Bukan Sekadar Soal Harga: Fenomena Thrifting di Kalangan Anak Muda

Mahasiswi Aktif Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Bunda Mulia
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Caroline Widia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Satu tumpukan pakaian, puluhan pilihan, dan tidak ada jaminan akan menemukan apa yang dicari. Namun uniknya, ketidakpastian itulah yang justru menjadikan thrifting begitu menarik bagi banyak anak muda.
Di tengah tren fashion yang terus berganti, produk second-hand menawarkan sesuatu yang tidak selalu ditemukan di toko pakaian baru, yaitu kepuasan tersendiri ketika berhasil menemukan barang yang unik dengan harga yang lebih terjangkau. Berburu kemeja lama, jaket dengan potongan tertentu, atau sekadar menemukan pakaian yang terasa “cocok” menjadi bagian dari pengalaman berbelanja itu sendiri.
Minat terhadap pakaian second-hand juga terlihat dari sejumlah data. Survei GoodStats mencatat 49,4 persen dari 261 responden anak muda Indonesia mengaku pernah membeli fashion bekas melalui thrifting. Sementara itu, penelitian Ilmalhaq, Pradana, dan Rubiyanti (2024) terhadap 205 konsumen pakaian second-hand di Indonesia menemukan bahwa 86,8 persen respondennya berusia 18–26 tahun.
Lebih dari Sekadar "Murah"
Tidak ada rak yang menjamin ukuran atau model yang diinginkan akan tersedia. Lantas apa sebenarnya yang membuat thrifting begitu digandrungi, sampai beberapa orang rela menghabiskan lebih banyak waktu untuk menemukan "harta karun" yang terasa pas?
Penelitian “Gen Z and Their Sustainable Shopping Behavior in the Second-Hand Clothing Segment” oleh Jaroslav Mazanec dan Veronika Harantová (2024) melibatkan 340 responden Generasi Z untuk melihat berbagai pertimbangan mereka dalam berbelanja produk second-hand. Hasilnya? Tidak sesederhana ingin mendapatkan pakaian dengan harga yang lebih murah. Harga memang menjadi salah satu pertimbangan, tetapi kualitas, keunikan, hingga dampak positif terhadap lingkungan juga ikut memengaruhi keputusan mereka.
Dibandingkan berbelanja di toko dengan koleksi yang telah dikurasi, sebagian orang justru menganggap proses thrifting sebagai bagian yang paling menyenangkan. Ada kepuasan ketika harus memilah satu per satu pakaian, hingga akhirnya menemukan sesuatu yang menarik dan terasa berbeda dari pilihan yang biasa ditemui.
Tidak dapat dipungkiri, harga tetap menjadi daya tarik yang sulit diabaikan. Dengan anggaran yang sama, pakaian second-hand memungkinkan pembeli mendapatkan lebih banyak pilihan. Namun di sisi lain, meningkatnya perhatian terhadap konsumsi berkelanjutan membuat pakaian bekas dipandang bukan hanya sebagai barang yang sudah tidak digunakan, tetapi sebagai produk yang masih memiliki nilai.
Tren thrifting ini menjadi ruang untuk mencari sesuatu yang berbeda, lebih personal, sekaligus memberikan sensasi puas dalam proses menemukan sesuatu yang tidak direncanakan sejak awal. Mungkin itu sebabnya sebuah produk second-hand tidak selalu terasa seperti “bekas” ketika akhirnya ditemukan di tangan yang tepat.
