KAI Bakal Bangun Trem Listrik di Bali, Sambungkan Bandara Ngurah Rai ke Canggu

PT Kereta Api Indonesia atau KAI (Persero) bersama Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Badung sepakat menyiapkan rencana pengembangan perkeretaapian trem listrik di Bali. Transportasi itu diharapkan menjadi solusi kemacetan di koridor Bandara I Gusti Ngurah Rai-Canggu yang mencatatkan mobilitas harian hingga 150 ribu orang dan 80 ribu kendaraan.
Saat ini sudah ada Kesepakatan Bersama tentang Rencana Pengembangan Perkeretaapian di Provinsi Bali yang ditandatangani Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin, Gubernur Bali Wayan Koster, dan Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, Selasa (1/9).
Bobby mengatakan perkembangan ekonomi, pariwisata, dan mobilitas masyarakat menjadi faktor penting dalam melihat kebutuhan sistem transportasi Bali ke depan.
“Melalui kesepakatan ini, kami bersama pemerintah daerah mulai mempelajari bagaimana perkeretaapian dapat menjadi bagian dari pengembangan sistem transportasi Bali,” ujar Bobby melalui keterangan tertulis, Rabu (2/9).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, ekonomi Pulau Dewata pada kuartal II 2026 tumbuh 5,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode itu, PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp 89,27 triliun. Lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi kontributor terbesar dengan porsi 21,91 persen.
BPS juga mencatat jumlah wisatawan mancanegara yang datang langsung ke Bali pada Juni 2026 mencapai 605.013 kunjungan. Angka tersebut meningkat 4,63 persen dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 578.251 kunjungan.
Pada periode yang sama, jumlah penumpang penerbangan internasional yang berangkat dari Bali mencapai 650.838 orang, naik 4,93 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, penumpang penerbangan domestik yang berangkat dari Bali tercatat 329.891 orang atau meningkat 4,68 persen.
Bobby menyebut, karakter Bali sebagai salah satu pusat pariwisata Indonesia membuat pengembangan sistem transportasi perlu memperhatikan keterhubungan antara pusat aktivitas masyarakat, kawasan pariwisata, serta berbagai moda transportasi yang telah tersedia.
“Bali memiliki karakter mobilitas dan pengembangan wilayah yang khas. Karena itu, kebutuhan, potensi, integrasi antarmoda, hingga kelayakan pengembangan perkeretaapian perlu dipelajari secara menyeluruh agar rencana yang disiapkan memiliki dasar yang kuat dan sesuai dengan kebutuhan daerah,” kata Bobby.
Dalam kesepakatan, sejumlah ruang lingkup yang disiapkan meliputi inventarisasi data dan informasi, penyusunan kajian kelayakan dan/atau Detail Engineering Design (DED), integrasi antarmoda, hingga peningkatan kompetensi sumber daya manusia.
Ketiga pihak juga bakal melakukan koordinasi dengan kementerian/lembaga, badan usaha, serta pemangku kepentingan terkait dalam proses pengembangan rencana perkeretaapian di Bali.
Kesepakatan Bersama, kata Bobby, berlaku selama lima tahun sejak ditandatangani. Pelaksanaannya dapat ditindaklanjuti melalui Perjanjian Kerja Sama sesuai dengan kewenangan masing-masing pihak.
“Setiap tahap akan disiapkan secara cermat, prudent, dan sesuai regulasi agar rencana yang dihasilkan feasible serta memberikan manfaat jangka panjang bagi mobilitas masyarakat dan pengembangan wilayah Bali,” tutur Bobby.
Sementara itu, Koster mengatakan keberadaan trem bisa menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Bali. Ia menekankan kenyamanan wisatawan harus tetap dijaga.
Selain mendukung kepariwisataan, Koster memastikan jalur trem listrik sepanjang 12 kilometer itu akan memperhatikan keberadaan hotel, akomodasi wisata, objek wisata, lingkungan, permukiman, hingga kehidupan masyarakat setempat.
Koster menjelaskan trem dirancang secara khusus agar berbeda dari kereta konvensional, yakni berukuran kecil, bahkan lebih kecil dari bus dengan lebar dimensi 2 meter lebih, tidak berisik, ramah lingkungan, serta bebas kabel melayang karena berbasis baterai.
Sesuai perencanaan, trem listrik diproyeksikan memiliki waktu tempuh 30 menit dengan interval keberangkatan 10 menit. Moda ini ditargetkan mengangkut hingga 60 ribu penumpang per hari atau mengakomodasi 40 persen mobilitas kawasan.
Setelah penandatanganan ini, pihak Pemprov Bali bersama pemangku kepentingan akan segera menggelar studi teknis, sosialisasi, hingga pelibatan desa adat. Tahap peletakan batu pertama (groundbreaking) rencananya berlangsung pada Maret 2027, kemudian trase pertama dapat mulai beroperasi pada 2028 dan seluruh jalur hingga Canggu rampung sepenuhnya pada 2029.
