Generasi Scroll, Bukan Generasi Baca: Bahaya Lemahnya Literasi di Era Digital

Pranata Humas - Anggota Iprahumas Indonesia
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Cely Julianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah gemerlapnya era digital tahun 2026 ini, kita menghadapi sebuah ironi besar yang sering luput dari perhatian: anak muda kita sangat jago menggeser layar (scrolling), namun sangat lemah dalam hal membaca. Literasi membaca sering kali disalahartikan sekadar sebagai kemampuan mengeja huruf atau melafalkan kata demi kata di atas kertas. Padahal, esensi sejatinya jauh lebih dalam.
Literasi membaca adalah kemampuan komprehensif untuk tidak hanya memahami apa yang tertulis, tetapi juga menganalisis, mengevaluasi, dan merefleksikan informasi tersebut secara kritis. Ini adalah keterampilan kognitif tingkat tinggi yang memungkinkan seseorang menyaring banjir informasi yang setiap detik membanjiri lini masa media sosial mereka.
Manfaat dari memiliki literasi membaca yang kuat sangatlah transformatif. Pertama, ia membuka cakrawala berpikir, memungkinkan anak muda memahami perspektif berbeda dari latar belakang budaya atau ideologi yang asing. Kedua, literasi melatih otak untuk berpikir sistematis, logis, dan kritis, yang merupakan modal utama untuk bertahan dan sukses di dunia kerja masa depan. Dengan membaca, kita membangun fondasi karakter, empati, dan kedewasaan intelektual yang tidak bisa digantikan oleh video berdurasi lima belas detik.
Sayangnya, realitas di Indonesia menunjukkan gambaran yang cukup memprihatinkan mengenai kondisi literasi membaca anak muda kita. Berbagai survei internasional secara konsisten menempatkan Indonesia di papan bawah dalam hal indeks literasi membaca global.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Akar permasalahannya sangat kompleks dan multidimensi. Pertama, kita sedang terjebak dalam budaya instan yang dipupuk oleh algoritma media sosial. Konten video pendek yang menawarkan dopamin cepat jauh lebih menarik bagi otak muda dibandingkan harus bersabar merangkai makna dari sebuah paragraf teks yang panjang. Kedua, sistem pendidikan kita, meskipun sudah banyak mengalami perbaikan, masih sering kali berorientasi pada hafalan dan pengejaran nilai ujian, bukan pada penumbuhan rasa cinta dan kebiasaan membaca untuk pemahaman mendalam.
Buku di sekolah sering kali dianggap sebagai beban, bukan jendela dunia. Ketiga, faktor lingkungan memegang peranan yang sangat krusial. Minimnya akses terhadap perpustakaan yang nyaman dan koleksi buku yang berkualitas, ditambah dengan kurangnya keteladanan dari orang dewasa di sekitar mereka, membuat kebiasaan membaca tidak pernah tumbuh secara organik. Ketika lingkungan rumah lebih sering diisi dengan pandangan tertuju pada gawai, anak muda akan tumbuh dengan asumsi bahwa membaca adalah aktivitas yang membosankan dan tidak relevan.
Dampak dari lemahnya literasi membaca ini bukanlah hal yang bisa dianggap remeh, karena ia memiliki konsekuensi nyata yang sangat berbahaya bagi kesehatan demokrasi dan sosial kita. Ketika seseorang tidak terbiasa membaca secara utuh dan kritis, mereka kehilangan kemampuan untuk membedakan antara fakta yang terverifikasi dan opini yang bersifat subjektif, atau bahkan hoaks yang sengaja dibuat untuk menyesatkan.
Anak muda yang lemah literasinya cenderung menjadi konsumen informasi yang pasif dan reaktif. Mereka mudah sekali terpancing emosi oleh judul berita yang provokatif (clickbait) tanpa pernah repot-repot membaca isi berita tersebut hingga tuntas. Kondisi inilah yang kemudian menjadi lahan subur bagi tumbuh kembangnya buzzer negatif dan pasukan siber yang tidak bertanggung jawab. Para buzzer ini dengan mudah memanipulasi narasi, menyebarkan kebencian, dan mengadu domba masyarakat karena tahu betul bahwa target mereka adalah generasi yang malas membaca dan lebih mengandalkan emosi daripada nalar.
Akibatnya, ruang publik kita menjadi penuh dengan polusi informasi. Generasi muda yang seharusnya menjadi agen perubahan, justru tanpa sadar menjadi alat penyebar kebohongan yang merusak kohesi sosial bangsa hanya karena mereka tidak memiliki benteng literasi yang memadai di dalam pikiran mereka.
Lebih jauh lagi, dampak dari rendahnya literasi membaca ini merembes ke berbagai aspek kehidupan lainnya yang saling berkaitan erat. Literasi membaca adalah fondasi utama bagi jenis literasi lainnya, seperti literasi digital, literasi finansial, hingga literasi sains. Tanpa kemampuan membaca yang baik, mustahil seseorang bisa memahami syarat dan ketentuan yang rumit di aplikasi digital, mengelola keuangan pribadi dengan bijak, atau memahami isu-isu perubahan iklim yang membutuhkan pemahaman data yang mendalam.
Selain itu, lemahnya literasi juga berdampak pada menurunnya kualitas diskusi publik dan daya nalar bangsa. Diskusi yang seharusnya berbasis data dan argumen yang kuat, berubah menjadi adu teriak dan serang-menyerang secara personal di kolom komentar. Kita juga kehilangan kekayaan empati. Membaca karya sastra atau tulisan mendalam tentang kehidupan orang lain melatih kita untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain, sebuah keterampilan yang semakin langka di era yang semakin individualistik ini. Jika kita terus membiarkan generasi muda kita tenggelam dalam ketidaktahuan yang dangkal, kita sedang mempersiapkan masa depan di mana inovasi akan mandek dan bangsa ini akan sulit bersaing di panggung global yang menuntut sumber daya manusia dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Namun, bukan berarti kita harus pesimis. Masalah yang besar ini masih bisa kita atasi jika ada kemauan kolektif untuk melakukan perubahan nyata dari berbagai lapisan masyarakat. Solusinya harus dimulai dari hal yang paling sederhana namun konsisten: membiasakan membaca setidaknya lima belas hingga tiga puluh menit setiap hari, bukan hanya teks ringan, tetapi juga buku atau artikel yang menantang pikiran.
Di lingkungan sekolah, paradigma pengajaran harus bergeser dari sekadar mengejar target kurikulum menjadi menciptakan ekosistem literasi yang menyenangkan, misalnya melalui program diskusi buku atau metode pembelajaran berbasis proyek yang mengharuskan siswa mencari dan mengolah informasi dari berbagai sumber bacaan. Peran pemerintah dan platform digital juga sangat krusial; diperlukan regulasi yang lebih tegas untuk membatasi penyebaran konten sampah dan hoaks, serta insentif untuk mempromosikan konten edukatif yang berkualitas.
Yang paling mendasar, perubahan harus dimulai dari rumah. Orang tua dan figur dewasa harus menjadi teladan dengan mengurangi waktu di depan gawai dan memperbanyak interaksi berbasis bacaan bersama anak-anak mereka. Literasi membaca bukanlah bakat yang dibawa sejak lahir, melainkan keterampilan yang dibentuk melalui latihan dan lingkungan yang mendukung. Mari kita jadikan membaca bukan sebagai beban, melainkan sebagai gaya hidup yang membebaskan pikiran, agar generasi muda kita mampu menggerakkan peradaban dengan kekuatan pemikiran yang tajam dan teruji.
