Kumparan Logo

Laba Bersih BSI Tembus Rp 4,16 Triliun di Semester I 2026, Naik 11 Persen

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Anggoro Eko Cahyo bersama jajaran direksi berfoto sebelum memaparkan kinerja BSI pada triwulan II tahun 2026 di Kantor Pusat BSI, Jakarta, Jumat (21/8/2026). Foto: Akbar Mubarak/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Anggoro Eko Cahyo bersama jajaran direksi berfoto sebelum memaparkan kinerja BSI pada triwulan II tahun 2026 di Kantor Pusat BSI, Jakarta, Jumat (21/8/2026). Foto: Akbar Mubarak/kumparan

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) membukukan laba bersih sebesar Rp 4,16 triliun pada semester I 2026. Angka itu tumbuh 11 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, mengatakan penguatan teknologi yang dilakukan perseroan dalam beberapa tahun terakhir mulai memberikan dampak terhadap pertumbuhan bisnis dan jumlah nasabah.

"Teknologi bukan lagi sekadar fungsi pendukung operasional. Bagi BSI, teknologi telah menjadi mesin pertumbuhan bisnis. Semakin baik pengalaman nasabah, semakin tinggi tingkat kepercayaan, semakin besar akuisisi nasabah, dan semakin luas peluang untuk mengembangkan seluruh ekosistem layanan keuangan syariah," ujar Anggoro saat konferensi pers secara daring pada Jumat (21/8).

Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Anggoro Eko Cahyo memaparkan kinerja BSI pada triwulan II tahun 2026 di Kantor Pusat BSI, Jakarta, Jumat (21/8/2026). Foto: Akbar Mubarak/kumparan

Anggoro menyebut hingga Juni 2026, jumlah nasabah BSI mencapai 24,3 juta atau menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah perseroan. Sejak Mei 2026, setelah transformasi teknologi selesai, pertumbuhan nasabah tercatat lebih dari 200 ribu per bulan.

Pertumbuhan jumlah nasabah itu turut membuka peluang pengembangan bisnis BSI, mulai dari penghimpunan dana murah, pembiayaan, transaksi digital, wealth management, bisnis emas, hingga layanan haji dan umrah.

Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) BSI tumbuh 22 persen yoy menjadi Rp 393 triliun. Pertumbuhan DPK didorong peningkatan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) yang mencapai Rp 238 triliun.

Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Anggoro Eko Cahyo (kedua kiri) bersama jajaran direksi memaparkan kinerja BSI pada triwulan II tahun 2026 di Kantor Pusat BSI, Jakarta, Jumat (21/8/2026). Foto: Akbar Mubarak/kumparan

CASA tersebut terdiri dari tabungan sebesar Rp 173 triliun dan giro Rp 65,5 triliun. Struktur pendanaan yang kuat turut menekan Cost of Fund (CoF) menjadi 2,19 persen.

Pembiayaan BSI juga tumbuh di berbagai segmen. Pembiayaan wholesale mencapai Rp 95 triliun, pembiayaan ritel dan UMKM sebesar Rp 55,83 triliun, sedangkan pembiayaan konsumer mencapai Rp 189,25 triliun. Adapun rasio Non Performing Financing (NPF) gross sebesar 1,80 persen dan NPF net sebesar 0,33 persen.

Selain pendapatan dari bisnis intermediasi, BSI mencatat pertumbuhan pendapatan berbasis komisi atau Fee Based Income (FBI) sebesar 38,15 persen menjadi Rp 4,1 triliun.

Total aset BSI hingga Juni 2026 mencapai Rp 464,5 triliun, tumbuh 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Seorang model menunjukkan replika emas batangan BSI saat peluncuran BSI Gold di Jakarta, Kamis (28/11/2024). Foto: Fauzan/ANTARA FOTO

Penguatan bisnis emas juga menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekosistem BSI. Hingga Juni 2026, BSI memiliki 1,22 juta nasabah emas, terdiri dari 594,6 ribu nasabah cicil emas dan 209,7 ribu nasabah gadai emas. BSI juga mencatat 7,69 juta nasabah haji dan lebih dari 585 ribu merchant QRIS.

"Ke depan, fokus kami bukan hanya menambah jumlah nasabah, tetapi meningkatkan nilai yang dapat kami berikan kepada setiap nasabah melalui layanan digital yang semakin relevan, mudah, dan terintegrasi,” tutup Anggoro.