Memahami Sistem Pendidikan Finlandia yang Konsisten Berkualitas Tinggi

PPI Dunia adalah wadah organisasi yang menaungi seluruh pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri.
Konten dari Pengguna
29 Januari 2020 13:18
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari PPI Dunia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: Coreskills, diakses di: https://coreskills.tech/en/avanzando-hacia-el-cambio-en-la-educacion-america-latina-en-la-cola-de-la-prueba-de-pisa/ [29 Januari 2020]
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Coreskills, diakses di: https://coreskills.tech/en/avanzando-hacia-el-cambio-en-la-educacion-america-latina-en-la-cola-de-la-prueba-de-pisa/ [29 Januari 2020]
ADVERTISEMENT
Pada awal Desember 2019, OECD (Organisasi kerjasama dan pengembangan ekonomi) mempublikasikan hasil PISA (Program Penilaian Siswa Internasional) 2018 yang menjelaskan bahwa pada umumnya, masyarakat publik hanya fokus pada hasil peringkat kumulatif (membaca, matematika, ilmu pengetahuan) negara yang disurvei. Padahal, ada data lain yang jauh lebih penting dan bisa kita pelajari untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan nasional.
ADVERTISEMENT
Data yang jauh dari bahasan publik itu di antaranya memberikan gambaran tentang tingkat variasi (disparitas) hasil belajar-mengajar antar sekolah, tingkat efisiensi waktu kegiatan belajar-mengajar di sekolah, dan efisiensi penggunaan anggaran dalam meningkatkan dan menjamin mutu pendidikan di setiap negara.
Selanjutnya, tak dapat dipungkiri bahwa Finlandia tetap menjadi negara yang menarik dan layak untuk menjadi acuan (benchmark). Secara konsisten Finlandia mampu menjamin mutu sistem pendidikannya sehingga selalu menempati level yang tinggi bersama Singapura, Jepang, Korea Selatan, Kanada, Australia, bahkan melampaui AS serta Jerman.
Secara kualitas sistem pendidikan, Finlandia mampu membangun sistem pendidikan berkeadilan dengan menunjukkan tingkat variasi (disparitas) hasil belajar-mengajar antar sekolah terkecil diantara semua negara yang disurvei. Hasil PISA 2018 juga menunjukkan bahwa di antara negara-negara peringkat teratas, Finlandia memiliki waktu belajar sekolah paling pendek, yaitu 36,5 jam per minggu, sedangkan Singapura 53 jam per minggu, dan China 57,5 jam per minggu. Hal ini menunjukkan tingkat efisiensi belajar-mengajar di sekolah yang sangat tinggi sehingga secara sistemik sekolah (negara) memberikan keseimbangan antara aspek akademik dan kehidupan anak-anak atau kemampuan sosial (social skill).
ADVERTISEMENT
Dengan menelaah data PISA lebih dalam dan melihat perkembangan kualitas pendidikan dari periode ke periode, pasti akan memicu pertanyaan bagaimana Finlandia berhasil membangun sistem pendidikan yang berkualitas tinggi secara konsisten dalam bingkai misi keadilan (equity) dan kesetaraan (equality) yang kuat sebagai bangsa? Jawabannya sangat sederhana tapi substansial, yaitu adanya kemauan politik yang kuat dari pemerintah Finlandia sejak reformasi pendidikan 1970 sebagaimana disebutkan dalam laporan Educational policy outlook-OECD dan buku Finnish Lessons karya Prof. Pasi Sahlberg.

[Kualitas] = [Keadilan] + [Kesetaraan]

Bisa kita lihat bahwa dunia saat ini telah dan sedang bergerak meningkatkan kualitas sistem pendidikannya. Mayoritas gerakan reformasi pendidikan itu mengambil langkah-langkah yang memposisikan pendidikan sebagai industri pendidikan. Sebagai entitas bisnis maka sekolah (termasuk guru dan siswa) harus hidup dalam atmosfer kompetisi, melengkapi dengan berbagai standardisasi, mengutamakan aspek akuntabilitas dengan berbagai bentuk ujian, dan kualitas sekolah akan menjadi pilihan bagi orang tua siswa di mana keunggulan belajar-mengajar selalu dikuti dengan biaya tinggi yang harus dikeluarkan.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, ketika mayoritas negara mengikuti cara-cara di atas yang sering disebut Global Educational Reform Movement (GERM), Finlandia adalah sebuah paradoks dan menjadi referensi reformasi pendidikan dengan visi dan konsep transformasi yang berkebalikan. Visinya, pendidikan adalah hak asasi di mana negara harus menjamin pemenuhan kebutuhan pendidikan dengan keadilan dan kesetaraan dalam kesempatan dan kualitas.
Keadilan dalam sistem pendidikan memiliki makna bahwa semua siswa harus mempunyai akses yang sama pada pendidikan dengan kualitas yang tinggi apapun latar belakang keluarga dan daerah asal. Kesetaraan dalam kesempatan dan keadilan pada kualitas pendidikan akan menjamin setiap orang dapat mewujudkan cita-citanya melalui pendidikan.
Dengan konsep keadilan dan kesetaraan dalam mencapai kualitas pendidikan, Finlandia mampu mengurangi secara signifikan perbedaan variasi capaian hasil pendidikan antar siswa dan antar sekolah dalam kurun waktu yang relatif singkat, yaitu 10 tahun setelah reformasi pendidikan dimulai.
ADVERTISEMENT
Penekanan yang kuat pada keadilan dalam sistem pendidikan akan memberikan pengertian berbeda dalam hal penentuan kriteria kinerja sekolah dan cara mengukurnya. Keadilan tidak mengharuskan adanya standardisasi, karena kualitas yang optimal akan bisa dicapai dengan cara yang berbeda. Salah satunya adalah dengan mengutamakan peningkatan tanggungjawab pihak sekolah daripada laporan akuntabilitas berbasis data-data yang diperoleh dari berbagai kompetisi dan ujian berstandardisasi.
Kualitas pendidikan bukan sebuah pilihan tapi merupakan hak bagi seluruh anak didik. Tidak memandang strata sosial dan latar belakang ekonomi keluarga. Dengan kesetaraan kesempatan, keadilan dalam proses belajar-mengajar, dan kesetaraan kualitas sekolah maka kualitas pendidikan dicapai secara utuh tanpa menyisakan siswa-siswa dengan kualitas yang rendah karena tidak mampu berkompetisi.
ADVERTISEMENT

