Kumparan Logo

Di Balik Melejitnya No Na

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Girl group asal Indonesia No Na. Foto: Instagram/@nonawav
zoom-in-whitePerbesar
Girl group asal Indonesia No Na. Foto: Instagram/@nonawav

No Na tak berhenti membuat Indonesia bangga. Kini lewat album Island Girl yang rencananya dirilis secara global 18 September 2026. Gembar-gembor albumnya sudah mengisi beranda media sosial sejak peluncurannya diumumkan 31 Juli lalu.

Hari-hari menuju peluncuran albumnya, penikmat musik makin dibuat penasaran. Tak sabar menunggu aksi empat idola baru dalam kancah musik tanah air: Baila Fauri, Christy Gardena, Esther Geraldine, dan Shazfa Adesya. Berkat bakat keempatnya, nama Indonesia di panggung musik internasional.

No Na mempromosikan secara cuma-cuma kekayaan lokal. Island Girl bahkan begitu lekat dengan nuansa Nusantara. Dari musik, lokasi pembuatan video klip, hingga simbol-simbol kebudayaan yang mewarnai album mereka.

Bahkan, berdasarkan bocoran di pratinjau di Apple Music, judul-judul lagunya sangat menggambarkan Indonesia: "Party in the +62" (merujuk kode telepon Indonesia), "Durian", "Island Girl", dan "Better on the Island" yang menegaskan tema kepulauan. Detail bunyi yang khas Indonesia pun tak ketinggalan dalam albumnya: klakson angkot di "Honk!", instrumen ceng-ceng Bali di "Work", serta dangdut dan gamelan di "Rollerblade".

No Na rilis lagu Speaker Freaker (The Long Song). Foto: Instagram/@nonawav

Girl group no na sebenarnya telah mencuri perhatian jagad musik global sejak diperkenalkan pada April 2025. Debut mereka kala itu langsung nge-hook lewat sebuah teaser bernuansa nusantara dari single "Shoot". Mereka menampilkan persawahan, kekayaan dan kesejukan alam Indonesia, makanan lokal, hingga wajah-wajah ramah Nusantara.

Rilisan video klip “Shoot” pada 2 Mei 2025 tersebut menjadi penanda debut resmi no na. ‘Nona’ dalam bahasa Indonesia berarti gadis muda atau perempuan lajang—sebuah pilihan nama yang secara sengaja menegaskan akar budaya keempat personelnya.

Sejak debut, no na tak butuh waktu lama untuk membangun basis penggemar internasional. Single "Shoot" sempat menembus Top 3 Spotify Viral 50 Korea Selatan, disusul rilisan seperti "Superstitious", "Falling in Love", "Rollerblade", hingga EP perdana Orchids (Lullabies). Mereka juga tampil di panggung bergengsi, Head in the Clouds, di Los Angeles dan Tokyo sampai masuk daftar NME 100: Essential Emerging Artists 2026.

Namun, perjalanan no na bukan tahu bulat, alias dadakan. Ada ‘rumah’ yang menjadi tempat berkembang, lalu menuai lonjakan popularitas dan pendengar global seperti sekarang. Rumah itu adalah 88rising, sebuah label musik yang berbasis di Amerika. Label yang didirikan Sean Miyashiro pada tahun 2015 ini disebut sebagai ‘home’ bagi musisi Asia.

Perusahaan penanaman modal GDP Venture. Foto: Bianda Ludwianto/kumparan

Sejak didirikan, 88rising berhasil memperkenalkan penyanyi, rapper, hingga grup musik dari berbagai negara Asia ke pasar internasional. Tak heran, 88rising akrab di kepala penikmat musik Asia, terutama bagi Indonesia.

Sebab, tak hanya musisinya yang bernaung di sana, jejak investasi dari perusahaan Indonesia, yakni Djarum Group melalui GDP Venture, juga masuk untuk menopang dan mengembangkan talenta Indonesia dari sisi pendanaan.

Lewa GDP Venture, 88rising masuk dalam portofolio Djarum Group. Suntikan konglomerasi asal Indonesia ini nampak seirama dengan musisi dalam negeri yang semakin moncer dalam naungan 88rising. No Na bukan satu-satunya musisi Indonesia yang berhasil diorbitkan 88rising, ada Rich Brian, NIKI, sampai Devina Trista.

Deretan Musisi yang Besar Dalam Naungan 88rising

No Na bukan wajah pertama Indonesia di jajaran 88rising. Sejak label ini berdiri, sudah ada beberapa musisi tanah air yang lebih dulu menembus pasar global dengan capaian yang tak kalah mengesankan.

