Konten dari Pengguna

Rp250 Miliar Berputar dari Konser di Jakarta

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Callysta Zahra Bunga Reifito tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika mendengar kata konser, hal pertama yang mungkin muncul adalah musik, keramaian, atau ribuan orang yang rela mengantre berjam-jam demi melihat musisi favoritnya. Bagi sebagian orang, konser bahkan dianggap hanya sebagai bentuk hiburan yang menghabiskan uang. Padahal, jika dilihat lebih luas, konser bukan sekadar aktivitas refreshing. Di balik kerumunan penonton, terdapat perputaran ekonomi yang melibatkan banyak pihak, mulai dari transportasi, penginapan, makanan dan minuman, pedagang kecil, hingga pekerja di industri kreatif.

Gate masuk konser The Weeknd di Jakarta International Stadium (Callysta Zahra)
zoom-in-whitePerbesar
Gate masuk konser The Weeknd di Jakarta International Stadium (Callysta Zahra)

Fenomena tersebut terlihat di Jakarta pada akhir September 2026. Gelaran Pestapora dan konser The Weeknd menjadi dua acara musik besar yang berlangsung dalam waktu berdekatan. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menyebut bahwa rangkaian acara tersebut memberikan dampak ekonomi hampir Rp250 miliar bagi Jakarta. Angka tersebut menunjukkan bahwa ketika puluhan ribu orang datang untuk menikmati pertunjukan, uang yang mereka keluarkan tidak berhenti di pembelian tiket. Aktivitas ekonomi ikut bergerak di berbagai sektor. (Antara News)

Ketika Penonton Datang, Ekonomi Ikut Bergerak

Seseorang yang datang ke Jakarta untuk menonton konser tentu tidak hanya mengeluarkan uang untuk tiket. Penonton dari luar kota membutuhkan transportasi untuk menuju Jakarta dan menuju lokasi acara. Sebagian juga membutuhkan tempat menginap, membeli makanan, minuman, merchandise, serta menggunakan berbagai layanan selama berada di kota tersebut.

Hal ini membuat konser memiliki efek besar terhadap perekonomian. Ketika hotel menerima tamu, restoran mendapatkan pelanggan, pengemudi transportasi mendapatkan penumpang, dan pedagang mendapatkan pembeli, satu kegiatan hiburan dapat menciptakan transaksi di banyak titik. Penelitian mengenai industri pertunjukan musik juga menunjukkan bahwa pengeluaran penonton dapat memberikan dampak ekonomi tidak hanya melalui tiket, tetapi juga melalui transportasi, penginapan, makanan, merchandise, dan aktivitas belanja lainnya. (LPEM FEB UI)

Contoh sederhananya bisa dilihat dari pedagang di sekitar venue. Ketika ribuan orang berkumpul dalam satu kawasan, warung makan, kedai minuman, minimarket, hingga pedagang kaki lima memiliki peluang mendapatkan lebih banyak pelanggan. Bahkan sebelum masuk venue, penonton mungkin membeli makan malam, minum, atau sekadar membeli sesuatu untuk menemani perjalanan. Setelah konser selesai, aktivitas ekonomi juga belum tentu berhenti karena penonton masih membutuhkan transportasi atau makanan.

Artinya, konser menciptakan apa yang bisa disebut sebagai “keramaian ekonomi”. Orang datang karena musik, tetapi pengeluaran mereka menghidupkan sektor-sektor lain yang mungkin tidak berhubungan langsung dengan panggung.

Pestapora sendiri pada 2026 berlangsung selama tiga hari di kawasan JIEXPO Kemayoran dan menghadirkan 330 penampil di 19 area pertunjukan. Sementara itu, The Weeknd menggelar konser selama dua hari di Jakarta International Stadium. Skala acara seperti ini tentu menciptakan mobilitas masyarakat dalam jumlah besar dan membuka ruang bagi berbagai kegiatan ekonomi di sekitarnya. (Antara News)

Konser Juga Punya Nilai di Luar Uang

Namun, manfaat konser tidak berhenti pada angka Rp250 miliar. Ada nilai lain yang sering kali tidak dihitung secara langsung yaitu pengalaman dan kesejahteraan masyarakat.

