Biru Baru Jelaskan Makna “Biru” yang Tak Melulu soal Kesedihan

Biru Baru “duduk di kursi terdakwa” dalam DCDC Pengadilan Musik edisi ke-66. Bukan karena persoalan hukum, duo yang digawangi Goldan Tambayong dan Talitha Belinda Esmeralda alias Tata itu diminta mempertanggungjawabkan perjalanan bermusik mereka, mulai dari awal terbentuk, pencarian karakter musik, hingga karya-karya yang telah dihasilkan.
Biru Baru berhadapan dengan dua Jaksa Penuntut Umum, Budi Dalton dan Pidi Baiq, serta didampingi tim pembela Rully Cikapundung dan Yoga PHB. Jalannya persidangan dipimpin Denny Chandra sebagai hakim ketua dengan Eddi Brokoli sebagai panitera.
Salah satu hal yang dibongkar dalam persidangan adalah perjalanan Biru Baru menemukan identitas musik mereka.
Biru Baru mulai membangun proyek musik bersama pada 2018. Goldan dan Tata sebenarnya telah saling mengenal sejak sekolah dan sama-sama memiliki ketertarikan terhadap musik.
Keduanya kemudian kerap menghabiskan waktu dengan jamming di studio milik Goldan, termasuk membuat cover lagu menggunakan gitar akustik. Dari kebiasaan tersebut, chemistry sebagai duo mulai terbentuk.
“Kami berteman dekat dan saya suka nyamper ke rumahnya Goldan. Rumahnya Goldan itu ada studio. Kami suka bikin cover berdua pakai gitar akustik. Terus dari situ chemistry kami semakin terbangun,” ujar Tata.
Bermula dari Pertanyaan soal Nama Band
Perjalanan Biru Baru juga tidak lepas dari cerita di balik nama yang mereka pilih.
Tata mengungkapkan, nama tersebut muncul setelah mereka tampil di sekolah Goldan. Saat itu, keduanya belum memiliki nama untuk proyek musik mereka.
Seusai tampil, pembawa acara justru menanyakan nama band mereka. Pertanyaan tersebut kemudian membuat keduanya memikirkan identitas untuk proyek musik yang sedang dibangun.
“Awal tampil di sekolah Goldan. Dia alumni dan diminta tampil. Selesai acara itu, host-nya bertanya nama band-nya apa, tapi kami belum ada nama. Di jalan pulang kami mikir dan tercetus New Blue, lalu kami pilih dalam bahasa Indonesia jadinya Biru Baru,” jelas Tata.
Budi Dalton kemudian mengulik lebih jauh mengenai pemilihan kata “Biru”. Ia mempertanyakan warna tersebut yang selama ini kerap diasosiasikan dengan kesan sendu dan kesedihan.
“Kenapa memilih warna Biru? Warna Biru kan dekat dengan makna-makna yang sendu dan kesedihan,” ujar Budi.
Goldan menjelaskan bahwa Biru Baru tidak bermaksud mengartikan nama tersebut sebagai “kesedihan baru”. Menurutnya, kesedihan justru menjadi bagian dari pengalaman manusia untuk memahami kebahagiaan.
“Biru Baru bukan mau menggarisbawahi atau diartikan sebagai kesedihan baru. Justru, manusia belajar menghargai rasa senang dengan merasakan kesedihan,” kata Goldan.
Ia juga mencontohkan lagu “Kita Bahagia” yang menurutnya tetap memiliki unsur kesedihan di dalamnya. Bagi Biru Baru, pengalaman merasakan sakit dapat membuat seseorang lebih peduli sekaligus belajar menghadapi kehidupan.
Dari Ethnic Art Pop hingga Alternative Rock
Tak hanya nama, karya-karya Biru Baru juga menjadi bahan pembahasan selama persidangan. Beberapa lagu seperti “Kalah Lagi” dan “Senin di Stasiun” dikulik dari cerita di balik lagu, lirik, hingga pengalaman yang diterjemahkan Goldan dan Tata ke dalam musik.
Warna musik Biru Baru sendiri mengalami perubahan sejak awal terbentuk. Mereka sempat dikenal dengan musik ethnic art pop yang banyak memasukkan unsur gamelan dan instrumen tradisional lainnya.
Seiring eksplorasi, Biru Baru kemudian bergerak ke jalur alternative rock. Perubahan tersebut ikut terlihat dalam karya-karya yang mereka hasilkan.
Hingga kini, Biru Baru telah memiliki tiga album studio dan empat single non-album.
Pada 2026, mereka merilis album penuh bertajuk BIRU BARU. Album tersebut menjadi salah satu karya yang cukup personal karena sejak awal Goldan dan Tata memang ingin membuat album menggunakan nama mereka sendiri.
Berisi 17 lagu yang terbagi dalam dua bagian, BIRU BARU banyak membicarakan hubungan seseorang dengan dirinya sendiri. Rasa gagal, kelelahan emosional, penyesalan, hingga upaya memahami diri kembali menjadi bagian dari cerita yang mereka bawa.
Album tersebut juga masuk nominasi AMI Awards 2026 untuk kategori Duo/Grup/Kolaborasi Alternatif Terbaik.
Eksplorasi Biru Baru turut terlihat lewat sejumlah kolaborasi. Salah satunya adalah lagu “Semua Telah Terjadi” bersama Iga Massardi.
