Kumparan Logo

Gejolak di Timur Tengah Belum Selesai, Mari Elka Soroti Risiko ke Fiskal RI

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Mari Elka Pangestu dalam webinar Eisenhower Fellowships Indonesia Alumni Chapter, Senin (15/4/2024). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Mari Elka Pangestu dalam webinar Eisenhower Fellowships Indonesia Alumni Chapter, Senin (15/4/2024). Foto: Dok. Istimewa

Ketidakpastian konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz menjadi salah satu risiko yang perlu diperhitungkan pemerintah. Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu menyoroti potensi lonjakan harga minyak yang dapat berimbas hingga ke anggaran negara.

Mari menekankan kondisi di Selat Hormuz perlu diperhatikan, meski wilayah tersebut tidak besar secara geografis. Gangguan di kawasan itu dapat mempengaruhi pasokan dan mendorong perubahan harga minyak dunia.

“Dan ini belum berakhir, dan kita belum tahu ini berujungnya ke mana. Kita belum tahu apakah perang ini akan berlanjut dan harga minyak akan terus meningkat dengan segala macam dampaknya,” ujar Mari dalam acara Economic and Demographic Forum, Selasa (29/9).

Mari mengatakan efek kenaikan harga minyak juga tidak berhenti pada sektor BBM. Energi merupakan salah satu komponen dalam berbagai kegiatan produksi, sehingga kenaikan harganya dapat meningkatkan biaya sejumlah bahan baku dan input industri.

Beberapa sektor yang terdampak antara lain petrokimia, plastik, pupuk, dan berbagai komoditas lainnya. Kenaikan biaya tersebut kemudian dapat diteruskan ke harga barang dan jasa di dalam negeri.

Di sisi pemerintah, Mari melihat risiko terbesar dalam waktu dekat berada pada fiskal. Harga energi yang lebih tinggi dapat membuat kebutuhan anggaran untuk subsidi ikut meningkat.

“Dan sayang tidak ada Pak Suahasil (Menteri Keuangan), mungkin kalau Pak Sua ada tadi pagi dia pasti akan menyampaikan tekanan kepada fiskal. Karena subsidi BBM dan subsidi listrik yang meningkat,” tutur Mari.

Tekanan juga dapat muncul apabila kenaikan harga energi ikut menekan daya beli masyarakat. Dalam kondisi tersebut, pemerintah dapat membutuhkan instrumen kompensasi untuk menjaga daya beli, termasuk melalui bantuan sosial.

“Sehingga juga kompensasi seperti bansos juga perlu juga akan diberlakukan oleh pemerintah. Jadi tekanan fiskal mungkin yang paling akan dirasakan immediately,” kata Mari.

Energi Terbarukan Jadi Opsi

Untuk mengurangi kerentanan tersebut, Mari mendorong diversifikasi sumber energi dalam jangka menengah. Kebergantungan pada energi fosil membuat Indonesia ikut terdampak ketika harga minyak dunia bergerak tajam.

“Dalam jangka menengah, tantangan kita bagaimana kita diversifikasi sumber daya energi kita kepada renewable dan lain sebagainya,” kata Mari.

Menurutnya, peningkatan penggunaan energi terbarukan dapat menjadi salah satu cara mengurangi ketergantungan terhadap energi yang harganya sangat dipengaruhi kondisi geopolitik global. Langkah tersebut sekaligus dapat memperkuat ketahanan ekonomi dan fiskal Indonesia ketika terjadi gejolak harga energi dunia.