Dari Buku ke Hati: Kisah Relawan Membaca di Pamulang

Mahasiswi Universitas Pamulang, Jurusan Ilmu Komunikasi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Puspita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah kesibukan kota dan derasnya arus digital, banyak yang tidak menyadari bahwa tindakan kecil dapat menciptakan kehangatan di tempat umum. Setiap hari Sabtu, di Alun-Alun Pamulang, sekelompok pemuda mengadakan lapak baca, tempat di mana buku bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk menggerakkan perasaan. Melalui inisiatif ini, para relawan literasi berupaya menghidupkan kembali semangat membaca di tengah masyarakat yang semakin terfokus pada layar gadget. Lapak baca ini menjadi bukti bahwa aktivitas sederhana masih bisa menghubungkan orang-orang dari berbagai usia dan latar belakang.

Menurut Rehan Imadudin, penggerak utama sekaligus pendiri komunitas “Baca di Pamulang”, kegiatan ini berawal dari keresahan pribadi. Setelah lulus dari salah satu Universitas yang ada di daerah Semarang jurusan Sejarah pada akhir tahun 2024. Rehan Kembali ke Pamulang dengan membawa satu koper penuh buku “Sayang rasanya kalau buku-buku ini dibaca sendiri, saya ingin semua orang merasakannya.” ujarnya saat ditemui pada Sabtu (11/10).
Dari situ, Rehan berdiskusi dengan beberapa temannya untuk mendirikan lapak baca atau perpustakaan jalanan. Lapak baca ini berjalan di awal tahun 2025 dan menarik perhatian masyarakat sekitar, terutama pengunjung alun-alun Pamulang yang datang di setiap akhir pekan. Ia juga menegaskan bahwa tujuan kegiatan ini bukan semata untuk meningkatkan lapak baca tetapi untuk menekankan diskusi akan memahami keresahan masyarakat Pamulang.
Seiring berjalannya waktu, lapak baca ini justru banyak diperhatikan oleh anak-anak. Melihat dari antusiasme mereka, Rehan dan teman-teman memulai donasi berupa buku anak serta alat tulis menggambar. Menariknya, lapak baca di Pamulang hanya membuka donasi berupa buku, bukan berupa uang, sebagai cara untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
Bagi para relawan lapak baca, kegiatan ini bukan sekadar membagikan buku, tetapi juga menumbuhkan kepedulian. Mikael, salah satu mahasiswa semester lima dari Universitas Bunda Mulia dan juga relawan lapak baca, menuturkan pengalamannya, “Konsepnya menarik, apalagi minimnya tingkat baca di indonesai. Melihat adanya anak muda yang punya kesadaran untuk membuka lapak baca gratis ini, saya rasa harus ikut terlibat di dalamnya”.
Tantangan terbesar, menurutnya ketika datang hujan atau ada banyak perokok di sekitar lokasi kegiatan membaca, yang bisa mengganggu pengunjung terutama anak-anak pada saat kegiatan berlangsung. Namun dengan demikian Mikael, merasa setiap kegiatan memberikan pengalaman baru dan memotivasi untuk terus berkarya kedepannya. Ia juga berharap agak lapak baca Pamulang semakin dikenal banyak orang dan bisa menjadi contoh bagi daerah lain untuk membuat ruang baca terbuka yang serupa.
Kegiatan lapak baca di Alun-Alun Pamulang terus berkembang berkat dukungan dari masyarakat dan semangat para relawan yang tak pernah reda. Setiap Sabtu, mereka datang membawa gitar, tikar, dan banyak buku yang bisa dibaca oleh siapa saja. Meski masih ada kendala seperti jumlah buku yang terbatas, Para penggerak lapak baca tetap semangat dan percaya diri untuk terus menjalankan kegiatan ini. Mereka berpendapat bahwa membaca adalah gerakan sosial yang berkontribusi pada pengembangan masyarakat yang terinformasi dan berpikir kritis, alih-alih hanya menjadi kegiatan individu. Lapak baca ini menjadi simbol kecil dari harapan besar, yaitu bahwa dari satu buku bisa muncul ribuan ide, dan dari satu hati bisa lahir semangat untuk mengajarkan dan mencerdaskan sesama.
