Digital Marketing: Belajar Digital Marketing dari Pengalaman Magang

Mahasiswa Program Studi Manajemen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Farhan Syafarudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hari pertama saya magang di PT Buharum Daya Perkasa, jujur saja saya membayangkan pekerjaan yang cukup konvensional. Maklum, perusahaan ini bergerak di bidang outsourcing jasa penyalur tenaga kerja yang identik dengan urusan administrasi, kontrak kerja, dan hal-hal teknis lainnya. Tidak terbayang sebelumnya kalau di sinilah saya justru belajar banyak tentang betapa pentingnya digital marketing bagi kelangsungan sebuah perusahaan.

Suatu hari, saya iseng membuka akun Instagram resmi perusahaan. Di sana, saya menemukan berbagai unggahan seputar kegiatan perusahaan, informasi lowongan, hingga testimoni dari mitra kerja. Sederhana memang, tapi dari situ saya mulai menyadari sesuatu: ternyata, perusahaan sekelas PT Buharum Daya Perkasa pun tidak bisa lepas dari peran media digital untuk tetap dikenal, dipercaya, dan dijangkau oleh calon klien maupun tenaga kerja yang membutuhkan.
Digital Marketing: Dunia yang Sudah Pindah ke Layar Ponsel
Dulu, saya pikir pemasaran itu identik dengan billboard besar di pinggir jalan atau iklan di sela tayangan televisi. Tapi coba perhatikan kebiasaan kita sehari-hari sekarang. Berapa kali kita membuka Instagram, LinkedIn, atau bahkan sekadar mencari informasi di Google sebelum memutuskan bekerja sama dengan sebuah perusahaan? Menurut beberapa ahli pemasaran(https://mahasiswaindonesia.id/digital-marketing-menurut-para-ahli/), digital marketing memang berbeda dari pemasaran tradisional karena memungkinkan komunikasi dua arah antara bisnis dan konsumen. Nah, di situlah pertarungan sesungguhnya terjadi. Perusahaan yang tidak hadir di ruang digital ini, sejatinya sedang kehilangan panggung utama untuk ditemukan oleh klien maupun mitra kerjanya.
Bukan Soal Siapa yang Punya Modal Paling Besar
Yang membuat saya kagum selama magang di sini adalah, saya melihat sendiri bagaimana digital marketing itu mendemokratisasi persaingan. Perusahaan besar dengan anggaran promosi miliaran rupiah, dan perusahaan seperti tempat saya magang dengan sumber daya yang lebih terbatas, kini punya kesempatan yang relatif setara untuk membangun kepercayaan di mata publik. Yang membedakan bukan lagi besar kecilnya modal, tapi seberapa konsisten sebuah perusahaan hadir dan berkomunikasi dengan audiensnya di ruang digital.
Data adalah Sahabat, Bukan Sekadar Angka
Hal lain yang menarik perhatian saya selama magang, digital marketing memberi ruang untuk "belajar dari kesalahan" secara cepat. Kalau dulu perusahaan harus menunggu berbulan-bulan untuk tahu apakah promosinya berhasil, sekarang cukup lihat data berapa orang yang melihat unggahan, berapa yang akhirnya menghubungi, konten mana yang paling menarik perhatian. Rasanya seperti punya kaca spion dan GPS sekaligus dalam berbisnis: kita tahu dari mana kita datang, dan ke mana harus melangkah selanjutnya.
Tapi, Bukan Berarti Tanpa Tantangan
Tentu saja, saya tidak mau bercerita seolah semuanya indah tanpa cela. Dunia digital bergerak sangat cepat algoritma berubah, tren datang dan pergi dalam hitungan minggu, bahkan hari. Belum lagi banjirnya konten membuat perhatian audiens menjadi barang yang makin sulit direbut. Di sinilah saya belajar bahwa perusahaan perlu orang-orang yang benar-benar paham dan mau terus belajar, bukan sekadar ikut-ikutan tren tanpa strategi yang jelas.
Refleksi Saya sebagai Mahasiswa Manajemen
Pengalaman magang di PT Buharum Daya Perkasa ini terus terngiang di kepala saya. Ia mengajarkan bahwa ilmu manajemen pemasaran yang saya pelajari di bangku kuliah, ternyata benar-benar hidup dan dipraktikkan di dunia kerja nyata bukan cuma teori di slide presentasi dosen. Digital marketing bukan sekadar tren sesaat, melainkan cara baru perusahaan baik yang bergerak di bidang produk maupun jasa seperti outsourcing untuk bertahan dan tumbuh di tengah persaingan yang semakin ketat.
Dan mungkin, itulah pelajaran paling berharga yang saya bawa pulang dari meja magang ini: bahwa bertahan di dunia bisnis bukan lagi soal siapa yang paling besar atau paling lama berdiri, melainkan siapa yang paling berani hadir, mendengarkan, dan terus belajar beradaptasi dengan zaman. Sebab pada akhirnya, kepercayaan tidak dibangun dalam semalam di dunia maya ia dirawat, perlahan, satu unggahan dan satu interaksi yang tulus pada satu waktu.
