Bukan Cuma Mesin Gol Norwegia, Erling Haaland Jadi Atlet Muda Bergaji Tinggi

Nama Erling Haaland kembali menjadi perbincangan setelah membawa Norwegia melaju ke perempat final Piala Dunia 2026 usai menaklukkan Brasil 2-1 di Amerika Serikat.
Haaland menjadi pahlawan kemenangan Norwegia dengan memborong dua gol pada menit ke-79 dan ke-90. Sementara itu, Brasil hanya mampu memperkecil ketertinggalan lewat eksekusi penalti Neymar pada menit ke-90+10.
Di tengah sorotan atas penampilannya di lapangan, penyerang Manchester City tersebut juga menorehkan prestasi di luar lapangan. Menurut daftar terbaru Forbes, Haaland merupakan atlet dengan bayaran tertinggi di dunia yang berusia 25 tahun atau lebih muda.
Menurut daftar terbaru Forbes, Senin (6/7), Haaland menjadi atlet dengan bayaran tertinggi di dunia yang berusia 25 tahun atau lebih muda. Sepanjang 12 bulan terakhir, striker berusia 25 tahun itu diperkirakan mengantongi pendapatan sebesar USD 80 juta atau sekitar Rp 1,44 triliun (asumsi kurs Rp 18.000 per dolar AS).
Dari total pundi-pundi yang dia dapat itu, sekitar USD 60 juta berasal dari gaji, bonus, dan pendapatan di lapangan, sementara USD 20 juta lainnya berasal dari kontrak sponsor, penampilan komersial, hingga penjualan memorabilia.
"Striker Norwegia berusia 25 tahun itu mendapat kenaikan gaji yang signifikan musim ini berkat kontrak yang ditandatanganinya pada Januari 2025, yang mengikatnya bersama Manchester City hingga 2034," tulis Forbes.
Pendapatan itu juga menempatkan Haaland di peringkat ke-19 dalam daftar atlet dengan bayaran tertinggi di dunia versi Forbes untuk 2026.
Musim lalu memang tak sepenuhnya berakhir manis bagi Manchester City setelah gagal mempertahankan gelar Liga Inggris. Namun secara individu, Haaland tetap tampil impresif.
Pada September lalu, ia menjadi pemain tercepat yang mencapai 50 gol di Liga Champions Eropa setelah mencapainya hanya dalam 49 pertandingan. Tiga bulan kemudian, ia kembali memecahkan rekor Liga Inggris dengan mencetak gol ke-100 hanya dalam 111 penampilan.
Di luar lapangan, Haaland juga didukung sejumlah merek global seperti Nike, Breitling, dan Dolce & Gabbana. Ia juga sempat menjadi sorotan ketika bergabung dalam kampanye Piala Dunia Budweiser, meski iklan minuman beralkohol dilarang di negara asalnya, Norwegia.
Tak hanya dikenal sebagai mesin gol, Haaland juga pernah mencuri perhatian lewat aksinya kepada suporter. Setelah Manchester City kalah dari Bodø/Glimt di Liga Champions pada Januari lalu, Haaland bersama tiga kapten tim lainnya memutuskan mengganti biaya tiket hampir 400 pendukung yang datang langsung ke Norwegia.
Atlet Muda Makin Mendominasi
Haaland bukan satu-satunya atlet muda yang meraup pendapatan fantastis. Forbes mencatat ada lima atlet berusia 25 tahun ke bawah lainnya yang masuk daftar 50 atlet dengan bayaran tertinggi di dunia tahun ini.
Mereka adalah bintang Real Madrid Vinicius Jr., dua pemain NBA Anthony Edwards dan Cade Cunningham, serta dua petenis muda yang kini menjadi rival generasi baru, Carlos Alcaraz dan Jannik Sinner.
Secara total, enam atlet muda tersebut mengumpulkan pendapatan sekitar USD 384 juta dalam setahun terakhir sebelum pajak dan biaya agen. Sebanyak USD 239 juta berasal dari gaji, bonus, dan hadiah pertandingan, sedangkan USD 145 juta berasal dari aktivitas bisnis dan kontrak komersial.
Masuknya nama-nama muda itu juga membuat rata-rata usia 50 atlet dengan bayaran tertinggi dunia turun menjadi 30 tahun. Untuk pertama kalinya sejak 2017, jumlah atlet berusia 20-an di daftar tersebut lebih banyak dibandingkan atlet yang telah berusia 30 tahun ke atas.
