Kumparan Logo

LPS: 15 Juta Masyarakat Indonesia Tak Punya Rekening

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu memegang kacamata saat menyampaikan keterangan pers hasil Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) kuartal I 2026 di Jakarta, Kamis (7/5/2026). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu memegang kacamata saat menyampaikan keterangan pers hasil Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) kuartal I 2026 di Jakarta, Kamis (7/5/2026). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

Masyarakat Indonesia yang belum memiliki rekening bank terus menyusut. Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menyebut jumlah penduduk usia produktif 15-69 tahun yang belum memiliki rekening kini tersisa sekitar 15 juta orang.

Anggito mengatakan, penurunan jumlah penduduk tanpa rekening terjadi secara konsisten dari tahun ke tahun. Menurut dia, tren tersebut mencerminkan semakin luasnya penggunaan layanan perbankan dalam aktivitas ekonomi masyarakat.

"Jumlah penduduk yang tidak punya rekening semakin kecil sekarang. Kan, setiap tahun saya monitor, turun sekitar 2 jutaan. Sekarang tinggal 15 juta. Berarti, kan, masyarakat punya rekening untuk beraktivitas. Terus rekening yang aktif, itu masih semakin banyak setahun terakhir ini," kata Anggito saat ditemui di Kompleks Parlemen RI, Senin (20/7).

Ia menilai data tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat masih berjalan. Selain itu, nilai simpanan masyarakat juga meningkat di berbagai kelompok nasabah, termasuk segmen kelas menengah.

Ilustrasi rekening tabungan di bank. Foto: Shutterstock

Anggito menambahkan, rekening dengan saldo di atas Rp 5 miliar juga mengalami kenaikan yang cukup tinggi, baik dari sisi nominal simpanan maupun jumlah rekening.

"Jumlah nominal maupun jumlah rekeningnya naik. Sampai yang paling tinggi, yang paling besar, yang Rp 5 miliar, itu naiknya tinggi besar, tinggi sekali. Saya, kan, hanya memotret aja, potretnya mengatakan bahwa jumlah nominal, jumlah rekening naik, itu aja," ungkapnya.

Menurut Anggito, perkembangan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa kondisi ekonomi mikro masih cukup baik dan menunjukkan peningkatan. Meski demikian, ia mengakui pertumbuhan kredit UMKM masih melambat.

"Tapi tadi belum sempat kita berdiskusikan, seolah-olah makronya baik itu mikronya nggak ada indikatornya baik. Tadi, kan, disebutkan kredit UKM itu hanya tumbuhnya 1 persen, 1,6 persen per Juni ya, atau 0,5 per Mei gitu. Kok rendah sekali? Tapi kalau kita bedah lagi, sebetulnya masih banyak indikator yang bisa menunjukkan bahwa sektor mikronya juga baik," pungkasnya.