Prihatin Aksi Sadis KKB, Pemuda Papua Desak Kemenlu Surati PBB

Konten Media Partner
21 Juli 2022 14:56
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ketua Pemuda Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Provinsi Papua, Steve Mara.
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Pemuda Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Provinsi Papua, Steve Mara.
ADVERTISEMENT
Jayapura, BUMIPAPUA.COM-Ketua Pemuda Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Provinsi Papua, Steve Mara meminta Kementerian Luar Negeri membuat laporan resmi kepada PBB terkait kasus pemenggalan kepala seorang warga sipil yang keseharian bekerja sebagai pendulang emas di Korowai yang berbatasan antara Kabupaten Yahukimo dan Pegunungan Bintang.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, kelompok yang menyebut dirinya sebagai Tentara Pembebasan Papua Barat adalah kelompok separatis teroris yang sering membunuh warga sipil.
Jenazah pendulang yang dibunuh KKB. (Foto Humas Polda Papua)
zoom-in-whitePerbesar
Jenazah pendulang yang dibunuh KKB. (Foto Humas Polda Papua)
"Kelompok ini brutal, salah satunya melakukan pembunuhan dengan keji seperti ISIS dengan cara memenggal kepala seorang warga sipil," katanya, Kamis (21/7/2022).
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Dalam video singkat yang disebar kelompok tersebut menyebutkan dirinya merupakan Tentara Pembebasan Papua memegang kepala seseorang dan memberikan statement: "Berburu siang hari dan mendapat 1 kepala."
Dalam video tersebut, kelompok ini menyebutkan berada di Honai Matoa dan terlihat kepala yang dipenggal dikeluarkan dari dalam kain.
"Kami prihatin atas kejadian pemenggalan kepala yang dilakukan oleh kelompok ini. Tindakan mereka sadis dan keji. Belum lama terjadi pembunuhan kepada 11 orang warga sipil, termasuk seorang pendeta dan ustad yang dibunuh di Nduga. Lalu, kali ini adalah pendulang emas di Korowai dengan cara memenggal kepala. Ini kejahatan kemanusiaan," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Dirinya meminta TNI Polri melalui Densus 88 Anti Teror dibantu Kopassus untuk mengejar pelaku. "Jangan biarkan kelompok ini berkembang karena akan membahayakan nyawa warga sipil lainnya," jelasnya.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020