Kumparan Logo

Lomba Sihir dan Cerita Generasi yang Tumbuh Bersama Perubahan Zaman

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penampilan Lomba Sihir dalam rangkaian Styles Land. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Penampilan Lomba Sihir dalam rangkaian Styles Land. Foto: Istimewa

Lomba Sihir membawa warna musik dan cerita generasi muda dalam penampilannya di Lippo Mall Kemang, Jakarta. Kehadiran mereka menjadi bagian dari ruang kreatif yang mempertemukan musik, komunitas, dan berbagai bentuk ekspresi generasi masa kini.

Penampilan Lomba Sihir terasa relevan dengan karakter musik mereka yang cukup beragam. Grup yang beranggotakan Natasha Udu (vokal), Rayhan Noor (vokal-gitar), Enrico Octaviano (drum), Tristan Juliano (kibor), dan Hindia (vokal) tersebut dikenal mengeksplorasi berbagai warna, mulai dari pop, rock, country hingga EDM.

Namun, bukan hanya genre yang menjadi kekuatan Lomba Sihir. Lirik-lirik mereka banyak terinspirasi dari percakapan dan pengalaman kehidupan para personelnya. Karena itu, berbagai cerita yang dibawa melalui lagu terasa dekat dengan kehidupan generasi muda.

Perjalanan tersebut mulai dibangun lewat album perdana Selamat Datang di Ujung Dunia pada 2021. Album ini banyak terinspirasi dari pengalaman bertahan hidup di Jakarta.

Lomba Sihir rilis lagu Di Seberang. Foto: Dok. Istimewa

Empat tahun kemudian, Lomba Sihir kembali memperlihatkan sisi personal mereka melalui album Obrolan Jam 3 Pagi yang dirilis pada 2025. Kali ini, mereka mengeksplorasi tema seperti cinta, kehilangan, harapan, dan penyesalan.

Perubahan tema tersebut juga memperlihatkan bagaimana musik Lomba Sihir ikut tumbuh bersama pengalaman para personelnya. Mereka tidak terpaku pada satu formula, tetapi membiarkan setiap karya membawa cerita dan karakter masing-masing.

Musik Bertemu Ruang Kreatif

Penampilan Lomba Sihir kali ini berlangsung dalam rangkaian Styles LAND yang digelar di Lippo Mall Kemang sejak 7 Agustus 2026. Ruang tersebut dirancang untuk membawa pengalaman Styles dari dunia digital ke dunia nyata melalui pertemuan antara musik, kreativitas, komunitas, dan lifestyle.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan terhadap ruang yang membuka kesempatan bagi musisi, kreator, komunitas, dan pelaku industri kreatif untuk berinteraksi lebih dekat dengan masyarakat.

Chief Marketing Officer Lippo Malls Indonesia Santiwati Basuki mengatakan kehadiran Lomba Sihir sejalan dengan semangat menghadirkan berbagai bentuk kreativitas dalam satu pengalaman.

“Kehadiran Lomba Sihir sangat relevan dengan semangat tersebut karena mereka bukan hanya menghadirkan musik, tetapi juga membawa cerita, karakter, dan komunitas yang kuat,” ujar Santiwati.

Penampilan Lomba Sihir dalam rangkaian Styles Land. Foto: Istimewa

Menurut Santiwati, dukungan terhadap ruang kreatif juga dapat membuka kesempatan yang lebih luas bagi para pelaku ekonomi kreatif untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat.

Pada akhirnya, kehadiran Lomba Sihir di ruang tersebut bukan hanya menjadi pertunjukan musik. Cerita yang mereka bawa melalui lagu turut memperlihatkan bagaimana musik dapat menjadi bagian dari percakapan generasi muda, tentang kehidupan, hubungan, kegelisahan, hingga berbagai pengalaman yang mereka hadapi sehari-hari.

Dengan musik yang terus berkembang mengikuti pengalaman para personelnya, Lomba Sihir pun menunjukkan bahwa sebuah karya bisa menjadi cerminan dari zaman sekaligus ruang untuk berbagi cerita dengan pendengarnya.