Timnas Inggris, Inikah Saatnya Sepak Bola Pulang Kampung?

Pensiunan kedi pemaincingan. Sekarang gemar menulis.
Tulisan dari Bobby tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika Timnas Inggris menghantam Jerman dengan skor 2-0 di babak 16 besar Euro 2020, ingatan saya langsung terbang ke masa 11 tahun lalu. Ketika itu, saya yang sedang rajin-rajinnya nonton sepak bola, pulang kampung ke Kampung Keling, Medan.
Dikarenakan tidak punya ikatan apapun seperti dengan Timnas Indonesia, di kompetisi seperti Euro atau Piala Dunia, tim yang saya dukung selalu ganti-ganti, tergantung pemain yang saya suka berada di mana.
Pada Euro 2020 ini misalnya, saya mendukung Timnas Prancis karena suka N’Golo Kante dan Paul Pogba. Ada pula masanya ketika saya mendukung Timnas Inggris, tepatnya ketika Piala Dunia 2010 Afrika Selatan.
Selama kurang lebih sepekan, saya menyaksikan babak gugur Piala Dunia 2010 Afrika Selatan di Kampung Madras (sebutan Kampung Keling saat ini), dan yang paling saya ingat adalah laga Timnas Inggris menghadapi Jerman
Diperkuat pemain-pemain favorit saya, seperti Steven Gerrard, Frank Lampard, Wayne Rooney, John Terry, hingga Ashley Cole, menjadi sebab saya yakin ketika itu The Three Lions akan menang, bahkan angkat trofi di akhir kompetisi.
Sementara Die Mannschaft, kala itu didominasi pemain muda yang belum banyak saya ketahui. Bahkan, saya ingat, sempat heboh, Michael Ballack yang notabene kapten Timnas Jerman, terpaksa tidak dipanggil oleh Joachim Loew karena cedera.
Keduanya pun bertemu di babak 16 besar. Ingat sekali ketika itu, saya, om, dan kakak sepupu nonton bareng di dekat lobi hotel tempat kami menginap. Saya tetap keukeuh menjagokan Inggris, sementara kakak sepupu mendukung Jerman.
Lemas rasanya ketika Jerman unggul lewat Miroslav Klose dan Lukas Podolski, tapi mulai kembali bersemangat ketika tak lama Matthew Upson memperkecil ketertinggalan. Sampai akhirnya, jelang babak satu usai, saya dan pendukung Timnas Inggris yang lain bersorak.
Dari luar kotak penalti, tendangan keras Lampard, memanfaatkan kemelut yang terjadi, berhasil masuk ke gawang Manuel Neuer. Sayangnya, sorak sorai tak bertahan lama ketika wasit ternyata tidak mengesahkan bola yang sudah melewati garis gawang itu.
Sisa pertandingan cuma jadi kenangan pahit. Inggris babak belur, takluk 1-4 oleh Jerman. Sepanjang perjalanan pulang ke kamar hotel, saya mengeluhkan gol Lampard, sementara kakak sepupu saya hanya tertawa-tawa saja.
Kini, 11 tahun berlalu, saya dan sepupu yang sama kembali nobar laga Inggris kontra Jerman, kali ini di rumah saja karena pandemi virus corona. Babak 16 besar Euro 2020 kembali mempertemukan Inggris dan Jerman di ajang resmi sejak Piala Dunia 2010.
Kemenangan Inggris 2-0 atas Jerman, meski bukan lagi tim yang saya dukung, cukup membuat senang. Terlebih, saya dan sepupu bisa kembali mengingat dan membicarakan kenangan 11 tahun lalu itu.
Pada perempat final, Inggris kembali menang. Kontra Ukraina, Harry Kane cs tampil luar biasa, mengakhiri laga dengan keunggulan 4-0. Mereka pun kian dekat dengan trofi, membuat para pendukungnya semakin menggemakan seruan football's coming home.
Jadi, inikah saatnya sepak bola ‘pulang kampung’? Saya harap, sih, iya. Sebab, saya yang sudah 11 tahun tidak pulang ke Medan saja rasanya rindu, apalagi ‘sepak bola’ yang sudah 55 tahun?
Karena itu, semoga Inggris dan suporternya tetap semangat dan Biar kuat minum Kuku Bima, Roso!
