Rupiah Semakin Lemah, Tahu dan Tempe Akan Semakin Mahal

Mahasiswa Departemen Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari M Aqib Warman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nilai tukar rupiah belakangan ini terus mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat. Senin, 4 juni 2026, nilai tukar dolar terhadap rupiah mencapai Rp18 ribu per Dolar Amerika Serikat. Perhatian publik biasanya tertuju pada pasar keuangan, investor, atau kenaikan harga barang impor seperti elektronik dan kendaraan.
Namun, di balik angka-angka kurs yang bergerak di layar bursa, terdapat dampak yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah harga tempe dan tahu, dua sumber protein utama yang dikonsumsi jutaan rumah tangga, terutama masyarakat berpenghasilan rendah di pedesaan.
Hubungan antara pelemahan rupiah dan harga tempe mungkin tidak langsung terlihat. Namun jika ditelusuri lebih jauh, keduanya memiliki keterkaitan yang sangat erat. Penyebab utamanya adalah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai sebagai bahan baku utama industri tahu dan tempe.
Data Kementerian Pertanian dalam Statistik Konsumsi Pangan 2025 menunjukkan bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada kedelai impor. Selama periode 2020-2024, nilai Import Dependency Ratio (IDR) kedelai total berada pada kisaran 95,90 hingga 97,66 persen. Artinya, lebih dari 95 persen kebutuhan kedelai nasional dipenuhi melalui impor.
Sebaliknya, Self Sufficiency Ratio (SSR) atau tingkat swasembada kedelai hanya berada pada kisaran 2,67 hingga 4,36 persen. Pada tahun 2024, misalnya, produksi kedelai nasional hanya mencapai sekitar 230 ribu ton. Di sisi lain, impor kedelai mencapai lebih dari 8,19 juta ton. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan produksi dalam negeri masih sangat jauh dari kebutuhan nasional. Dengan kata lain, hampir seluruh rantai pasok kedelai Indonesia bergantung pada pasar internasional.
Ketergantungan tersebut menjadi semakin mengkhawatirkan ketika melihat asal negara pemasok kedelai Indonesia. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2024, Indonesia mengimpor sekitar 2,68 juta ton kedelai segar.
Dari jumlah tersebut, sekitar 2,38 juta ton atau hampir 89 persen berasal dari Amerika Serikat. Kanada menjadi pemasok kedua dengan porsi sekitar 10 persen, sementara negara-negara lain hanya menyumbang bagian yang sangat kecil.
Struktur impor seperti ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya bergantung pada impor, tetapi juga sangat bergantung pada satu negara pemasok utama. Akibatnya, setiap perubahan harga kedelai di pasar Amerika Serikat maupun perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan langsung memengaruhi biaya impor kedelai nasional.
Ketika rupiah melemah, importir harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk membeli jumlah dolar yang sama. Begini contohnya: jika sebelumnya satu dolar bisa kita beli dengan Rp15 Ribu, pada saat kurs mendekati Rp18 Ribu per dolar AS, biaya impor meningkat secara signifikan.
Kenaikan biaya tersebut kemudian diteruskan kepada pelaku usaha di dalam negeri, termasuk industri pengolahan tahu dan tempe. Bagi perusahaan besar, kenaikan biaya bahan baku mungkin masih dapat ditutupi melalui efisiensi atau penyesuaian harga secara bertahap. Namun bagi ribuan produsen tahu dan tempe skala kecil yang tersebar di berbagai desa, kenaikan harga kedelai merupakan ancaman serius terhadap keberlangsungan usaha mereka.
Pilihan yang tersedia biasanya tidak banyak. Mereka dapat menaikkan harga jual, mengurangi ukuran produk, atau mengurangi kualitas bahan baku. Dalam praktiknya, masyarakat sering menjumpai fenomena yang dikenal sebagai shrinkflation, yaitu ukuran tempe yang semakin kecil, tetapi dijual dengan harga yang sama.
