Konten dari Pengguna

dr.Reza Y. Purwoko : BRIN Perbanyak Kolaborasi Riset Dengan Diaspora

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cely Julianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

koleksi foto @drrezayp
zoom-in-whitePerbesar
koleksi foto @drrezayp

Jakarta, Riset dan inovasi turut menentukan kemajuan suatu bangsa. Karena itu, budaya riset nasional perlu dikembangkan agar bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan persoalan nasional. Untuk itu, potensi para peneliti perlu dioptimalkan, termasuk oleh para peneliti Indonesia.

Salah satu peneliti BRIN terbaik adalah Dr. dr. Reza Y. Purwoko, SpKK, RSA dokter spesialis kulit dan kelamin sekaligus Peneliti Ahli Madya pada Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis BRIN, Sosok Reza dikenal sebagai dokter spesialis kulit dan kelamin, healthpreneur, aesthetic medicine specialist, mesotherapy and adipose derived stem cells research.

Reza mengatakan motivasi memilih menjadi dokter spesialis kulit dan kelamin adalah ingin meneruskan perjuangan orang tua beliau, " Ibu saya kebetulan juga seorang Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, motivasi saya lain saya menjadi dokter tentunya untuk bisa berbakti kepada masyarakat karena selama saya sebagai mahasiswa dan dokter pengabdian pasca lulus maupun magang, mendapatkan penyakit kulit khususnya infeksi, alergi, iritasi, masih sangat banyak, termasuk 10 besar penyakit di Indonesia, sementara jumlah dokter spesialis kulit dan kelamin masih kurang per jumlah penduduk di Indonesia, ujarnya dalam wawancara tertulis (23/12).

Reza juga mendalami dunia aesthetic medicine atau kedokteran estetika dan memiliki bisnis klinik kecantikan, dokter yang menyukai semua bidang ilmu ini menyatakan bahwa ilmu yang beliau pelajari tidak terbatas pada Aesthetic Medicine saja, namun kebetulan di bidang dermatovenereology, " Kasus-kasus dermatologi kosmetik atau aesthetic medicine sangat banyak pasiennya tidak hanya Wanita, namun saat ini pria pun melakukan perawatan demi memperbaiki atau menjaga penampilan. Penampilan saat ini tetap masih dinilai (dari mata turun ke hati), orang yang terjaga penampilannya, cenderung lebih sehat lebih sukses, luar terjaga dalam biasanya terawat pula, beberapa industri saat ini dengan adanya percepatan dunia digital (social media, youtube dll) diperlukan penampilan yang hasil perawatan bukan editan belaka, kulit sebagai organ terluar, sebaiknya dirawat karena terlihat oleh orang sebagai salah satu fungsi pergaulan dan menunjang karir kita juga, terang Reza.

Pria kelahiran Jakarta ini bergabung di BRIN dengan melalui berbagai tahap seleksi, tes tertulis, ujian wawancara, pelatihan dan bergabung sebagai Peneliti Kontrak selama 5 tahun. Saat ini beliau berada di Pusat Riset Kedokteran Praklinis dan Klinis, tentunya beliau sangat senang dapat bergabung di BRIN karena banyak mendapatkan peluang, kesempatan diberikan pendanaan hibah, mendapatkan banyak teman-teman tim peneliti yang hebat, meskipun ada sedikit dukanya karena sebagai Lembaga baru BRIN masih banyak persiapan misalnya lab riset uji klinis yang belum ada, beberapa fasilitas yang masih belum memadai.

Dalam kesehariannya dokter Reza bertugas sebagai peneliti di BRIN dalam mengembangkan inovasi hasil bangsa sendiri salah satunya paten, " Paten kami berupa sel punca atau stemcell yang bisa menjadi tulang rawan, meregenerasi kulit, menjadi organ yang kelak bisa ditransplantasikan bagi orang sakit atau pasien yang memerlukan, Saya juga masih membimbing tim riset melakukan penelitian, mahasiswa S1 hingga menjadi kopromotor S3 di Biomedik FKUI, almamater saya sambil berkolaborasi dengan peneliti-peneliti BRIN, ujarnya.

Salah satunya adalah riset pengembangan bahan alam herbal dari tumbuhan untuk bahan baku kosmetik maupun obat yang saat ini kemandiriannya di Indonesia masih sangat rendah, kita masih bergantung pada impor dari negara lain 70-95 persen, masih minim hasil inovasi yang ter hilirisasi oleh industri bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia, tambah Reza.

Selain itu dokter Reza juga aktif sebagai Pengurus Ikatan Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sebagai divisi diaspora, " Kami membuat beberapa webinar mengundang para diaspora untuk sharing kepada calon-calon dokter muda untuk mempunyai wawasan bisa bekerja di luar negeri, apa saja kelebihannya, keuntungannya, bagaimana cara apply, cara survive dan sukses sebagai diaspora serta berbagi ilmu dan diskusi kolaborasi riset maupun inovasi bagaimana memajukan bangsa Indonesia khususnya di bidang Kesehatan,terang Reza.

Reza juga menambahkan seharusnya Diaspora dapat mengambil kesempatan untuk membaktikan diri kepada negeri sendiri meskipun posisi di luar negeri, mereka harus mampu menciptakan semangat kolaborasi, jangan hanya bekerja sama sebatas MOU atau ilmiah publikasi saja tapi ciptakan produk-produk hasil riset yang terus diinovasi bekerjasama dengan luar negeri. Di luar negeri dana riset jauh lebih besar dengan fasilitas lebih jauh memadai, Saya siap bantu jika diperlukan mengingat saat ini sedang membuka 3 perusahaan di layanan kesehatan, konsultasi R&D dan insya Allah industri, ungkap Reza.

Diaspora Indonesia yang berjumlah sekitar delapan juta orang dan tersebar di berbagai wilayah di dunia merupakan aset sekaligus kekuatan ekonomi sebuah negara. Remitasi, transfer ilmu pengetahuan dan teknologi, serta peranan agensi dalam diplomasi ekonomi merupakan potensi diaspora yang bisa dikembangkan.

Dokter Reza juga terdaftar dalam berbagai platform telemedicine di bidang biomedicine stem cells herbal kosmetik. Dia juga aktif membantu konsultasi edukasi kesehatan di HaloDoc, Kimia Farma, Good Doctor, dan sebagainya.

Kepada generasi muda khusus bagi diaspora yang ingin bergabung di BRIN Reza berpesan, mari kita berkolaborasi bersama, membangun bangsa kita tercinta, negara dengan populasi terbesar ke 4 (empat) di dunia, namun masih belum merdeka atau memerlukan peningkatan ketahanan di bidang penyediaan hasil-hasil penelitian maupun inovasi dan teknologi khususnya di bidang Kesehatan. Supaya saat misalkan ada pandemic Kembali, atau wabah penyakit tidak sampai mempersulit menghambat pembangunan nasional yang sedang berlangsung menuju Indonesia Maju 2045.

Teknologi semakin membuat segalanya terbuka termasuk hal-hal yang perlu dipelajari dalam merintis karier. Bahkan hingga kini, ia mengaku masih terus belajar terkait perkembangan teknologi, imbuhnya. (sj)