Kumparan Logo

Samuel Wattimena Rilis Buku tentang Sejarah Mode Indonesia, Ajak Desainer Muda Gali Budaya Lokal

kumparanHITSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perancang busana senior Samuel Wattimena. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Perancang busana senior Samuel Wattimena. Foto: Istimewa

Desainer senior Samuel Wattimena memperkenalkan buku karyanya yang merangkum perjalanan sejarah mode Indonesia dari masa ke masa. Peluncuran buku tersebut menjadi bagian dari kegiatan MODE IN TRANSIT yang digelar di Terminal 3 Keberangkatan, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.

Dalam kesempatan tersebut, Samuel juga berbagi pandangan mengenai pentingnya memahami identitas budaya lokal bagi generasi muda yang ingin berkarier di industri fesyen.

Menurut Samuel, desainer tidak seharusnya hanya mengikuti tren atau meniru karya orang lain. Kekayaan budaya dari daerah asal justru bisa menjadi sumber inspirasi sekaligus identitas yang membedakan karya seorang desainer.

"Hal yang paling harus dilakukan adalah kenali keberadaan kalian di mana. Jadi kalau kalian di Kalimantan, di Papua, di NTT, di Makassar, di mana pun kalian berada, kenali keberadaan kalian," ujar Samuel.

Perancang busana senior Samuel Wattimena. Foto: Istimewa

Pemenang Lomba Perancang Mode 1979 itu, juga mengingatkan bahwa profesi desainer memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar merancang dan menjual pakaian.

"Seorang fashion designer kerjanya tidak hanya mendesain pakaian dan menjual, tapi ada misi yang lebih besar, harus mampu mengangkat kebudayaan kita," tegasnya.

Buku Sejarah Mode Indonesia Diperkenalkan Lewat MODE IN TRANSIT

Pengenalan buku karya Samuel berlangsung di tengah acara MODE IN TRANSIT, sebuah pertunjukan fesyen dengan konsep flash mob yang merupakan kolaborasi MODE INDONESIA dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Acara tersebut menghadirkan para model muda yang bergerak dari area kedatangan bus Royaltrans di Drop Off Gate 3 menuju instalasi seni di Terminal 3. Mereka kemudian berpose dan berinteraksi dengan para penumpang, mengubah area bandara menjadi ruang peragaan busana yang dinamis.

Perancang busana senior Samuel Wattimena. Foto: Istimewa

Mahasiswa IKJ juga mendapat kesempatan berdiskusi langsung dengan Samuel mengenai perjalanan industri mode dan peluang bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas.

Commercial Director InJourney Airports, Veri Y. Setiady, menyambut positif pemanfaatan bandara sebagai ruang untuk memperkenalkan karya kreatif dan kekayaan budaya Indonesia.

Melalui kegiatan tersebut, wastra Nusantara dan karya desainer lokal diharapkan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, termasuk para pelancong dari berbagai negara.

MODE IN TRANSIT sekaligus memperlihatkan bagaimana ruang publik seperti bandara dapat dimanfaatkan sebagai medium untuk memperkenalkan fesyen dan budaya Indonesia kepada khalayak yang lebih luas.