1. Rich Brian

Penyanyi Rich Brian saat hadir konferensi pers GUE88 University Offcial Launc Party di Grand Indonesia, Jakarta, (1/9/2023). Foto: Agus Apriyanto

Rich Brian (Brian Imanuel) adalah pionirnya. Berawal dari video parodi "Dat $tick" yang viral di YouTube pada 2016, Brian menjadi wajah pertama yang membawa 88rising ke sorotan dunia. Album debutnya, Amen (2018), berhasil menembus posisi ke-18 Billboard 200, dan menjadikannya rapper Asia pertama yang mencapai peringkat setinggi itu di chart album utama Amerika Serikat.

Album keduanya, The Sailor (2019) menembus tangga Billboard 200. Lewat karya-karyanya itu, Brian tercatat sebagai musisi Indonesia pertama yang meraih 10 juta pendengar bulanan di Spotify, sempat diundang bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, serta masuk daftar Forbes 30 Under 30 Asia edisi 2018.

2. NIKI

Penampilan Niki Zefanya. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

NIKI (Nicole Zefanya) adalah nama besar lain yang mengukir sejarah untuk musisi perempuan Indonesia. Pada April 2022, ia menjadi artis Indonesia pertama—berbarengan dengan Rich Brian—yang tampil di Coachella Valley Music and Arts Festival, salah satu festival musik paling bergengsi di dunia.

NIKI juga dipercaya mengisi empat lagu untuk soundtrack film Marvel Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021), termasuk single utama "Every Summertime". Sepanjang kariernya, ia telah merilis tiga album studio—Moonchild (2020), Nicole (2022), dan Buzz (2024)—dengan total streaming globalnya telah melampaui tiga miliar putaran. Ia juga sempat menggelar tur dunia headline yang singgah di lebih dari 40 kota di berbagai benua, serta masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2020.

Rich Brian dan NIKI menjadi salah satu musisi Indonesia pertama yang tampil di panggung Coachella.

3. Stephanie Poetri

Stephanie Poetri di Head In the Clouds Jakarta, Sabtu (3/12/2022). Foto: kumparan

Putri penyanyi legendaris Titi DJ ini, mencetak momen viral global lewat single "I Love You 3000" (2019) yang terinspirasi dari film Avengers: Endgame. Lagu ini didengar lebih dari 400 juta streaming dan mengantarkannya meraih penghargaan Best New Asian Artist–Indonesia di Mnet Asian Music Awards 2019.

Stephanie Poetri juga turut terlibat sebagai tim penulis lagu dalam album terbaru no na, bersama fussy, PIAO, lophiile, dan Patrick "J.Que" Smith. Kombinasi tim internasional dengan warna lokal membuat Island Girl semakin unik: sebuah album pop global yang justru bangga menonjolkan ‘rasa Indonesia’-nya, mulai dari suara jalanan Jakarta, alat musik tradisional Bali, hingga buah dan kode telepon yang hanya akan langsung dipahami oleh pendengar yang mengenal Indonesia.

4. Warren Hue

Warren Hue. Foto: Alexander Vito/kumparan

Warren Hue bergabung dengan 88rising pada 2021 di usia 18 tahun. Sebelum direkrut, Warren sudah aktif merilis karya sendiri di SoundCloud sejak 2018. Ia bahkan dijuluki sebagai ‘ikon rap Asia’ oleh rekan dan seniornya, Rich Brian.

Warren Hue melakukan debut internasional lewat kolaborasi "Freaks" bersama grup asal Jepang, Atarashii Gakko!, dan empat lagunya turut mengisi soundtrack film Shang-Chi. Ia juga telah merilis album penuh bertajuk Boy of the Year serta tampil di berbagai panggung festival 88rising di Amerika Serikat maupun Indonesia.

Selain empat nama di atas, 88rising juga sempat merekrut Devina Trista, penyanyi asal Sidoarjo yang bergabung setelah memenangkan kompetisi Indonesia Creative Incorporated (ICINC) hasil kerja sama dengan 88rising, dan merilis single "Fall Into You" pada 2019.

Deretan pencapaian para musisi ini menegaskan bahwa 88rising memang secara konsisten menjadikan Indonesia sebagai salah satu sumber talenta utamanya di Asia Tenggara. Sebuah jejak yang kini dilanjutkan oleh no na sebagai representasi generasi berikutnya, kali ini dalam format girl group.

Proses pembentukannya tak singkat: para personel bertemu pertama kali di Head in the Clouds Festival Jakarta pada 2022, sebelum akhirnya menjalani pelatihan intensif di Jakarta dan pindah ke Los Angeles pada 2024 untuk mematangkan konsep grup sebelum debut resmi setahun kemudian.

Melalui dukungan jaringan global 88rising dan modal strategis dari GDP Venture, Rich Brian hingga no na kini menjelma menjadi salah satu contoh nyata bagaimana kombinasi antara bakat lokal, jejaring industri musik internasional, dan kekuatan modal domestik dapat mengantarkan musisi Indonesia bersaing di panggung musik dunia tanpa harus meninggalkan identitas budayanya. Tanpa menanggalkan ke-Nusantara-annya.

Reporter: Hedi