Konten dari Pengguna

Menjawab Tantangan Sampah Mikroplastik dengan Aspergillus flavus

Buty Hz

Buty Hz

Master-Doctoral Student at Andalas University

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Buty Hz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam era modern, plastik menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, mulai dari kemasan makanan hingga kebutuhan industri. Namun, limbah plastik yang sulit terurai telah menimbulkan masalah lingkungan global, terutama akumulasi mikroplastik yang berbahaya bagi ekosistem dan kesehatan manusia. Kini, solusi inovatif hadir dari dunia mikroorganisme, yaitu jamur Aspergillus flavus yang diisolasi dari perut Larva Ngengat Lilin.

Menjawab Tantangan Sampah Mikroplastik dengan Aspergillus flavus. Foto: iStock
zoom-in-whitePerbesar
Menjawab Tantangan Sampah Mikroplastik dengan Aspergillus flavus. Foto: iStock

Mikroplastik: Ancaman Kecil yang Besar

Mikroplastik, partikel plastik berukuran kurang dari 5 mm, berasal dari proses degradasi plastik besar seperti polyethylene (PE). Partikel ini tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga masuk ke rantai makanan melalui ikan, burung, dan bahkan air minum kita. Penanganan sampah plastik secara tradisional, seperti pembakaran dan penimbunan, seringkali menyebabkan polusi sekunder, sehingga dibutuhkan metode yang lebih ramah lingkungan.

Aspergillus flavus: Solusi dari Perut Larva

Penelitian terbaru menemukan bahwa Aspergillus flavus, jamur yang diisolasi dari usus larva ngengat lilin (Galleria mellonella), memiliki kemampuan unik untuk mendegradasi mikroplastik polyethylene. Dalam percobaan, jamur ini berhasil memecah struktur polimer polyethylene menjadi senyawa dengan berat molekul lebih rendah dalam waktu 28 hari.

Proses ini melibatkan enzim khusus yang disebut laccase-like multicopper oxidases (LMCOs), yang mempercepat reaksi oksidasi plastik. Keberhasilan ini menunjukkan potensi besar jamur ini dalam pengelolaan sampah mikroplastik secara biologis.

Mekanisme Degradasi Plastik

Selama proses degradasi, permukaan plastik yang semula halus menjadi kasar akibat aktivitas jamur. Analisis spektroskopi Fourier Transform Infrared (FTIR) mengungkapkan pembentukan gugus karbonil dan hidroksil, tanda bahwa plastik telah teroksidasi dan mulai terurai. Jamur ini juga menghasilkan penurunan berat molekul plastik hingga 40%, menunjukkan efisiensi degradasinya.

Harapan Baru untuk Lingkungan

Penemuan ini membuka peluang untuk pengembangan teknologi berbasis biologi dalam pengelolaan limbah plastik. Dengan memahami enzim-enzim yang terlibat, seperti LMCOs, langkah berikutnya adalah merekayasa jamur atau enzim ini agar lebih efektif dalam skala industri. Solusi ini tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga berpotensi mengurangi ketergantungan pada metode pengelolaan limbah plastik yang merusak.

Aspergillus flavus menawarkan harapan baru dalam mengatasi tantangan mikroplastik. Sebagai agen bioremediasi, jamur ini dapat menjadi pelopor dalam teknologi hijau untuk dunia yang lebih bersih. Penelitian lebih lanjut akan memperdalam pemahaman kita tentang potensi jamur ini dalam menghadapi krisis plastik global.

Dengan memanfaatkan kekuatan alam, kita dapat mengambil langkah besar menuju masa depan yang lebih lestari. Aspergillus flavus bukan hanya sekadar jamur, tetapi juga solusi untuk permasalahan lingkungan yang kompleks.