Kumparan Logo

Denny Sumargo Ungkap Tantangan Jadi Suami Green Flag di Film Baby Udon

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Fanny Kondoh, Denny Sumargo, dan Caitlin Halderman dalam acara press conference film Baby Udon di Jakarta Pusat. Foto: Hosana Solagracia Sifra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Fanny Kondoh, Denny Sumargo, dan Caitlin Halderman dalam acara press conference film Baby Udon di Jakarta Pusat. Foto: Hosana Solagracia Sifra/kumparan

Film Baby Udon yang akan tayang pada 3 September akan menghadirkan kisah perjuangan seorang ibu serta perjalanan emosional yang diangkat dari cerita nyata Fanny Kondoh dan Hajime Kondoh.

Denny Sumargo dan Caitlin Halderman sempat menceritakan pengalaman mereka saat mendalami karakter masing-masing dalam film Baby Udon.

Denny Sumargo yang memerankan karakter Hajime menjelaskan bagaimana peran ini sangat bertolak belakang dengan kepribadiannya.

Denny secara terbuka menyebut dirinya sebagai seseorang yang memiliki sifat red flag, sedangkan Hajime merupakan seorang pria dengan sifat green flag.

Para pemain dan tim produksi film Baby Udon dalam acara press conference di Jakarta Pusat. Foto: Hosana Solagracia Sifra/kumparan

"Banyak hal dari karakter Hajime yang menurut aku itu adalah satu hal yang paling fragile, yang paling aku takuti ketika mengarungi dunia ini. Karena ketika kita menjadi baik, kita menjadi sabar, banyak rasa luka yang harus kita tanggung sendiri," kata Denny Sumargo.

Bagi Denny, peran Hajime memberikan pelajaran yang berharga tentang perjuangan seorang pria yang rela mengorbankan segalanya demi menjaga istri dan anaknya, yang dinilai Denny sebagai salah satu bentuk pengorbanan tertinggi.

Caitlin Halderman Capek

Di sisi lain, Caitlin Halderman yang memerankan karakter Fanny, merasa lelah secara emosional. Baginya, kehidupan Fanny sebagai seorang ibu tunggal disertai dengan ujian yang berat dan bertubi-tubi membuat adanya tekanan emosi sepanjang proses syuting.

“Aku memerankan Fanny selama 18 hari aja cape. Bener-bener yang allahu akbar nggak kelar-kelar ini ya kapan selesai kita syuting gitu,” ujar pemeran Fanny itu.

Walaupun menguras tenaga, Caitlin merasa pengalaman tersebut menjadi refleksi baginya untuk memahami perjuangan para perempuan serta meningkatkan rasa syukur dalam kehidupannya.