sesuai minat dan bakat mereka. Namun, sistem ini juga menuntut kemandirian yang lebih besar dalam mengatur proses belajar. Akibatnya, tidak sedikit siswa yang justru merasa kebingungan karena perubahan yang terjadi begitu cepat tanpa sosialisasi yang cukup.
Menurut data Kemendikbudristek, sekitar 140 ribu sekolah telah mulai menerapkan Kurikulum Merdeka. Meski demikian, hasil survei dari berbagai lembaga pendidikan menunjukkan bahwa pelaksanaannya masih menghadapi banyak kendala, terutama dalam aspek kesiapan tenaga pendidik dan fasilitas pendukung. Sekolah-sekolah di daerah terpencil, misalnya, masih kesulitan menerapkan kurikulum baru karena keterbatasan akses teknologi dan sumber daya.
ADVERTISEMENT
Realita di Lapangan: Reformasi atau Beban Baru?
Dalam idealismenya, reformasi kurikulum bertujuan untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih relevan dengan perkembangan zaman. Namun, jika kebijakan ini diterapkan tanpa evaluasi yang matang terhadap kurikulum sebelumnya, hasilnya justru dapat kontraproduktif. Guru yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam pendidikan malah harus terus beradaptasi dengan sistem yang berubah tanpa kejelasan arah.
Tak hanya itu, kebijakan ini seharusnya tidak hanya berfokus pada perubahan struktur kurikulum, tetapi juga memastikan kesiapan infrastruktur pendidikan. Banyak sekolah di daerah masih kekurangan fasilitas dasar seperti akses internet, buku ajar, dan perangkat teknologi. Jika reformasi kurikulum hanya menguntungkan sekolah-sekolah dengan fasilitas lengkap, maka kesenjangan pendidikan di Indonesia akan semakin melebar.
Solusi: Sinergi dan Evaluasi yang Berkelanjutan
Agar reformasi kurikulum benar-benar memberikan dampak positif, pemerintah perlu memastikan bahwa kebijakan ini dijalankan dengan langkah-langkah konkret. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:
ADVERTISEMENT
Jika tidak ada persiapan yang matang dan strategi yang jelas, reformasi kurikulum ini dikhawatirkan hanya menjadi perubahan administratif tanpa dampak nyata bagi kualitas pendidikan di Indonesia. Kurikulum seharusnya menjadi alat untuk membangun generasi yang siap menghadapi masa depan, bukan sekadar proyek kebijakan yang berulang tanpa solusi konkret.
ADVERTISEMENT
Pada akhirnya, pertanyaan penting yang harus dijawab adalah: Apakah reformasi ini benar-benar membawa perubahan positif, atau justru menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan? Jawabannya ada pada bagaimana kebijakan ini dijalankan dan sejauh mana seluruh pihak yang terlibat bersinergi untuk mewujudkannya.