Konten dari Pengguna

Menyibak Serat Niti Praja: Gaya Pemimpin yang Dirindukan

Binov Handitya

Binov Handitya

Peneliti Hukum Adat pada Pusat Riset Hukum Badan Riset dan Inovasi Nasional

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Binov Handitya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi rakyat melakukan demo menuntut seorang pemimpin yang pro kepada rakyatnya. DOK: AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi rakyat melakukan demo menuntut seorang pemimpin yang pro kepada rakyatnya. DOK: AI

Akhir-akhir ini, kita menyaksikan protes rakyat yang menuntut hak-hak mereka dari para pemimpin negara kita yang bertanggung jawab atas masalah-masalah yang menyulitkan hidup rakyat. Tulisan ini mewakili pandangan sempit dari penulis menggunakan Point of view (POV) yang mungkin jika dikaji dengan paradigma lain akan berbeda hasilnya, itu sah-sah saja.

Penulis melihat ada sesuatu yang aneh di negeri ini, mungkin itu menjadi alasan terjadinya demo di mana-mana. Apakah ada kebijakan yang salah dari para pemimpin di negeri ini? Artikel ini ingin melihat sosok pemimpin saat ini dengan menggunakan batu ujian inti Serat Nitipraja.

Serat Nitipraja adalah karya sastra moral yang ditulis oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo Mataram pada masa pemerintahannya. Karya ini berisi aturan dan pedoman bagi para pemimpin dan bangsawan tentang bagaimana bersikap religius, humanis, dan melindungi rakyat.

Penulis tidak ingin berfokus pada satu orang saja, tetapi akan melihat pemimpin yang diinginkan rakyat, dengan mempertimbangkan budaya Indonesia. Ingat, pemimpin untuk Indonesia! Karena saya tidak ingin mencari pemimpin di belahan dunia lain untuk dijadikan panutan.

Di tengah globalisasi yang membawa masuk budaya lain, pengetahuan karya-karya Barat akan memberikan pengaruh nyata terhadap cara berpikir alamiah kita. Bahkan kadang tak sedikit dari kita yang ingin menerapkan apa yang ada di negara lain ke Indonesia, padahal Indonesia memiliki sejarah dan identitas yang berbeda.

Perkembangan yang ada di dunia, ternyata menarik kita kepada keinginan untuk mengikuti tren yang berkembang bahkan akan meninggalkan hingga terlupa bahwa kita memiliki budaya sendiri. Hal ini menjadi lebih buruk ketika para pemimpin kita bahkan tidak mengetahuinya. Mereka meninggalkan jiwa kepemimpinannya yang ternyata memiliki moral dan aturan di dalamnya.

Seorang pemimpin harus memiliki moral yang tinggi dan menempatkan dirinya dengan baik sebagai pemimpin. Banyak pemimpin kita di media sosial bertindak, berbicara, dan berpakaian dengan cara yang tidak etis hanya untuk mengikuti tren atau mungkin untuk mendapatkan lebih banyak perhatian. Misalnya, tren viral dance, membuat video atau vlog hanya untuk mendapatkan lebih banyak penonton. Mereka lupa bahwa mereka adalah wakil rakyat dan perlu memikirkan cara membahagiakan rakyat. Mereka tidak menyadari bahwa mereka meracuni diri sendiri dan merusak kepemimpinan karismatik mereka.

Penulis juga ingin melihat bagaimana Serat Nitipraja memberikan pedoman bagi seorang pemimpin yang baik. Yang mungkin ini bisa menjadi petunjuk bagi kita juga untuk memilih pemimpin bangsa ini di masa depan.

Serat Nitipraja memberikan gambaran bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Piwulang yang ada di Serat nitipraja adalah piwulang yang pada waktu itu ditujukan kepada para pemimpin kerajaan, dalam hal ini raja, bupati, dan petinggi kerajaan lainnya. Kebahasaan yang unik, yaitu disajikan dengan perumpamaan-perumpamaan, digunakan untuk menyampaikan piwulang tersebut. Penulis mengutip beberapa baris atau gatra dalam bait pada serat tersebut, di antaranya gatra keempat, gatra ketujuh, dan gatra kesebelas.

Baris atau gatra pada bait ke empat Seorang pemimpin yang disukai oleh rakyat

“Yensira tinitah ing bupati/ rinaket ing nata raganira/ den kadi surya padange/ gumantya dipun anut/ manahira dipun aening/ myang kadi ta samudra/ pamotireng ruruh/ rehira mawi Santana/ kawruhana lwir arsaning taru malih/ mangsaning labuh kapat//”

Makna dari bait di atas adalah: Jika menjadi seorang pemimpin atau dekat dengan kekuasaan maka dia harus diterima oleh rakyat. Karena pemimpin mempunyai hati yang luas seperti lautan, karismatik yang tinggi sehingga dapat menjadi penerang dalam masyarakatnya.

