Guru Bahagia, Ekonomi Bergerak: Saatnya TPG Dibayar Setiap Bulan

Guru Ekonomi dan PKWU di SMA Negeri 1 Kota Sukabumi, Hobby Desain PowerPoint, Ketua PD IGI Kota Sukabumi,
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Budi Ediya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bayangkan setiap bulan jutaan guru di seluruh Indonesia menerima tunjangan profesinya tepat waktu. Tak ada lagi keluhan, tak ada lagi penantian panjang yang membuat dompet kering di akhir bulan. Setiap rupiah yang mereka terima akan langsung berputar — membeli sembako di warung sebelah, membayar biaya sekolah anak, hingga memperbaiki motor yang sudah lama mogok.
Kedengarannya sederhana, tapi percayalah, kebijakan ini bisa jadi mesin penggerak ekonomi rakyat yang luar biasa.
Selama ini, Tunjangan Profesi Guru (TPG) masih sering dibayarkan tiga bulan sekali, atau bahkan lebih lama karena urusan administrasi. Akibatnya, banyak guru harus memutar otak mencari pinjaman untuk bertahan hidup sambil menunggu “pencairan” yang belum pasti. Ironis, bukan? Guru yang setiap hari mengajarkan manajemen keuangan kepada siswanya justru harus berjibaku dengan ketidakpastian keuangannya sendiri.
Padahal, kalau TPG ini dibayarkan setiap bulan secara rutin, manfaatnya bisa jauh lebih besar — bukan hanya bagi guru, tapi juga bagi ekonomi nasional.
Ketika Uang Guru Menghidupkan Warung Tetangga
Kita kadang lupa, ekonomi Indonesia sesungguhnya bergerak dari bawah — dari warung, tukang sayur, penjual pulsa, pedagang pasar, dan usaha kecil di sekitar rumah kita. Nah, guru adalah salah satu penggerak setianya. Gaji dan tunjangan yang mereka belanjakan setiap bulan menjadi bahan bakar utama ekonomi lokal.
Kalau TPG dibayar bulanan, perputaran uang menjadi lebih stabil. Warung tak lagi sepi menunggu “pencairan sertifikasi”, pasar tradisional ramai setiap minggu, dan UMKM bisa memproduksi barang dengan lebih tenang karena pendapatan mereka lebih terprediksi. Satu kebijakan sederhana bisa menyalakan ribuan denyut ekonomi di daerah.
Guru Tenang, Pendidikan Berkembang
Tak bisa dipungkiri, kesejahteraan guru sangat berpengaruh pada kualitas pendidikan. Guru yang tenang urusan finansialnya bisa mengajar dengan hati. Ia datang ke sekolah bukan dengan wajah lelah, tapi dengan semangat. Ia bisa fokus menyiapkan pembelajaran kreatif, bukan sibuk memikirkan tagihan.
TPG bulanan juga membuat guru lebih berani berinvestasi pada dirinya: membeli laptop baru untuk mengajar daring, berlangganan platform belajar digital, atau mengikuti pelatihan peningkatan kompetensi. Uang yang pasti datang tiap bulan memberi rasa aman — dan rasa aman itu melahirkan motivasi.
Efek Domino yang Tak Bisa Diabaikan
Banyak orang mengira TPG hanya soal tunjangan tambahan. Padahal, efeknya bisa sangat besar.
Bayangkan, jika ada lebih dari 4,21 juta guru di Indonesia menerima TPG tiap bulan, dengan nominal rata-rata 1 juta rupiah saja, berarti ada triliunan rupiah yang berputar di masyarakat setiap bulan.
Itu bukan angka kecil — itu denyut ekonomi yang bisa membantu menjaga daya beli rakyat di tengah fluktuasi ekonomi global.
Jadi, TPG bulanan bukan sekadar soal gaji guru. Ini adalah strategi ekonomi yang manusiawi: menyejahterakan pendidik sambil menggerakkan ekonomi rakyat.
Saatnya Pemerintah Bertindak
Karena itu, saya percaya, sudah waktunya pemerintah melihat TPG bukan sekadar urusan administrasi, tapi kebijakan strategis nasional.
Sederhanakan birokrasi, pastikan pencairannya rutin tiap bulan, dan jadikan ini bagian dari upaya menjaga martabat guru.
Kita selalu bicara tentang pentingnya guru sebagai ujung tombak pendidikan. Tapi penghargaan tak seharusnya berhenti di kata-kata. Penghargaan sejati adalah ketika negara memastikan mereka hidup layak, tenang, dan mampu berfokus mendidik generasi terbaik bangsa.
TPG bulanan bukan hanya soal angka di rekening, tapi soal martabat, keadilan, dan keberlanjutan ekonomi.
Ketika guru bahagia dan sejahtera, mereka akan mengajar dengan sepenuh hati.
Dan ketika guru mengajar dengan hati, masa depan bangsa akan lebih pasti.
Jadi, mari kita dorong bersama —
TPG bulanan untuk guru yang tenang, ekonomi yang bergerak, dan pendidikan yang bermartabat.
