KAI Group Layani 351,6 Juta Pelanggan hingga Agustus 2026

PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama seluruh entitas KAI Group mencatat 351.602.397 pelanggan sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Angka tersebut naik 7,09 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 328.311.868 pelanggan.
Peningkatan jumlah pelanggan terjadi di berbagai layanan perkeretaapian, mulai dari kereta wisata, LRT, kereta antarkota dan lokal, commuter, kereta bandara, hingga kereta cepat.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyebut pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin beragamnya kebutuhan masyarakat terhadap transportasi berbasis rel.
“Sebanyak 351,6 juta pelanggan telah menggunakan layanan KAI Group dalam delapan bulan pertama 2026. Pertumbuhan terjadi pada berbagai karakter perjalanan, mulai dari mobilitas harian di kawasan perkotaan, perjalanan antarkota, akses menuju bandara, hingga perjalanan wisata. Keterhubungan antarlayanan terus kami perkuat agar manfaat transportasi berbasis rel semakin luas,” ujar Anne dalam keterangan resminya, Kamis (3/9).
Layanan dengan pertumbuhan pelanggan paling tinggi berasal dari KAI Wisata. Sepanjang delapan bulan pertama 2026, layanan tersebut mencatat 216.980 pelanggan, naik 49,09 persen dari 145.537 pelanggan pada periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan tersebut menunjukkan semakin berkembangnya pemanfaatan perjalanan kereta sebagai bagian dari aktivitas wisata, termasuk untuk pengalaman perjalanan premium.
Selanjutnya, LRT Jabodebek mencatat 21.809.797 pelanggan atau tumbuh 19,05 persen dibandingkan Januari-Agustus 2025 yang sebanyak 18.320.640 pelanggan.
LRT Jabodebek melayani mobilitas masyarakat dari Jakarta menuju kawasan penyangga melalui lintas Cibubur dan Bekasi. Layanan tersebut juga terhubung dengan sejumlah moda transportasi lain, seperti Commuter Line, MRT Jakarta, TransJakarta, Whoosh, serta angkutan lanjutan.
Di Sulawesi Selatan, jumlah pengguna KA Makassar-Parepare juga mengalami peningkatan. Pada Januari-Agustus 2026, layanan tersebut melayani 231.764 pelanggan, naik 13,13 persen dari 204.856 pelanggan pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini menunjukkan kebutuhan terhadap transportasi kereta api di Sulawesi terus meningkat sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap transportasi publik di wilayah tersebut.
Sementara itu, layanan KA Jarak Jauh dan Lokal yang dikelola KAI mencatat 40.379.062 pelanggan selama Januari-Agustus 2026. Jumlah tersebut meningkat 8,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 37.152.345 pelanggan.
Jaringan kereta jarak jauh dan lokal tersebut melayani perjalanan masyarakat antarkota maupun dalam wilayah lokal, termasuk menuju berbagai pusat ekonomi, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, dan kawasan permukiman.
KAI Commuter Sumbang Volume Terbesar
Dari sisi volume, KAI Commuter masih menjadi penyumbang pelanggan terbesar di lingkungan KAI Group. Sepanjang Januari-Agustus 2026, jumlah pengguna mencapai 277.272.682 pelanggan atau naik 6,32 persen dibandingkan 260.797.109 pelanggan pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Layanan commuter berperan dalam menunjang mobilitas masyarakat sehari-hari, khususnya di kawasan Jabodetabek dan sejumlah wilayah pelayanan di Pulau Jawa.
Adapun layanan kereta cepat Whoosh mencatat 4.078.168 pelanggan hingga Agustus 2026. Jumlah tersebut naik 0,68 persen dibandingkan 4.050.791 pelanggan pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Whoosh menjadi salah satu penghubung perjalanan Jakarta-Bandung dan terintegrasi dengan layanan transportasi lainnya. Integrasi tersebut antara lain melalui LRT Jabodebek di Halim serta KA Feeder yang melayani perjalanan menuju pusat Kota Bandung.
KAI Bandara juga mencatat pertumbuhan meski tipis. Jumlah pelanggannya mencapai 4.647.947 orang, naik 0,19 persen dari 4.639.062 pelanggan pada Januari-Agustus 2025.
Layanan tersebut memberikan alternatif bagi masyarakat untuk mengakses sejumlah bandar udara sekaligus terhubung dengan jaringan transportasi perkotaan maupun antarkota.
Di Sumatra Selatan, LRT Sumsel melayani 2.965.997 pelanggan sepanjang Januari-Agustus 2026. Layanan ini menghubungkan Stasiun Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II dengan Stasiun DJKA di kawasan Jakabaring.
Jalur LRT Sumsel juga melewati kawasan pusat Kota Palembang dan sejumlah lokasi yang menjadi pusat aktivitas masyarakat.
Anne mengatakan, luasnya ekosistem KAI Group memungkinkan masyarakat mengombinasikan sejumlah layanan kereta api dalam satu perjalanan.
Di Pulau Jawa, misalnya, jaringan KA Jarak Jauh dan Lokal terhubung dengan KAI Commuter, LRT Jabodebek, KAI Bandara, Whoosh, serta sejumlah moda transportasi perkotaan lainnya di stasiun-stasiun integrasi.
Integrasi tersebut terlihat di sejumlah titik, seperti Halim yang menjadi lokasi koneksi LRT Jabodebek dengan Whoosh. Sementara di kawasan Dukuh Atas, Commuter Line, LRT Jabodebek, MRT Jakarta, KA Bandara, dan TransJakarta saling terhubung.
Konektivitas serupa juga dikembangkan di Bandung Raya melalui integrasi Whoosh dengan KA Feeder dan jaringan kereta lainnya.
Di Sumatra, kereta api juga menjadi bagian dari sistem mobilitas masyarakat. Jaringan KA penumpang antarkota dan lokal melayani berbagai wilayah, sedangkan LRT Sumsel mendukung mobilitas warga Palembang sekaligus akses menuju Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.
Menurut KAI, konektivitas tersebut memberikan alternatif perjalanan berbasis angkutan massal sekaligus mendukung kegiatan ekonomi dan pariwisata di daerah.
“Setiap layanan mempunyai fungsi yang saling melengkapi. Kereta antarkota menghubungkan wilayah, commuter dan LRT melayani mobilitas perkotaan, kereta bandara menghubungkan perjalanan dengan transportasi udara, sedangkan Whoosh memperkuat perjalanan antarkawasan metropolitan. Integrasi inilah yang terus kami kembangkan agar perpindahan masyarakat semakin efisien dan mudah,” kata Anne.
Selain mengangkut penumpang, KAI juga mencatat aktivitas angkutan barang yang mendukung rantai logistik nasional.
Sepanjang Januari-Agustus 2026, KAI mengangkut 36.854.758 ton batu bara dan 8.051.205 ton komoditas nonbatu bara. Angkutan tersebut mencakup peti kemas, semen, BBM, pulp, produk perkebunan, hingga barang retail.
Transportasi barang menggunakan kereta api tersebut mendukung distribusi komoditas dari kawasan produksi menuju pusat industri dan berbagai titik distribusi.
“KAI Group akan terus meningkatkan keselamatan, keandalan, kapasitas, dan integrasi layanan. Pertumbuhan pelanggan menjadi dorongan bagi kami untuk memastikan jaringan perkeretaapian memberikan manfaat yang semakin besar bagi mobilitas masyarakat dan perekonomian nasional,” tutup Anne.
