Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Kuartal I 2026, Ini Faktor-faktor Pendorongnya
ยทwaktu baca 2 menit

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy), namun tercatat mengalami kontraksi 0,77 persen secara kuartalan (quarter to quarter/qtq). Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kuartal I 2025 yang tumbuh 4,87 persen (yoy).
"Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen," ujar Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Rabu (5/5).
Pendorong Ekonomi Berdasarkan Lapangan Usaha
Berdasarkan lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 didorong oleh industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan. Industri pengolahan tumbuh 5,04 persen (yoy), sementara perdagangan tumbuh 6,26 persen (yoy), pertanian tumbuh 4,97 persen (yoy), konstruksi tumbuh 5,49 persen (yoy), dan pertambangan mengalami kontraksi 2,14 persen (yoy).
Sementara itu, lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan tinggi di antaranya penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 13,14 persen (yoy), didorong peningkatan kinerja penyediaan makan minum, seiring perluasan cakupan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan momen libur nasional.
Selanjutnya, jasa lainnya tumbuh 9,91 persen (yoy), didorong oleh peningkatan jumlah perjalanan wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara. Sektor transportasi dan perdagangan tumbuh 8,04 persen (yoy), didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat yang tercermin dari peningkatan jumlah penumpang pada semua moda transportasi.
Pendorong Ekonomi Berdasarkan Pengeluaran
Berdasarkan pengeluarannya, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,56 persen (yoy), dengan andil distribusi sebesar 54,36 persen ke Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,96 persen, dengan andil distribusi 28,29 persen ke PDB.
Konsumsi pemerintah tumbuh paling tinggi sebesar 21,81 persen (yoy), dengan andil distribusi ke PDB sebesar 6,72 persen. Amalia mengatakan, pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan realisasi belanja pegawai melalui realisasi pembayaran THR, serta belanja barang dan jasa, utamanya barang yang diserahkan kepada masyarakat berupa program MBG.
Komponen ekspor tumbuh 0,90 persen (yoy), dengan andil 21,22 persen ke PDB. Sementara konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) tumbuh 6,28 persen (yoy), dengan andil distribusi ke PDB sebesar 1,40 persen.
Impor sebagai pengurang PDB tumbuh 7,18 persen (yoy), dengan andil sebesar 20,29 persen.
