Kumparan Logo

Harga Beras di Asia Naik 20 Persen Akibat Perang-Cuaca Ekstrem

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja mengangkut beras.  Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja mengangkut beras. Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Harga beras di kawasan Asia mengalami lonjakan tajam sepanjang Mei 2026. Kenaikan ini menjadi yang terbesar dalam hampir dua dekade, didorong oleh kekhawatiran terhadap gangguan produksi akibat cuaca ekstrem serta meningkatnya biaya energi dan pupuk yang dipicu konflik geopolitik.

Mengutip Bloomberg, Minggu (31/5), beras putih Thailand yang menjadi salah satu acuan harga di pasar Asia tercatat melonjak 20 persen sepanjang Mei. Berdasarkan data sejak 2008, kenaikan tersebut merupakan yang terbesar dalam periode bulanan. Di saat yang sama, harga kontrak berjangka beras di Chicago Board of Trade turut menguat sekitar 15 persen.

Analis komoditas BMI, unit riset dari Fitch Solutions, Bin Hui Ong, menilai tren kenaikan harga beras masih berpotensi berlanjut. BMI bahkan telah merevisi naik proyeksi harga kontrak berjangka beras di Chicago pada awal bulan ini.

Menurut Ong, risiko kemunculan fenomena El Niño menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati pasar. Cuaca yang lebih panas dan kering di sejumlah negara Asia berpotensi mengganggu produksi dan memperketat pasokan.

Pekerja menurunkan beras dari kapal di Pelabuhan Tanjungwangi, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (22/2/2024). Foto: Budi Candra Setya/Antara Foto

Di sisi lain, rantai pasok energi dan pupuk masih menghadapi tekanan akibat hampir tertutupnya Selat Hormuz. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran petani di negara-negara Asia yang bergantung pada impor pupuk dan bahan bakar karena biaya produksi berpotensi semakin mahal.

Beras merupakan komoditas pangan utama di Asia sekaligus sumber pangan pokok bagi miliaran penduduk. Negara-negara seperti Thailand, Vietnam, dan India juga berperan penting sebagai pemasok beras ke pasar global.

Tekanan biaya produksi mulai dirasakan petani menjelang musim tanam utama di berbagai wilayah Asia. Sebagian petani dilaporkan mempertimbangkan untuk mengurangi luas tanam bahkan menunda musim tanam akibat lonjakan harga pupuk.

Tran Van Be Bay, petani berusia 60 tahun dari Provinsi Vinh Long, Vietnam selatan, mengatakan kenaikan biaya produksi membuatnya berencana mengurangi aktivitas tanam tahun ini. Biasanya ia menanam padi tiga kali dalam setahun.

“Dengan biaya yang meningkat dan cuaca sepanas ini, sekarang bukan waktu yang tepat untuk menanam tanaman baru,” ujarnya.

Ia menambahkan, penggunaan pupuk yang lebih banyak juga bukan solusi karena selain mahal dapat berdampak negatif terhadap tanaman.

“Menggunakan lebih banyak pupuk bukan hanya lebih mahal, tetapi juga dapat merusak tanaman," katanya.

video story embed

Kenaikan harga pupuk menjadi perhatian karena padi termasuk komoditas yang membutuhkan pemupukan dalam jumlah besar. Selain itu, sistem irigasi di banyak wilayah masih mengandalkan pompa berbahan bakar diesel sehingga kenaikan harga energi turut membebani petani.

Berdasarkan data International Rice Research Institute (IRRI), harga pupuk nitrogen di Thailand, Kamboja, dan Filipina telah meningkat sekitar 40-50 persen sejak konflik pecah pada Februari lalu.

Ilmuwan senior bidang analisis kebijakan dan perubahan iklim IRRI, Alisher Mirzabaev, mengatakan ketersediaan pupuk untuk periode Maret hingga Mei masih relatif aman. Namun, risiko kekurangan pasokan dapat muncul apabila perdagangan pupuk global belum kembali normal dalam waktu dekat.

Produksi beras Asia yang melemah berpotensi mempengaruhi keseimbangan pasokan dunia. Filipina sebelumnya memperingatkan bahwa El Niño yang kuat dapat memangkas produksi gabah hingga 700.000 ton atau sekitar 3,5 persen dari target produksi tahunannya.

Meski demikian, sejumlah analis menilai kenaikan harga beras global masih memiliki batas. Analis pasar International Grains Council, Peter Clubb, mengatakan stok beras dunia saat ini masih cukup besar, terutama di India yang merupakan salah satu produsen terbesar dunia. Selain itu, permintaan global yang belum terlalu kuat dinilai dapat menahan laju kenaikan harga lebih lanjut.