Kehidupan di kota besar sering kali identik dengan rutinitas yang padat. Kuliah, pekerjaan, tugas, perjalanan, dan berbagai tekanan sehari-hari dapat membuat seseorang membutuhkan ruang untuk beristirahat. Bagi sebagian orang, konser menjadi salah satu bentuk rekreasi untuk melepas stres. Selama beberapa jam, seseorang dapat berhenti memikirkan rutinitas dan menikmati musik bersama orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama.

Hal tersebut bukan sekadar perasaan subjektif para penonton. Penelitian yang diterbitkan pada 2026 mengenai konser musik secara langsung menemukan bahwa peserta yang mengikuti konser secara langsung melaporkan apresiasi musik dan pengalaman emosional yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang menyaksikan pertunjukan melalui livestream. Penelitian lain juga menemukan bahwa menikmati konser music secara langsung dengan orang lain dapat memberikan rasa senang, bermakna, dan bahagia setelah acara.

Dengan demikian, pergi ke konser tidak selalu tepat jika dipandang sebagai pemborosan. Tentu, membeli tiket konser merupakan pilihan konsumsi dan setiap orang memiliki kondisi keuangan yang berbeda. Namun, hiburan juga merupakan bagian dari kebutuhan manusia. Selama dilakukan secara bertanggung jawab, mengeluarkan uang untuk mendapatkan pengalaman yang menyenangkan tidak serta-merta berarti membuang uang.

Bukan Berarti Konser Tidak Punya Masalah

Meski demikian, bukan berarti setiap konser otomatis memberikan dampak positif tanpa persoalan. Acara dengan jumlah pengunjung yang besar dapat menimbulkan kemacetan, sampah, kepadatan transportasi, maupun gangguan bagi masyarakat sekitar. Karena itu, penyelenggaraan konser perlu diikuti dengan pengelolaan transportasi, kebersihan, keamanan, dan ruang publik yang baik.

Justru di sinilah pemerintah dan penyelenggara memiliki peran penting. Jika konser mampu mendatangkan ribuan bahkan puluhan ribu pengunjung, maka infrastruktur dan pelayanan publik juga harus dipersiapkan agar manfaat ekonomi tidak dibayar dengan beban yang terlalu besar bagi warga sekitar.

Konser seharusnya tidak dipandang sebagai aktivitas yang hanya menguntungkan promotor dan musisi. Dengan pengelolaan yang baik, acara musik dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif sekaligus memberikan ruang rekreasi bagi masyarakat. Pemerintah dapat mendukung penyelenggaraan acara dengan memastikan transportasi publik memadai, pengelolaan sampah berjalan, serta pelaku UMKM di sekitar lokasi memiliki kesempatan untuk ikut menikmati dampak ekonominya.

Pada akhirnya, konser adalah lebih dari sekadar suara musik dan cahaya panggung. Di balik seseorang yang bernyanyi bersama musisi favoritnya, ada pengemudi yang mendapatkan penumpang, pedagang yang mendapatkan pembeli, hotel yang menerima tamu, pekerja event yang mendapatkan penghasilan, dan berbagai usaha lain yang ikut bergerak.

Perputaran ekonomi hampir Rp250 miliar dari Pestapora dan The Weeknd di Jakarta menjadi contoh bahwa industri hiburan memiliki hubungan erat dengan aktivitas ekonomi. Konser memang dibuat untuk menghibur, tetapi dampaknya dapat melampaui beberapa jam pertunjukan. Jika dikelola dengan baik, konser bukan hanya tempat masyarakat mencari kesenangan dan melepas stres, melainkan juga salah satu cara sebuah kota menghidupkan ekonominya.