Hakteknas 2021, Momen BPPT dan Konsorsium Siap Terbangkan PUNA Elang Hitam
Tulisan dari Cely Julianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) berawal saat Indonesia berhasil melaksanakan uji terbang pesawat Gatotkaca N-250 untuk pertama kalinya sebagai hasil produksi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN, sekarang PT Dirgantara Indonesia) pada tanggal 10 Agustus 1955. Keberhasilan tersebut merupakan bukti nyata prestasi putra-putri bangsa dalam upaya mengembangkan, menerapkan serta menguasai iptek khususnya dalam bidang kedirgantaraan. Oleh karena itu, sesuai dengan keputusan Presiden RI Nomor 71 Tahun 1995, tanggal 10 Agustus ditetapkan sebagai Hakteknas, Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke 26 Tahun 2021, Badan Pengkajian dan Penerapan BPPT adakan Virtual Open House Konsorsium Puna Male Elang Hitam, Jakarta (10/8).
Kepala BPPT Hammam Riza dalam sambutannya mengatakan PUNA MALE Elang Hitam dibangun bersama-sama dalam sebuah konsorsium nasional dimana BPPT mendapat tugas sebagai Koordinator / Lead Program dalam pembinaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kementerian / Lembaga yang bernaung dalam Konsorsium MALE meliputi: Kementerian Pertahanan, TNI AU, BPPT, LAPAN, ITB, PTDI dan PT LEN sebagai mitra konsorsium Tier 1 dari industry pertahanan.
Hamam menambahkan , Kebutuhan PUNA kelas MALE merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Kondisi lingkungan strategis Republik Indonesia dimana kita merupakan suatu benua maritime berdasarkan UNCLOS 1982 memiliki tanggungjawab keamanan terhadap Alur Laut Kepulauan Indonesia / ALKI, untuk itu harus dapat memberikan pengawasan terhadap jalur laut tersebut yang dilintasi berbagai jenis kapal. Sebagai benua maritime, wilayah laut Indonesia juga menyimpan kerawanan-kerawanan yang dapat berdampakn pada keamanan nasional sekaligus kehilangan potensi pendapatan negara, Ujarnya.
Pengembangan teknologi PUNA MALE Elang Hitam didasari oleh keinginan politik Pemerintah RI yang tertuang dalam beberapa peraturan perundangan seperti UU nomor 16 tahun 2012 yang mengamanatkan kemandirian industry pertahanan, Permen Ristek nomor 38 tahun 2019 yang menetapkan Prioritas Riset Nasional 2020-2024, Perpres nomor 109 tahun 2020 yang menetapkan Program PUNA MALE ELang Hitam sebagai salah satu Program Strategis Nasional, dan Perpres nomor 8 tahun 2021 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara 2020-2024 yang menetapkan PUNA MALE sebagai salah satu program prioritas alat pertahanan, Program PUNA MALE KOMBATAN yang telah menjadi program strategis nasional dan program prioritas nasional berperan sebagai suatu program percontohan atau pilot project untuk melaksanakan Investasi akusisi teknologi untuk Lompatan teknologi.
Program PUNA MALE ini tepat untuk menjadi pilot project karena : (1) bersifat strategis karena memiliki kebutuhan yang sudah pasti, yakni untuk melaksanakan pengamanan kedaulatan NKRI dan juga untuk membangun kemandirian industry pertahanan. (2) Trend perekembangan teknologi global kedapat adalah alutsista akan mengandalkan teknologi sistem tak berawak yang salah satunya adalah teknologi Drone ini, dan yang (3) Teknologi MALE Kombatan ini merupakan teknologi yang mengintegrasikan beberapa teknologi maju sekaligus, diataranya: (a) teknologi tak berawak, (b) teknologi penginderaan dan (c) pengintaian jarak jauh, teknologi senjata dan kedepannya adalah implementasi teknologi kecerdasan buatan (kecerdasan artifisial).
PUNA Male Elang Hitam direncanakan memiliki beberapa fitur, yakni beroperasi otomatis secara penuh, mampu memiliki daya tahan terbang selama minimal 24 jam, mampu melakukan misi pengintaian jarak jauh pada malam hari, mampu melakukan penindakan melalui udara dan mampu berkomunikasi secara lign of sight (LOS) hingga sejauh 200 km dari pusat kendali. Dengan kemampuan MALE kombatan yang dikembangkan tersebut, diharapkan PUNA MALE Elang hitam dapat beroperasi secara efektif dan efisien untuk menjadi alat pertahanan nasional, ujar Hammam.
Sementara itu pada kesempatan yang sama Deputi Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa (TIRBR) BPPT Wahyu Widodo Pandoe mengatakan , Pertama kalinya Indonesia akan memiliki Drone yang dibuat oleh industri dalam negeri. Drone / Pesawat Udara nir Awak (PUNA) jenis ‘Medium Altitude Long Endurance’ (MALE) Kombatan BPPT, sudah di Roll Out di PT. DI Jawa Barat, tahun 2019. Indonesia kini diyakini mampu mandiri dalam memproduksi alutsista, melalui peran teknologi dan inovasi di era revolusi industri 4.0.
Pemerintah memang berupaya untuk mendorong pengimplementasian teknologi dalam segala sektor, termasuk bidang pertahanan.Sebagai institusi pemerintah yang berfokus pada bidang kaji terap teknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pun turut ambil bagian dalam mensukseskan cita-cita pemerintah.Inovasi dalam bidang pertahanan ini dihadirkan melalui pengembangan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) atau Drone, tipe Medium Altitude Long Endurance (MALE) atau disebut PUNA MALE. Wahana yang diyakini mampu terbang tanpa henti selama 24 jam ini memiliki pengendalian multiple UAV secara bersamaan (simultan).
Inisiasi pengembangan PUNA MALE telah dimulai oleh Balitbang Kemhan sejak 2015 dengan melibatkan TNI, Ditjen Pothan Kemhan, BPPT, ITB, dan PT Dirgantara Indonesia (Persero), dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) telah sukses memproduksi PUNA MALE yang mampu terbang terus menerus selama 24 Jam, percepatan program pengembangan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) atau Drone, tipe Medium Altitude Long Endurance (MALE) atau disebut PUNA MALE ini ditargetkan pada tahun 2022 nanti bisa mendapatkan sertifikasi tipe produk militer PUNA tipe MALE ini rencananya akan dipersenjatai rudal dan mampu terbang selama 24 jam nonstop dengan ketinggian jelajah hingga 23.000 ft.
Diharapkan Puna Elang Hitam ini dapat menghemat devisa nasional sehingga banyak nilai tambah dari proses desain, manufakturing yang dapat diserap ke dalam negeri. Disamping penghematan pada pengadaan PUNA Elang Hitam, penguasaan desain dan rancang bangun PUNA Elang Hitam makan akan menumbuhkan industri pesawat nir-awak serta industri komponen/pendukung lainnya, seperti motor listrik servo, landing gear, yang sesuai agar PUNA Elang Hitam dapat terus beroperasi secara berkelanjutan.

