Konten dari Pengguna

Sekolah Tanpa Logika: Apakah Sistem Pendidikan Gagal Mencetak Manusia Kritis?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Baltasar Yosef Mnaku Gawen tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap tahun, jutaan siswa lulus dari berbagai jenjang pendidikan di Indonesia. Mereka membawa ijazah, nilai rapor, dan beragam piagam penghargaan. Dibalik berita kesukesan Pendidikan tersebut, sebuah pertanyaan terbesit. Apakah mereka mampu berpikir kritis? Atau justru hanya menjadi produk dari sistem yang lebih mementingkan hafalan ketimbang nalar?

Ilustrasi berpikir kritis (Sumber gambar: istockphoto)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi berpikir kritis (Sumber gambar: istockphoto)

Sudah terlalu lama kurikulum kita terjebak dalam silabus formalistik. Hafalan menjadi indikator kecerdasan. Pelajaran Matematika, misalnya, seringkali hanya diajarkan sebatas rumus. Siswa diminta menghafal, mengerjakan soal, dan mendapatkan nilai. Hal serupa terjadi di pelajaran lain. Sejarah dihafalkan, bukan dianalisis. Bahasa Indonesia diuji lewat struktur, bukan makna. Pendidikan Kewarganegaraan hanya mengajarkan pasal-pasal, tapi lupa mengajarkan bagaimana berpikir sebagai warga yang kritis terhadap kebijakan publik.

Kurikulum kita selalu diperbarui, tetapi pembaruannya lebih sering bersifat administratif daripada substansial. Alih-alih memperkuat pemikiran reflektif dan argumentatif, kurikulum justru menambah beban materi, menjebak guru dalam kejar tayang target pembelajaran, dan membuat siswa semakin jauh dari pengalaman berpikir mendalam. Tidak sedikit guru yang ingin mendorong diskusi terbuka di kelas, namun terpaksa mengabaikannya karena tekanan "selesai materi" atau "persiapan ujian nasional". Dalam sistem seperti ini, belajar menjadi kegiatan mengejar nilai, bukan mencari makna.

Penilaian dalam pendidikan kita sangat terikat pada angka. Nilai 100 dianggap sempurna, dan siapa yang banyak bertanya justru sering dianggap mengganggu jalannya pelajaran. Dalam budaya seperti ini, siswa tak belajar bertanya, melainkan belajar diam. Menjadi pertanyaan, mengapa kita tidak menilai proses berpikir siswa sebagaimana kita menilai jawaban akhir? Mengapa esai, diskusi, dan argumentasi kritis jarang menjadi bagian dari penilaian utama?

Ilustrasi diskusi (Sumber gambar: Shutterstock)

Implikasi akhir dari sistem pendidikan tanpa logika adalah generasi yang gagap menghadapi kompleksitas dunia nyata. Banyak lulusan sekolah bahkan universitas kesulitan membuat keputusan rasional, mudah terpengaruh hoaks, atau bersikap pasif terhadap isu-isu sosial dan politik. Sudah saatnya kita bertanya, apakah tujuan utama pendidikan kita adalah mencetak manusia yang patuh, atau manusia yang berpikir? Jika kita ingin menciptakan masa depan yang lebih rasional dan adil, maka sistem pendidikan harus berani menempatkan logika dan berpikir kritis sebagai fondasi utama. Bukan sekadar mengajarkan apa yang harus dipikirkan, tapi bagaimana cara berpikir itu dibentuk, diuji, dan digunakan.