Kumparan Logo

Airlangga Bicara Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026: 5,5 Persen atau Lebih Besar

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga berbelanja bawang bombai di Pasar Induk MAJT-MAS, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (5/2/2026). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Warga berbelanja bawang bombai di Pasar Induk MAJT-MAS, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (5/2/2026). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan proyeksinya soal pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi kuartal tersebut bisa mencapai 5,5 persen atau bisa lebih besar. Angka pertumbuhan ekonomi ini bakal dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) besok, Selasa (5/4).

“Kuartal satu nanti kita lihat, tapi kalau dari beberapa kali kami sampaikan, lebih besar atau sama dengan 5,5 persen,” ujar Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta pada Senin (⅘).

Sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai kinerja ekonomi awal tahun ini menunjukkan akselerasi dibanding periode sebelumnya. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dapat mencapai kisaran 5,44 persen secara tahunan.

“Untuk pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026, saya memperkirakan ekonomi masih tumbuh di atas 5 persen, bahkan berpotensi mencapai sekitar 5,44 persen secara tahunan,” kata Josua kepada kumparan, Minggu (3/5).

Menurutnya, momentum Ramadan dan Idulfitri yang seluruhnya jatuh pada kuartal I menjadi pendorong utama konsumsi. Belanja masyarakat untuk kebutuhan makanan, minuman, pakaian, transportasi, hingga akomodasi meningkat signifikan. Selain itu, indikator seperti indeks keyakinan konsumen dan penjualan ritel turut menguatkan peran konsumsi sebagai motor utama ekonomi.

Tak hanya konsumsi, belanja pemerintah dan investasi juga memberikan kontribusi penting. Pemerintah disebut mulai mengakselerasi pencairan belanja sosial dan infrastruktur setelah sempat terkontraksi pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, investasi terdorong oleh percepatan proyek infrastruktur, hilirisasi industri, hingga belanja modal BUMN.

Meski demikian, Josua mengingatkan adanya risiko dari pelemahan nilai tukar rupiah yang dapat meningkatkan biaya impor barang modal serta menahan minat investasi asing.

Di sisi lain, Ekonom LPEM UI Teuku Riefky memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 sedikit lebih tinggi, yakni 5,48 persen secara tahunan, dengan kisaran 5,46-5,50 persen. Sepanjang tahun 2026, pertumbuhan diperkirakan berada di level 5,15 persen.

Ia melihat fondasi pertumbuhan masih ditopang oleh tren positif dari akhir 2025, ketika ekonomi tumbuh 5,39 persen pada kuartal IV. Saat itu, permintaan musiman akhir tahun dan berbagai stimulus pemerintah seperti diskon transportasi, bantuan tunai, hingga subsidi kredit UMKM menjadi pendorong utama.

Riefky juga mencatat konsumsi rumah tangga tetap menjadi pilar terbesar dengan kontribusi lebih dari 50 persen terhadap PDB. Sementara sektor manufaktur masih menjadi mesin utama pertumbuhan dari sisi produksi.

Namun, tekanan inflasi sempat meningkat pada awal 2026 sebelum kembali mereda. Selain itu, surplus perdagangan masih berlanjut meski mengalami penyusutan tajam akibat pertumbuhan impor yang lebih cepat dibanding ekspor.