Kemenperin Sebut Penurunan Harga LNG Jadi Angin Segar bagi Industri

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai kebijakan penurunan harga liquefied natural gas (LNG) untuk sektor industri menjadi USD 13 per MMBTU menjadi kabar positif bagi pelaku usaha di tengah tekanan ekonomi global dan tingginya biaya energi.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, menyampaikan bahwa hal tersebut menjadi angin segar di tengah tantangan pemenuhan energi dan bahan baku yang tengah dihadapi oleh para pelaku manufaktur domestik.
“Penurunan itu adalah angin segar bagi industri agar industri bisa semakin produktif ya, meningkatkan utilisasi produksi dan meningkatkan daya saing produknya,” ujar Febri di Kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa (30/6).
Febri menambahkan bahwa kepastian pasokan gas bumi dengan harga yang kompetitif merupakan urat nadi bagi keberlangsungan investasi dan produktivitas berbagai sektor industri kritis di Indonesia.
Sebelumnya, Kemenperin juga menyuarakan aspirasi dan harapan besar dari para pelaku industri nasional terkait implementasi kebijakan Alokasi Gas Industri Tertentu (AGIT). Febri menegaskan, sektor manufaktur sangat berharap agar kuota pasokan gas dapat dipenuhi secara utuh sesuai dengan apa yang telah menjadi keputusan resmi pemerintah.
Kemenperin menggarisbawahi poin-poin penting yang diharapkan oleh pelaku industri:
1. Penyaluran 100 persen sesuai regulasi: Pasokan gas bumi melalui skema AGIT harus dipenuhi sepenuhnya tanpa ada pemotongan (curtailment) di lapangan.
2. Tanpa pengurangan volume: Pelaku industri meminta agar volume yang sudah dialokasikan tidak dikurangi sepihak, karena hal tersebut langsung berdampak pada penurunan kapasitas produksi dan efisiensi pabrik.
3. Kepastian operasional: Keandalan pasokan energi sangat menentukan daya saing produk lokal di pasar domestik maupun ekspor.
"Pelaku industri sangat berharap agar apa yang sudah diputuskan oleh pemerintah terkait AGIT dapat direalisasikan sepenuhnya di lapangan. Tidak boleh ada pemotongan atau pengurangan volume, karena setiap penurunan pasokan akan langsung mengoreksi produktivitas manufaktur kita," tegas Febri.