Dampaknya tidak berhenti pada produsen. Kelompok yang justru paling rentan adalah konsumen berpenghasilan rendah, khususnya masyarakat pedesaan. Selama ini, tempe dan tahu dikenal sebagai sumber protein yang murah dan mudah diakses. Bagi banyak keluarga petani, buruh tani, nelayan kecil, dan pekerja sektor informal, tempe bukan sekadar lauk pendamping, melainkan juga sumber protein utama dalam konsumsi sehari-hari.
Ketika harga tempe dan tahu meningkat, rumah tangga miskin memiliki pilihan yang terbatas. Mereka sulit beralih ke sumber protein lain seperti daging sapi, ikan laut berkualitas tinggi, atau susu karena harganya jauh lebih mahal. Akibatnya, kenaikan harga kedelai berpotensi menurunkan kualitas konsumsi protein masyarakat, terutama pada anak-anak dan kelompok rentan lainnya.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berdampak pada kualitas sumber daya manusia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kecukupan protein merupakan faktor penting dalam mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan produktivitas tenaga kerja. Oleh karena itu, persoalan kedelai sesungguhnya tidak hanya berkaitan dengan perdagangan internasional, tetapi juga menyangkut ketahanan pangan dan kualitas pembangunan manusia Indonesia.
Ironisnya, Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki potensi lahan pertanian yang luas. Namun selama beberapa dekade terakhir, produksi kedelai nasional cenderung tertinggal dibandingkan pertumbuhan kebutuhan. Rendahnya produktivitas, keterbatasan lahan, persaingan dengan komoditas lain yang lebih menguntungkan, serta lemahnya insentif bagi petani menjadi beberapa faktor yang menyebabkan produksi kedelai domestik sulit berkembang.
Data SSR yang hanya berkisar 3 sampai 4 persen untuk kedelai total menunjukkan bahwa Indonesia masih sangat jauh dari target swasembada. Bahkan pada tahun terbaik dalam periode pengamatan, yakni tahun 2023, tingkat swasembada kedelai total hanya mencapai 4,36 persen. Angka tersebut mengindikasikan bahwa lebih dari 95 persen kebutuhan nasional tetap harus dipenuhi dari luar negeri.
Karena itu, pelemahan rupiah seharusnya tidak dipandang semata-mata sebagai masalah moneter. Kurs yang melemah memang dapat meningkatkan biaya impor, tetapi akar persoalan yang sesungguhnya adalah tingginya ketergantungan terhadap pasokan luar negeri. Selama Indonesia masih mengandalkan impor untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan kedelainya, setiap gejolak nilai tukar akan selalu berpotensi mengganggu stabilitas harga pangan domestik.
Pemerintah perlu melihat persoalan ini secara lebih strategis. Upaya menjaga stabilitas nilai tukar tentu penting, tetapi tidak cukup. Yang lebih mendasar adalah meningkatkan produksi kedelai dalam negeri melalui penyediaan benih unggul, perluasan areal tanam, peningkatan produktivitas, serta kebijakan harga yang memberikan insentif bagi petani. Selain itu, diversifikasi negara asal impor juga perlu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan yang terlalu besar terhadap satu pemasok.
Oleh karena itu, isu kedelai bukan sekadar persoalan perdagangan internasional atau statistik impor. Di balik angka impor jutaan ton dan fluktuasi kurs rupiah, terdapat jutaan keluarga Indonesia yang bergantung pada tempe dan tahu sebagai sumber pangan sehari-hari.
Ketika rupiah melemah dan harga kedelai naik, dampaknya tidak hanya terasa di pasar komoditas global, tetapi juga di meja makan masyarakat desa. Sebab bagi mereka, pelemahan rupiah sering kali berarti satu hal yang sederhana, tapi sangat nyata: tempe yang semakin kecil dan biaya hidup yang semakin berat.
