Ketika Konsumen Harus Memilih

Staf Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalteng
ยทwaktu baca 5 menit
Tulisan dari Fetria Isai Saman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saat mencari kebutuhan usaha, kita sering dihadapkan pada dua pilihan. Membeli produk dari merek besar yang sudah dikenal atau membeli produk UMKM yang kualitasnya terus membaik. Secara bisnis, pilihan termudah mungkin jatuh pada merek besar. Namun, semakin memahami dampak ekonomi dari setiap transaksi, semakin kita akan menyadari bahwa keputusan membeli produk UMKM a bukan sekadar aktivitas belanja, melainkan investasi bagi perekonomian Indonesia.
Banyak orang memandang UMKM hanya sebagai kelompok usaha yang perlu dibantu. Padahal, dalam realitas ekonomi Indonesia, UMKM merupakan fondasi yang menopang aktivitas ekonomi masyarakat. Dari produsen makanan dan minuman, pengrajin, penyedia jasa, hingga pelaku ekonomi kreatif, UMKM hadir dalam hampir setiap rantai pasok yang kita gunakan sehari-hari. Ingat di masa covid? UMKM adalah penopang ekonomi kita terus bertumbuh.
Dari segi konsumen sekaligus pelaku usaha, tantangan utama UMKM saat ini bukan hanya akses pembiayaan. Tantangan yang lebih mendasar adalah bagaimana menciptakan permintaan yang berkelanjutan. Banyak UMKM mampu memproduksi barang dengan kualitas yang baik, tetapi sering kesulitan memperoleh pasar yang stabil.
Di sinilah peran konsumen menjadi sangat strategis. Setiap keputusan membeli produk UMKM menciptakan efek berganda. Ketika sebuah usaha kecil menerima pesanan, yang bergerak bukan hanya pemilik usahanya. Ada pekerja yang memperoleh penghasilan, pemasok bahan baku yang mendapatkan permintaan baru, hingga pelaku logistik yang ikut menikmati aktivitas ekonomi tersebut.
Dalam konteks inilah pesan yang terus disampaikan Bank Indonesia mengenai penguatan UMKM menjadi sangat relevan. Selama ini, pengembangan UMKM banyak dikaitkan dengan pembiayaan, pelatihan, digitalisasi, dan perluasan akses pasar. Namun, seluruh upaya tersebut pada akhirnya bermuara pada satu hal: adanya konsumen yang bersedia membeli produk UMKM secara berkelanjutan.
Tantangan berikutnya adalah perubahan perilaku konsumen. Kita hidup di era ketika harga sering menjadi pertimbangan utama. Padahal, nilai sebuah produk tidak semata-mata ditentukan oleh harga terendah. Ada nilai tambah ekonomi yang tercipta ketika kita memilih produk lokal yang diproduksi oleh UMKM Indonesia. Setiap pembelian menjadi dukungan terhadap penciptaan lapangan kerja, pemerataan ekonomi, dan penguatan usaha domestik.
Bagi pelaku usaha, penggunaan produk UMKM juga dapat menjadi bagian dari strategi bisnis. Banyak perusahaan kini mencari pemasok yang lebih dekat, lebih fleksibel, dan lebih memahami kebutuhan pasar lokal. UMKM memiliki keunggulan tersebut. Dengan dukungan kualitas, sertifikasi, dan digitalisasi yang terus berkembang, UMKM tidak lagi hanya menjadi alternatif pemasok, tetapi dapat menjadi mitra utama dalam rantai pasok.
Momentum ini semakin penting ketika Indonesia berupaya menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah global. Ekosistem halal yang kuat tidak akan terbentuk hanya melalui sertifikasi atau pembiayaan syariah. Ekosistem tersebut membutuhkan transaksi nyata. Produk halal yang dihasilkan UMKM membutuhkan konsumen yang percaya dan memilihnya. Tanpa permintaan pasar, seluruh upaya pengembangan ekonomi syariah hanya akan berhenti pada sisi penawaran.
Karena itu, salah satu ukuran keberhasilan pengembangan UMKM ke depan bukan hanya jumlah pelaku usaha yang mendapatkan pelatihan atau pembiayaan. Ukuran yang lebih penting adalah semakin banyaknya konsumen yang secara sadar memilih produk UMKM sebagai bagian dari gaya hidup dan keputusan bisnis mereka, apalagi produk yang berlabel halal.
Paradigma inilah yang perlu terus diperkuat. UMKM tidak membutuhkan belas kasihan pasar. UMKM membutuhkan kepercayaan pasar. Ketika kualitas produk mampu bersaing, konsumen memiliki alasan yang kuat untuk memilihnya. Dan ketika pilihan tersebut dilakukan oleh jutaan konsumen Indonesia, dampaknya akan jauh lebih besar dibandingkan berbagai program bantuan yang bersifat sementara.
Pada akhirnya, masa depan UMKM tidak hanya ditentukan oleh kemampuan para pelaku usaha untuk menjual produknya. Masa depan UMKM juga ditentukan oleh keberanian kita sebagai konsumen untuk memilih produk karya anak bangsa. Sebab dalam setiap transaksi UMKM, sesungguhnya terdapat transformasi ekonomi yang lebih besar daripada nilai barang yang kita beli.
Memilih produk UMKM sesungguhnya bukan sekadar keputusan membeli barang atau jasa. Di balik setiap transaksi, terdapat kontribusi terhadap sektor yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Data yang dirilis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan bahwa UMKM berkontribusi lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, menyerap hampir 97% tenaga kerja, serta berjumlah lebih dari 64 juta unit usaha. Sementara itu, berbagai publikasi yang mengutip IMF Country Report 2024 mencatat kontribusi UMKM terhadap PDB mencapai sekitar 61% dan mencakup sekitar 99% unit usaha di Indonesia.
Besarnya kontribusi tersebut menjadikan UMKM bukan sekadar sektor ekonomi biasa, melainkan fondasi utama ketahanan ekonomi nasional. Ketika konsumen membeli produk UMKM, yang tumbuh bukan hanya pendapatan pelaku usaha, tetapi juga kesempatan kerja, aktivitas produksi lokal, serta perputaran ekonomi di daerah. Di situlah kampanye penggunaan produk UMKM harus kembali digaungkan terutama bagi generasi masa kini yang lebih mementingkan dampak lingkungan dan sosial sebagai alasan memilih suatu produk.
Dalam beberapa tahun terakhir, Bank Indonesia konsisten mendorong penguatan UMKM melalui digitalisasi, pembiayaan, pengembangan ekosistem halal, dan perluasan akses pasar. Upaya tersebut menjadi penting karena meskipun mendominasi struktur ekonomi nasional, kontribusi UMKM terhadap ekspor Indonesia masih sekitar 15,7% dari total ekspor nasional. Artinya, terdapat ruang yang sangat besar untuk meningkatkan daya saing dan kapasitas UMKM agar mampu menembus pasar global.
Keberhasilan pemberdayaan UMKM tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pelaku usaha menghasilkan produk yang berkualitas. Faktor yang sering luput dari pembahasan adalah peran konsumen. Jika pembiayaan merupakan bahan bakar bagi UMKM, maka keputusan membeli produk UMKM adalah mesin yang menggerakkan usaha tersebut. Tanpa permintaan, tidak ada produksi. Tanpa produksi, tidak ada penyerapan tenaga kerja maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat.
