Konten dari Pengguna

Inovasi Mengajar Calon Guru SD Di Era Disrupsi

Boas Sababang

Boas Sababang

Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Pendidikan Guru Sekolah Dasar Mentawai

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Boas Sababang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Bos Sababang

Foto: Mahasiswa PGSD Universitas Sanata Dharma ( Boas Sababang) ,( sumber: humas pgsd).
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Mahasiswa PGSD Universitas Sanata Dharma ( Boas Sababang) ,( sumber: humas pgsd).

Menjadi seorang pendidik di era digital bukan lagi sekadar soal berdiri di depan kelas dan memegang kapur. Sebagai mahasiswa program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, saya merasakan betul bagaimana teknologi informasi telah mendarah daging dalam rutinitas akademik sejak pertama kali saya mengampu studi pada Agustus 2025 lalu.

Dunia perkuliahan kami tidak pernah lepas dari teknologi. Segala bentuk pengumpulan tugas hingga daftar hadir dilakukan melalui Learning Management System (LMS). Website ini menjadi saksi bisu bagaimana mahasiswa Sanata Dharma bergelut dengan tugas-tugas harian yang diberikan oleh dosen. Namun, tantangan sesungguhnya bukan sekadar mengunggah dokumen, melainkan bagaimana kami sebagai calon guru merespons perkembangan AI yang sangat pesat.

Menjinakkan AI dengan Rumus RCT di Kelas Bahasa Inggris

Foto: Games kreatif menebak gambar bersama anak SD Negeri 11 Kadisobo.

Dalam pandangan saya, AI memiliki dampak bak dua sisi mata uang bagi mahasiswa PGSD. Namun, satu hal yang pasti: calon guru SD tidak boleh buta teknologi. Di bawah bimbingan dosen Bahasa Inggris saya, Ibu Eny Winarti, M.Hum., Ph.D., kami belajar untuk beradaptasi dengan cara yang cerdas.

Kami tidak hanya diajarkan menggunakan AI, tetapi dilatih secara tekun untuk menulis dan menganalisis prompt (perintah) yang berkualitas melalui rumus RCT. Rumus ini menjadi senjata rahasia kami dalam menyusun materi pembelajaran yang efektif:

1. Role (Peran): Menentukan siapa AI tersebut. Contohnya: "Act as a friendly English teacher for PGSD."

2. Context (Konteks): Menjelaskan identitas kita dan masalah yang dihadapi. Contohnya: "I have a difficult text about inclusion, and my English is basic."

3. Task (Tugas): Memberikan instruksi spesifik. Contohnya: "Explain the main idea in 3 simple sentences using easy words."

4. Constraint (Batasan): Memberikan batasan agar hasil akurat. Contohnya: "Do not use academic jargon and give me 1 classroom example."

Kombinasi pembelajaran ini sangat relevan. Jika calon guru mengerti cara menge-prompt dengan benar, materi yang sulit sekalipun bisa dikemas menjadi pembelajaran yang menarik bagi siswa SD.

Narakarya di SD Karitas Nandan: Dari Teori ke Realitas

Foto mahasiswa PGSD Universitas santa dharma malaksanakan Kegaiatan Narakarya di Sekolah SD Karitas Nandan pada 8 Mei 2026. (sumber: humas pgsd)

Melek teknologi saja ternyata tidak cukup. Memasuki semester dua, kami dipersiapkan untuk terjun langsung melalui program Narakarya. Saya bersama lima orang rekan saya—Fidel, Rianti, Monik, Martina, dan Urell—berkesempatan melakukan praktik langsung di SD Karitas Nandan.

Pengalaman ini sangat berharga karena kami berhadapan langsung dengan karakter peserta didik yang beragam. Kami membagi tim menjadi dua kelompok untuk mengampu kelas yang berbeda: kelas 4 yang berada pada tingkat Siaga dan kelas 5 untuk tingkat Penggalang. Selama 14 kali pertemuan, kami tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar mengelola kelas. Tantangan sesungguhnya adalah menyelaraskan materi yang kami siapkan dengan laporan kegiatan yang harus diselesaikan sebagai bentuk pertanggungjawaban profesional.

Aksi Sosial Melawan Hoaks di SDN 11 Kadisobo

Foto bersama dengan siswa SD Negeri 11 Kadisobo bersama mahasiswa USD HMPSD PGSD dan Mahasiwa UGM BKMS, yang di laksanakan pada 8 Mei 2026. ( sumber: humas pgsd)

Jiwa pendidik tidak hanya tumbuh di dalam kelas, tapi juga melalui organisasi dan kepanitiaan. Selain aktif di Bazaar Prodi PGSD dan menjadi panitia Kuliah Umum pada 11 Mei 2025, saya terlibat dalam aksi sosial yang cukup krusial.

Bersama HMPS PGSD dan berkolaborasi dengan BKMS UGM, kami menggelar aksi sosial di SDN 11 Kadisobo pada 8 Mei 2026. Dengan mengusung tema "Melawan Hoaks", kami berupaya memberikan benteng literasi bagi siswa sekolah dasar. Respons kepala sekolah sangat luar biasa; mereka mengapresiasi upaya kami dalam membuat anak-anak melek informasi.

Kami mengajarkan siswa cara membedakan mana informasi yang benar berdasarkan sumbernya dan mana yang sekadar hoaks. Kami memperkenalkan sumber-sumber berita kredibel yang bisa mereka jadikan rujukan, seperti:

• Kompas.com

• CNN Indonesia

• Kumparan

• Liputan6

• Tempo

• Detik.com

Dalam aksi sosial ini, kami menerapkan teknik belajar efektif agar anak-anak tidak bosan, yaitu dengan menggunakan permainan (games), pertanyaan pemantik yang merangsang daya kritis, serta bernyanyi bersama. Kegiatan ini memberikan pemahaman mendalam bagi kami tentang bagaimana berinteraksi secara psikologis dengan anak-anak agar pesan yang disampaikan benar-benar meresap.

Penyerahan plakat pada pihak sekolah sebagai bentuk apresiasi dan ucapan teriamkasih.

Melalui berbagai rangkaian kegiatan ini, baik dari pembelajaran di kampus Sanata Dharma hingga terjun ke masyarakat, saya semakin yakin bahwa guru masa depan adalah mereka yang mampu memadukan kecanggihan teknologi seperti AI dengan empati dan teknik komunikasi yang humanis. Teknologi adalah alat, tetapi hati guru adalah kunci utama dalam mendidik.