Baris atau gatra pada bait ketujuh sebagai pengingat bahwa kekuasaan ada batasannya dan tidak kekal abadi.

“Adeping tyas ing bala den kaksi/ saderenge matur den kadriyan/ wit tan tekeng wekasane/ den pasti sira lungguh/ lamun angling sita den angayuh amakanka ing ati/ pamunahing wardaya//”

Makna dari bait ini adalah bahwa para pemimpin harus berhati-hati dalam mengambil keputusan. Perlu berbicara dengan tenang dan sopan. Kekuasaan juga pasti akan berakhir dan harus berhenti pada saatnya. Ingatlah bahwa para pemimpin harus bertindak seolah-olah mereka sangat kuat (sakti/kuat/pandai) yang berarti bahwa mereka yang berpengetahuan atau berkuasa harus memiliki sopan santun dan etika yang baik. Filosofi Jawa yang mengatakan bahwa manusia tidak boleh menggunakan kekuatan atau kekuasaan untuk menyakiti orang lain. Yang terpenting juga adalah kekuatan batiniah dan kebaikan yang tertanam dalam hati.

Baris atau gatra pada bait 11 adalah pengingat bagi seorang pemimpin

“Punika reke nisthaning patih/ api tan wruh yen dadi ngayunan/ tur tan teka ing atine/sanggupipun maledug/abang lambe wadhuk malenthi/wadhuk sadaya-daya/kanggep aturipun/tan etang rusaking praja/pikiripun rusaking kawula alit/ agnyanane brahala// “

Makna dari bait tersebut: Nistanya seorang pemimpin, bahwa jika seorang pemimpin berpura-pura tidak tahu bahwa dirinya adalah seorang pemimpin dan tidak mau belajar bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Semua yang diucapkannya manis, namun menyakitkan hati rakyat karena setiap kebijakan yang dibuatnya hanya untuk mengisi perutnya sendiri, berdasarkan akal pikirannya yang jahat. Mereka tidak pernah berpikir bahwa setiap tindakan yang tidak berdasarkan aturan dan niat baik akan menghancurkan negara. Dalam situasi ini, negara akan rusak dan rakyat kecil akan tertindas, menyebarkan kehancuran di mana-mana.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X (Sultan HB X) hujan-hujanan memimpin upacara ramai Hari Peringatan Kedaulatan Negara (HPKN) di Stadion Mandala Krida, Kota Yogyakarta, Rabu (1/3) lalu. Foto: Dok. Pemda DIY

Di tengah riuhnya suasana negeri ini dengan banyaknya demo karena ketidakpercayaan terhadap pemimpin di negeri ini, terlihat ada banyak pemberitaan yang menyoroti satu figure yakni Sri sultan hamengkubuwono X pemimpin DIY. Seolah-oleh di setiap pemberitaan yang ada menggiring pemikiran kita bahwa beliau adalah sesosok pemimpin yang karismatik dan dicintai dibalut dengan kesederhanaan.

Jelaslah, ternyata beliau adalah seorang raja di Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat. Sebagai seorang raja tentunya beliau masih menjaga pepakem adat yang ada, terlihat dengan bagaimana saat beliau bertindak dan berbicara. Telah terbukti ketika beliau datang pada saat aksi demonstrasi di Mapolda DIY. Beliau datang didampingi oleh dua putri dalem, yakni GKR Condrokirono dan GKR Hayu, serta suami GKR Bendara yakni KPH Yudanegara. Datang tanpa ada pengawalan, namun rakyatnyalah yang mengawal beliau dan berhasil menenangkan rakyat di Jogja pada waktu itu.

Ternyata sebagai raja, beliau cukup pro-rakyat, misalnya, ketika beliau menetapkan UMR. Beliau memang menetapkan UMR di Jogja sangat rendah, bahkan terendah kedua pada tahun 2023. Hal ini dilakukan untuk menekan daya beli masyarakat agar masyarakat miskin tetap mampu memenuhi kebutuhan hidup dasar mereka.

Selain itu dapat ditemukan juga kebijakan lain misalnya dalam Panduan Penggunaan Danais DIY bahwa terdapat pedoman untuk Pembangunan lingkungan dan tata ruang fisik, menekankan terhadap penciptaan ruang ruang wilayah DIY yang Rahayu, tidak eksploitatif, serakah, dan sewenang-wenang.

Budaya SATRIYA sebagai inisiatif Pemda DIY dalam menata pemerintahan dan pelayanan terhadap masyarakat dijabarkan dengan singkatan Selaras, Akal budi luhur (jatidiri), Teladan (keteladanan), Rela melayani, Inovatif, Yakin dan percaya diri, dan Ahli-profesional.

Pada akhirnya, rakyat negeri ini mendambakan pemimpin yang karismatik dan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Sebagai penutup, saya berharap situasi di negeri ini segera membaik dan anak-anak bangsa akan memiliki harapan dalam mengawal Indonesia menuju kesejahteraan.