Nikmatnya Tradisi dalam Secangkir Kopi

Undergradute student in tourism development and hospitalities in Airlangga University
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Calvin Briliant Arda Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah dengar Desa Wisata Bageng dan Agro Jembangan di Kabupaten Pati? Sebuah desa wisata yang asri di Lereng Gunung Muria ini sekarang nggak cuma jadi tempat healing yang asyik, tapi juga lagi naik daun sebagai surga agrowisata kopi. Dulu, petani di sini mungkin lebih sering menjual biji kopi mentah ke pengepul, tapi sekarang ceritanya sudah beda. Warga desa mulai sadar kalau kopi hasil kebun mereka itu punya potensi besar kalau diolah sendiri menjadi produk UMKM. Asyiknya lagi, buat kamu yang suka jalan-jalan, konsep agrowisata di sini bikin kita bisa menikmati udara segar pegunungan sambil melihat langsung gimana kopi diproses dari masih di pohon sampai siap diseduh di cangkir.
Nah, kalau ngomongin soal UMKM kopi di Desa Wisata Bageng, kita wajib banget kenalan sama Bu Nia. Sadar kalau kopi dari desanya punya kualitas jempolan, Bu Nia nggak mau tinggal diam. Sejak tahun 2019, beliau mantap mengambil langkah buat merintis usaha pengolahan kopinya sendiri langsung dari kebun belakang rumah yang diberi nama "Kopi Cap 234". Kerennya, semua proses dari mulai memetik biji kopi pilihan yang merah merona, menjemur, sampai proses roasting atau pemanggangan, beliau kerjakan dengan telaten dan tetap mempertahankan cara-cara tradisional warisan leluhur. Lewat ketekunannya, komoditas asli desa ini sukses disulap jadi produk kemasan rapi yang punya nilai jual tinggi dan siap bersaing.
Menurut Bu Nia dan para petani kopi di desa ini, kopi bukan sekadar bisnis, tapi juga prinsip, identitas, dan budaya hidup slow living ala pedesaan agraris yang dipegang teguh secara turun temurun. Para masyarakat di sini mewariskan budaya bertani kopi sebagai identitas yang tidak akan lenyap ditelan zaman, sesuai motto Kabupaten Pati, "Bumi Mina Tani", yang artinya "Tanah Perikanan dan Pertanian". Adanya iklim agrowisata yang pas juga melanggengkan "Kerajaan Kopi" di Desa Wisata Bageng.
"Lebih enak punya bisnis sendiri di desa, suasanya juga mendukung, dibanding hiruk pikuknya perkotaan. Untuk promosi kita masih mulut ke mulut. Meski begitu, suasana yang pas ini, ada agrowisata juga, kemarin sempat ada turis Taiwan langsung petik dari kebun belakang sini," tutur Bu Nia.
Semangat wirausaha seperti yang ditunjukkan Bu Nia dan para petani kopi di sini pastinya bawa angin segar buat masa depan Desa Wisata Bageng. Perpaduan yang pas antara pesona agrowisata dan geliat UMKM bikin desa ini makin hidup dan ramai dikunjungi. Bayangkan saja, kamu bisa duduk santai menikmati sejuknya alam sambil menyeruput kopi otentik racikan asli warga setempat, benar-benar pengalaman yang bikin betah! Lebih dari sekadar urusan cuan, hadirnya “Kopi Cap 234” juga jadi cara manis buat menjaga tradisi warga agar tidak hilang ditelan zaman. Semoga ke depannya, makin banyak kopi lokal dari Desa Wisata Bageng yang bisa terbang jauh dan tersaji di setiap cangkir kopi di seluruh Nusantara hingga mancanegara!
