Puncak Rinjani, Kamera iPhone, dan Fomo yang Menggeser Etika Gunung

Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Pendidikan Guru Sekolah Dasar Mentawai
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Boas Sababang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh: Boas Sababang

"FOMO banget dia," bisik temanku yang duduk di sebelahku. Tangan sejajarnya menunjuk ke satu arah.
Kami sedang berada di puncak Gunung Rinjani. Di depan kami, seorang pendaki tengah sibuk berpose di depan lensa iPhone 17. Latar belakangnya megah: kawah dalam yang sakral dan pemandangan luar biasa. Sayangnya, kemegahan itu mendadak rontok ketika si pendaki berteriak sekencang-kencangnya tanpa alasan yang jelas. Teriakan itu menggema, menabrak telinga ratusan pendaki lain yang sedang melepas lelah di bawah terik matahari pukul 11.30 siang.
Aku tertegun, lalu bergumam dalam hati: Indonesia memang selalu ramah dan memberikan ruang yang amat luas untuk orang-orang dengan "kelainan" haus validasi seperti ini. Bukankah alam punya aturannya sendiri?
Hari itu, aku menyaksikan lebih dari seratus orang berjejal di puncak Rinjani. Mirisnya, mayoritas dari mereka hadir di sana bukan karena rindu pada sunyinya alam atau ingin meresapi keagungan ciptaan Tuhan. Mereka datang hanya demi menuntaskan dahaga sebuah tren. Demi sebuah konten.
Ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di Rinjani. Namun, sebagai orang yang akrab dengan perjalanan—melewati bukit-bukit gersang dan jalur-jalur menantang saat menjelajah Sumatra—aku tahu ada yang keliru di sini. Ada pergeseran nilai yang nyata antara "pendaki" dan "pemburu konten".
Dulu, mendaki gunung adalah ritus kontemplasi. Sebuah ruang untuk menguji batas diri, menghormati adat setempat, dan tunduk pada hukum alam yang tak tertulis. Di gunung, kita belajar mengecilkan ego. Namun hari ini, di atas puncak Rinjani, yang kulihat justru sebaliknya: ego manusialah yang sengaja dipamerkan paling tinggi, melampaui tinggi gunung itu sendiri.
Alam tidak pernah butuh diteriaki seolah ia adalah panggung konser pribadi. Ia butuh didengar. Sayangnya, di era ketika piksel kamera lebih dihargai daripada etika, aturan main alam sering kali dilibas demi satu kata: Viral.
