RI Borong Emas Australia, Nilainya Tembus USD 1,19 Miliar dalam 3 Bulan
·waktu baca 2 menit

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan tajam impor logam mulia serta perhiasan/permata dari Australia pada awal 2026. Kenaikan ini terjadi di tengah tren harga emas global yang justru sedang melemah.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan nilai impor komoditas tersebut mencapai USD 1,19 miliar sepanjang Januari–Maret 2026. Angka itu menyumbang 37,92 persen dari total impor terkait dan melonjak signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Impor logam mulia dan perhiasan/permata dari Australia tumbuh relatif tinggi yaitu sampai mencapai 469,05 persen secara c to c (cumulative-to-cumulative),” kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Senin (4/5).
Secara keseluruhan, impor non-migas Indonesia dari Australia tercatat mencapai USD 3,14 miliar pada kuartal I 2026. Komoditas logam mulia dan perhiasan/permata menjadi kontributor terbesar dalam struktur impor tersebut.
“Impor non migas dari Australia tercatat sebesar USD 3,14 miliar yang didominasi impor logam mulia dan perhiasan/permata dengan share 37,92 persen,” jelas Ateng.
Selain logam mulia, impor dari Australia juga didorong oleh komoditas lain seperti serealia yang mencapai USD 394,55 juta atau naik 38,36 persen. Sementara itu, impor bahan bakar mineral tercatat sebesar USD 301,22 juta, namun mengalami penurunan 21,52 persen.
Di luar Australia, peningkatan impor logam mulia juga tercatat berasal dari Singapura. Sepanjang Januari-Februari 2026, nilainya mencapai USD 323,43 juta atau melonjak 196,50 persen secara tahunan.
