VARgentina, Wasit Buta, dan Cermin yang Tidak Pernah Kita Lihat

Tenaga Pengajar di Politeknik Sains & Teknologi Wiratama
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Abd Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah catatan tentang diving, psikologi kekalahan, dan pertanyaan yang agak menyakitkan untuk kita sendiri
Saya ingin memulai tulisan ini dengan pengakuan yang mungkin akan langsung membuat sebagian pembaca menutup tab ini.
Saya fans Argentina.
Sudah. Sekarang kamu tahu posisi saya. Dan justru karena tahu posisi saya, saya akan berusaha lebih keras dari biasanya untuk berpikir jernih. Karena fans yang baik bukan yang membela timnya secara buta — fans yang baik adalah yang bisa duduk tenang, menarik napas, dan bertanya: tunggu dulu, ini kontroversi atau memang begitu?
Malam ini di Kansas City, Argentina mengalahkan Swiss 3-1 dalam extra time. Dan sekali lagi, gol-golnya bukan yang paling banyak dibicarakan.
Kartu Merah, Aksi Diving, dan Satu Keputusan yang Mengubah Segalanya
Sesaat setelah Swiss menyamakan kedudukan di menit ke-67, terjadilah momen yang akan diperdebatkan panjang. Breel Embolo — yang sudah mengantongi satu kartu kuning — terjatuh berhadapan dengan Leandro Paredes. Wasit memberi Paredes kartu kuning. Tapi rekaman video memperlihatkan Embolo sudah jatuh sebelum Paredes menyentuhnya.
Karena aksi diving itu dianggap disengaja, Embolo justru yang dapat kartu kuning kedua — alias kartu merah.
Swiss bertahan luar biasa dengan 10 pemain, sampai Julian Alvarez melepas tembakan jarak jauh yang melengkung masuk di menit ke-112. Lautaro Martinez menambahkan gol di detik terakhir extra time. Skor 3-1 terlihat jauh lebih mudah dari yang sebenarnya terjadi.
Argentina ke semifinal. Lawan Inggris. Warganet kembali bekerja lembur.
Psikologi Kekalahan: Kenapa Wasit Selalu Bersalah
Di sinilah saya ingin berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam dari sepak bola.
Tahun 1975, psikolog Dale Miller dan Michael Ross memperkenalkan konsep yang kini menjadi referensi standar psikologi kognitif: self-serving bias. Sederhananya, manusia cenderung mengaitkan keberhasilan pada faktor internal — kemampuan, kerja keras — sementara kegagalan selalu punya kambing hitam eksternal.
Petenis yang menang berkata: "Saya menang karena saya bagus." Petenis yang kalah berkata: "Saya kalah karena wasit tidak adil."
Bias ini bukan sekadar kelemahan moral. Ia adalah mekanisme otomatis untuk melindungi harga diri — bekerja tanpa kita sadari, di kepala pelatih timnas maupun di kepala kita yang menonton dari sofa.
Ini tidak berarti semua tuduhan itu salah. Tapi ini berarti kita perlu menerima tuduhan dengan kepala lebih dingin. Argentina memang menerima delapan penalti dalam 12 pertandingan Piala Dunia terakhir — angka yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mantan wasit Carlos Chandia bahkan pernah mengaku sengaja tidak memberikan kartu kuning kepada Messi di Copa America karena tidak tega. Ada pola. Tapi pola itu tidak sebesar narasi yang beredar di beranda media sosial kita.
Dan Di Sinilah Saya Ingin Berbicara Tentang Kita
Sekarang, dengan penuh kelembutan namun juga penuh niat, izinkan saya mengajukan pertanyaan yang agak tidak nyaman.
Kita — rakyat Indonesia yang ramai mengecam FIFA karena diduga memberi jalan mulus bagi si pemain terbaik dunia — kita ini sedang membicarakan sistem yang seperti apa, ya?
Sistem di mana nama besar mendapat perlakuan istimewa? Sistem di mana ada yang diloloskan tanpa prosedur normal karena statusnya? Sistem di mana keputusan penting bisa dipengaruhi tekanan dari pihak yang punya kuasa?
Maaf. Saya perlu berhenti sejenak dan memeriksa apakah saya sedang menulis tentang FIFA atau tentang sesuatu yang jauh lebih dekat dengan rumah kita.
Di Indonesia ada kata yang terasa biasa padahal seharusnya mencengangkan: ordal. Orang Dalam. Institusi tidak resmi yang lebih kuat dari banyak peraturan resmi.
Ingin masuk sekolah unggulan? Ada jalur nilai, ada jalur prestasi, dan ada jalur ketiga yang tidak tercantum di brosur mana pun — tapi semua orang tahu ia ada, dan ia tidak butuh skor yang bagus, hanya nomor telepon yang tepat.
Ingin kerja di kantor bonafit? Ada tes kompetensi, dan ada obrolan singkat dua minggu sebelum pengumuman resmi, di tempat makan yang tagihannya tidak pernah masuk laporan keuangan mana pun.
Kita hidup di ekosistem di mana privilege bukan pengecualian — ia adalah fitur. Dan orang yang tidak punya akses ke fitur itu dianggap naif, bukan dirugikan.
Tapi kita marah pada FIFA karena Messi diduga mendapat perlakuan istimewa.
Ini seperti seseorang yang setiap hari merokok di dalam ruangan ber-AC, lalu pergi ke tetangga dan marah karena tetangganya membakar sampah di halaman terbuka.
Embolo mungkin memang diving. Atau mungkin ia jatuh duluan dan Paredes menyentuhnya belakangan — sulit dibedakan dalam kecepatan real time, dan lebih mudah dilihat jelas tergantung seragam tim mana yang kamu pakai saat menonton.
Yang membedakan manusia dari sekadar korban bias-nya sendiri adalah kemampuan untuk menyadari bahwa cermin itu ada — dan bahwa ia lebih berguna dari kacamata yang dipakai untuk melihat orang lain.
Argentina menunggu Inggris di Atlanta, empat hari lagi.
Dan entah bagaimana hasilnya, saya sudah tahu satu hal yang pasti terjadi setelahnya.
Ada yang akan menyalahkan wasit. Saya pun mungkin salah satunya — kalau Argentina kalah.