Berpikir ulang soal pendidikan khusus

Di Indonesia, kita mengenal pendidikan-berkebutuhan-khusus sering diasosiakan bagi mereka yang memiliki keterbatasan diri, yang bersifat fisik, kognitif, mental, sensoris, dan perkembangan. Dalam konteks peningkatan kualitas pendidikan yang berkeadilan, maka konsep pendidikan berkebutuhan khusus harus kita perluas lagi dengan kewajiban penyelenggaraan kelas khusus di sekolah-sekolah yang diperuntukkan bagi siswa yang memerlukan kebutuhan khusus dalam proses belajar-mengajar.
Siswa-siswa yang kurang/belum mampu mengikuti proses belajar-mengajar dengan rencana-studi-kelas maka harus dibuatkan rencana-studi-individu dengan proses belajar-mengajar yang berbeda namun tetap mengacu rencana-studi-kelas.
Pada awal semester guru harus secara cepat mengidentifikasi siswa berkebutuhan khusus dengan evaluasi yang akurat dan dengan cepat pula mengambil keputusan untuk memindahkan ke kelas-kelas khusus. Tujuan ini tidak lain agar para siswa tersebut sesegera mungkin mampu meningkatkan kemampuan akademisnya secara optimal sesuai dengan kapasitas intektual yang dimiliki, dan pada akhirnya bisa kembali ke kelas regular dengan proses belajar-mengajar secara normal. Inilah konsep keadilan dalam mencapai kualitas dan keadilan dalam proses belajar mengajar.
ADVERTISEMENT
Proses belajar-mengajar yang hanya mengedepankan kompetisi hanya akan menyisakan para siswa berkebutuhan khusus tersebut sebagai SDM yang tersingkirkan. Padahal mereka punya hak asasi untuk meningkatkan kualitas diri yang harus dijamin oleh negara. Jadi, tidak hanya soal kesiapan siswa untuk menghadapi masa usia sekolah tapi lebih penting lagi adalah secara sistemik harus ada kesiapan sekolah (guru) untuk menghadapi berbagai perbedaan potensi akademis siswa.

Reformasi pendidikan dan profesi guru

Seperti halnya Singapura, Korea Selatan, dan Irlandia, keberhasilan sistem pendidikan Finlandia tidak lepas dari komitmen politik yang kuat dari pemerintahnya untuk mereformasi pendidikan dan profesi guru. Tidak hanya soal karier dan kesejahteraan, tapi mulai dari masukan SDM calon guru, sistem pendidikan guru, dan mengangkat profesi guru menjadi profesional serta bermartabat tinggi sehingga menjadi salah satu profesi impian para pemuda.
ADVERTISEMENT
Di Finlandia, proses menjadi guru dimulai sejak seseorang mendaftar pendidikan guru di perguruan tinggi dengan seleksi yang sangat kompetitif, kira-kira secara nasional kurang dari 9 persen dari pendaftar yang diterima. Penilaiannya tidak hanya pada aspek akademik dengan kualifikasi yang sangat tinggi tapi juga meliputi kepribadian, inter-personal, dan komitmen moral untuk mengajar. Seorang guru harus memiliki kemampuan akademis yang tinggi, kepribadian positif, kemampuan inter-personal unggul, dan komitmen moral yang kuat dalam membantu siswa mencapai hasil belajar yang optimal.
Secara birokratis dan politis, tahap dan proses ini mungkin menjadi yang paling sulit dan panjang namun harus ditempuh agar perubahan fundamental itu bisa terwujud karena standardisasi atau sertifikasi guru tidak akan punya dampak signifikan terhadap perubahan kualitas pendidikan bangsa.
ADVERTISEMENT
Dan berikutnya yang mendesak adalah bagaimana negara mampu menarik para pemuda-pemudi unggul dan memiliki jiwa pendidik untuk mengikuti pendidikan guru. Menjadikan profesi guru menjadi profesi impian sejajar dengan dokter, insinyur, dan pengacara.
Karena guru adalah pemimpin dalam sistem pendidikan maka ketika negara (pemerintah pusat dan daerah) mampu meningkatkan kualitas; input-SDM, sistem pendidikan guru, dan profesi guru maka reformasi pendidikan nasional Indonesia akan berjalan lebih mudah karena dijalankan oleh SDM guru dengan kemampuan intelektual unggul dengan tanggungjawab moral yang tinggi terhadap kualitas anak didik.
Kota Helsinki di Finlandia Foto: Flickr/Sami C
zoom-in-whitePerbesar
Kota Helsinki di Finlandia Foto: Flickr/Sami C
***
Penulis: Sutarsis, Kandidat PhD, National Central University, R.O.C., Pengajar di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Ketua PPI Taiwan 2018 & Pembina Yayasan Pendidikan PPI-Taiwan
Editor PPI Dunia: Mufida, staf bidang Mass Media, Pusat Media dan Komunikasi PPI Dunia 2019/2020
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·